
Perundingan Maraton AS-Iran di Pakistan Berakhir Tanpa Kesepakatan
Perundingan maraton antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan akhirnya berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun. Proses negosiasi ini, yang digelar pada Minggu (12/4), gagal mencapai titik temu karena beberapa isu krusial yang tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak.
Salah satu poin utama kegagalan adalah penolakan AS untuk membahas isu Lebanon dalam paket kesepakatan dengan Iran. Selain itu, sengketa terkait pengelolaan jalur minyak Selat Hormuz juga menjadi hambatan besar. Kegagalan ini memicu kembali hubungan antara kedua negara menuju fase ketegangan tinggi, terutama dalam hal pengawasan aktivitas nuklir Teheran.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa negosiasi di Islamabad menemui jalan buntu setelah Washington memberikan "tawaran terakhir dan terbaik" (final and best offer). Ia menjelaskan bahwa upaya maksimal telah dilakukan, tetapi tidak berhasil menciptakan kemajuan apapun.
Lebanon Jadi Tumbal Perundingan?
Menurut sumber diplomatik Pakistan yang diwawancarai The New Arab, salah satu penyebab utama kegagalan perundingan adalah sikap keras delegasi AS terkait konflik di Lebanon. AS secara tegas menolak untuk memasukkan isu Lebanon ke dalam paket kesepakatan dengan Iran.
Pejabat senior AS seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner dilaporkan bersikeras memisahkan isu Lebanon dari negosiasi nuklir. Strategi ini dilihat sebagai upaya Washington untuk memberikan keleluasaan penuh kepada Israel dalam menangani Lebanon, baik melalui jalur militer maupun politik, tanpa campur tangan kesepakatan internasional.
Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi Iran, mengingat kedekatan ideologis dan dukungan mereka terhadap Hizbullah. Iran sulit melepaskan Lebanon dari meja perundingan regional.
Sengketa Jalur Minyak Dunia
Selain isu Lebanon, status Selat Hormuz kembali memanas. Jalur air yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima pasokan minyak dunia tersebut menjadi titik sengketa. Washington mendesak pembukaan jalur tersebut segera tanpa memberikan peran signifikan bagi Iran dalam pengelolaannya, sebuah tuntutan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pihak Teheran.
Di sisi lain, JD Vance menegaskan bahwa inti masalah tetap berada pada komitmen nuklir. "Kebenaran sederhananya adalah kami butuh komitmen teguh bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, tidak hanya untuk dua tahun ke depan, tapi untuk jangka panjang," tegas Vance.
Diplomasi Menit Terakhir
Suasana tegang menyelimuti kepulangan kedua delegasi. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersama jajaran petinggi militer bahkan sempat mengantar JD Vance hingga ke pintu pesawat di Bandara Nur Khan demi melakukan diskusi menit-menit terakhir (last-minute discussion).
Namun, upaya mediasi Pakistan tampaknya belum cukup kuat. Tak lama setelah pesawat AS lepas landas, delegasi Iran yang dikawal ketat oleh dua pesawat keamanan juga meninggalkan lokasi perundingan untuk kembali ke Teheran.
Gagalnya pertemuan Islamabad ini diprediksi akan meningkatkan tensi ketegangan di Timur Tengah, terutama di wilayah perbatasan Lebanon dan jalur logistik energi global.