Ini kondisi tanah ambles di Jakarta, area utara jadi perhatian

admin.aiotrade 20 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Ini kondisi tanah ambles di Jakarta, area utara jadi perhatian

Penurunan Tanah di Jakarta dan Wilayah Sekitarnya

Laju penurunan tanah atau tanah ambles di sekitar cekungan air tanah (CAT) wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai melandai, meskipun masih ada beberapa area yang laju amblesannya tetap tinggi. Kepala Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Badan Geologi, Taat Setiawan, menyatakan bahwa pergerakan amblesan tanah pada periode 2015 hingga 2023 di Jakarta berkisar antara 0,05 hingga 5,17 sentimeter per tahun. Ia menambahkan bahwa daerah Jakarta Utara masih mengalami penurunan tanah dengan laju yang cukup tinggi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Lokasi-lokasi yang tercatat mengalami amblesan di Jakarta Utara mencakup wilayah Kapuk, Teluknaga, dan Penjaringan. Sistem penentuan posisi global (GPS) yang dipasang secara permanen di kantor BKAT Jalan Tongkol, Jakarta Utara, sempat menunjukkan laju penurunan tanah di utara Jakarta sebesar 1 sentimeter per tahun. Namun, data pengukuran sejak 2010 menunjukkan bahwa grafik penurunan tanah tersebut mulai melandai.

Menurut Taat, penurunan tanah yang semakin melandai lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya. Dengan pengukuran serupa, tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dipimpin oleh Hasanuddin Zainal Abidin, pernah mencatat penurunan tanah di Jakarta berkisar antara 1 hingga 10 sentimeter, bahkan ada wilayah yang mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun pada periode 1997 hingga 2005.

Faktor Penyebab Penurunan Tanah

Beberapa faktor memicu penurunan tanah, seperti aspek tektonik, pembebanan dari bangunan gedung, alasan geologi, serta akibat pengambilan air tanah. Berbagai faktor ini ditemukan dari lokasi-lokasi pengukuran. Selain itu, ketebalan lapisan lempung yang ada di bawah permukaan tanah juga menjadi salah satu penyebab.

Pemakaian air tanah disinyalir sebagai pemicu utama penurunan tanah di Jakarta. BKAT Badan Geologi menemukan bahwa penggunaan air tanah berkurang pada 2009 hingga 2010 setelah Jakarta menaikkan pajak air tanah. Cakupan perpipaan juga semakin luas, sehingga mengurangi kebutuhan masyarakat terhadap air tanah.

Perizinan penggunaan air tanah juga diperketat. Jika zona air tanah di suatu lokasi rusak, apalagi jika diperparah oleh adanya amblesan, izin penggunaan air tidak akan diterbitkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral serta regulator Jakarta.

“Kami juga melakukan pengawasan ke lapangan,” ujar Taat. Otoritas melakukan inspeksi terhadap perkantoran dan lokasi usaha yang diduga belum menggunakan air perpipaan dan berpotensi mengambil air tanah tanpa izin.

Penurunan Tanah di Wilayah Lain di Pulau Jawa

Tidak hanya di Jakarta, Badan Geologi mencatat sejumlah daerah di Pulau Jawa mengalami penurunan tanah atau tanah ambles lebih dari lima sentimeter per tahun. Fenomena ini tidak hanya terjadi di pesisir, tetapi juga di dataran tinggi seperti Bandung. Di Jakarta Utara, situasi yang sama terjadi, serta beberapa daerah di Semarang, yakni Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe. Selain itu, daerah Sayung di Demak, pesisir Pekalongan, serta Surabaya bagian timur dan utara juga mengalami hal yang sama.

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa penurunan tanah disebabkan oleh faktor geologi seperti sedimen atau endapan berumur muda dan tanah lunak. Seperti Taat, ia juga menyebutkan soal eksploitasi air tanah secara berlebihan, serta beban urbanisasi yang masif.

Dikombinasikan dengan kenaikan muka laut akibat pemanasan global, lanjut Lana, penurunan tanah yang terjadi berpotensi melahirkan risiko genangan, termasuk banjir rob secara permanen. Dampak lainnya adalah kerusakan infrastruktur dan bangunan, serta menurunnya kualitas hidup dan lingkungan terkait masalah kesehatan dan sanitasi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan