
Pengalaman Jirayut Terjebak Konflik Saat Mudik ke Thailand
Jirayut sempat membagikan pengalamannya yang terjebak dalam konflik saat mudik ke Thailand. Peristiwa ini membuatnya kembali mengingat tentang kewajibannya sebagai warga negara Thailand yang harus menjalani wajib militer atau yang biasa disebut dengan wamil.
Pada Idulfitri tahun ini, Jirayut memutuskan untuk pulang kampung ke Thailand. Sayangnya, perjalanan mudiknya justru berujung pada situasi yang menegangkan. Selama satu jam, mobil yang ditumpanginya terpaksa berhenti karena adanya konflik antar warga yang menyebabkan perjalanan terganggu. Diceritakan Jirayut, ia bahkan mendengar suara tembakan dan helikopter yang berputar-putar di udara.
Itu kejadiannya pas besoknya itu mau Idulfitri, iya malam takbiran lah kalau di sini. Ada tembakan dan bom meledak, di daerahku, Su-ngai Padi, kata Jirayut saat menjadi bintang tamu acara Pagi Pagi Ambyar Trans TV.
Jirayut mengaku tidak tahu pasti akar permasalahan konflik yang sering terjadi di wilayah rumahnya. Namun yang pasti, konflik tersebut sering muncul menjelang hari-hari besar seperti tahun baru dan Idulfitri. Ia juga menyebut bahwa konflik itu seolah tak pernah benar-benar usai, hanya berhenti sejenak, lalu kembali lagi di kemudian hari.
Padahal, konflik yang tak berujung ini justru merugikan banyak pihak, termasuk dirinya sendiri yang ingin merayakan lebaran dengan nyaman bersama keluarga.
Di sana itu sudah jadi hal yang biasa sebenarnya. Daerah selatan itu memang ada konflik, aku juga heran kok gak kelar-kelar, setiap aku pulang, ada aja. Kita gak bisa turun dari mobil, ujar Jirayut.
Karena polisi itu lagi (patroli), helikopter itu lagi terbang di atas. Aku hampir satu jam di mobil. Kalau ada konflik itu memang orang gak boleh turun dari mobil, sampai polisi bilang sudah aman, tambahnya.
Ketika momen situasi menegangkan itu diunggah Jirayut lewat media sosialnya, ia banyak mendapatkan respon dari public figure Indonesia. Tak sedikit dari mereka yang ikut khawatir dengan kondisi Jirayut. Beberapa netizen juga meminta Jirayut untuk tidak pulang ke kampung halamannya yang dianggap tidak aman. Namun, meskipun begitu, Jirayut tetap menegaskan bahwa ia ingin selalu pulang ke kampung tempat ia dilahirkan.
Sejak aku lahir itu memang sudah ada konflik. Iya aku sudah biasa, orang sana itu kalau dengar itu, ini petasan atau bom sih? gitu. Sekarang gak ada rasa takut, selain itu, daerah itu ya my home ya, ngapain takut, toh kita akan balik ke situ, kata Jirayut.
Ia juga menjelaskan bahwa ledakan yang terjadi tidak terjadi di tempat yang ramai, sehingga tidak ada korban jiwa. Ledakan itu memang di tempat yang gak ada orangnya, memang bukan untuk bunuh orang, saya juga gak tau untuk apa. Mungkin ada perkumpulan yang memang tidak setuju sama peraturan ini dan itu, ada perkumpulannya. Aku gak tau itu warga sipil atau pemerintah, ujarnya dengan rasa bingung.
Wajib Militer di Thailand
Bicara soal konflik kedaerahan di Thailand, Jirayut langsung teringat dengan kewajibannya sebagai laki-laki Thailand yang seharusnya mengikuti wamil alias wajib militer. Seperti di Korea, wamil juga berlaku di negara Gajah Putih ini.
Wamil di Thailand menjadi kewajiban konstitusional bagi laki-laki Thailand yang telah berusia 21-27 tahun. Proses penunjukkan wamil di Thailand terbilang unik, yakni menggunakan sistem undian, yang biasanya dilakukan pada bulan April. Warga negara laki-laki yang memenuhi syarat usia, bahkan termasuk transgender, akan diundi menggunakan kartu atau bola berwarna merah dan hitam. Merah artinya harus mengikuti wamil selama 1-2 tahun, sementara warna hitam berarti bebas tugas.
Sementara itu, tahun ini Jirayut sudah berusia 25 tahun, dan sepertinya masih menikmati masa-masa kejayaan karirnya di Indonesia. Setiap kali pulang ke Thailand, Jirayut selalu menyebut jika pendaftaran untuk wajib militer di negaranya sudah ditutup.
Udah Ayut di sini aja, kan banyak yang sayang Ayut di sini, daripada balik ke sana, nanti wajib militer! celetuk Rian Ibram saat memandu acara Pagi Pagi Ambyar.
Eh, udah wamil belum sih? tanya Rian penasaran.
Belum, kan tunggu giliran, jawab Jirayut sambil malu-malu.