Ini Penyebab Rupiah Kembali Tertekan Lawan Dolar AS

admin.aiotrade 12 Nov 2025 2 menit 18x dilihat
Ini Penyebab Rupiah Kembali Tertekan Lawan Dolar AS

Rupiah Kembali Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS

Pada perdagangan Rabu (12/11/2025), nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan. Bahkan, rupiah sempat menembus level Rp16.722 per dolar Amerika Serikat (AS). Hingga pukul 14.52 WIB, rupiah melemah sebesar 0,13% menjadi Rp16.715 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah masih dalam batas wajar, mengingat tren penguatan dolar AS yang terus berlanjut sejak awal pekan. "Pelemahan rupiah ini wajar karena dolar terus menguat. Dari hari Senin sudah terlihat tren pelemahan, dan itu masih berlanjut," ujar Ibrahim.

Salah satu sentimen eksternal yang memengaruhi pasar adalah pernyataan Jaksa Agung AS yang menyebut perang dagang yang dijalankan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara bersifat inkonstitusional. Menurut Ibrahim, pernyataan tersebut bisa berdampak panjang karena kemungkinan baru akan diputuskan pada awal 2026. Hal ini menambah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.

Selain itu, penghentian sementara atau shutdown pemerintahan federal AS yang berlangsung hingga 41 hari juga menekan pasar. Meskipun pemerintahan AS diperkirakan kembali beroperasi pada Kamis (13/11/2025), rilis data tenaga kerja AS yang diproyeksikan menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran justru memperkuat dolar. "Data pengangguran yang naik bisa membuat dolar semakin kuat, karena pasar melihat tekanan ekonomi AS akan tetap tinggi," kata Ibrahim.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga memperburuk sentimen pasar global. "Rusia terus melakukan ekspansi wilayah dan serangan sporadis, sementara negara-negara Barat masih memberi sanksi ekonomi. Ini menambah tekanan pada aset berisiko seperti rupiah," ujarnya.

Kondisi Ekonomi Dalam Negeri Masih Stabil

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup baik, tercermin dari data keyakinan konsumen, neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di 5,04%. Namun, hal tersebut belum cukup kuat menopang nilai tukar.

"Bank Indonesia sudah berupaya maksimal melakukan intervensi di pasar domestik dan internasional, tapi penguatan indeks dolar masih terlalu kuat. Karena itu, pelemahan rupiah belum bisa sepenuhnya tertahan," jelas Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah hingga akhir pekan ini, seiring dengan rilis data tenaga kerja AS. Ia juga menilai Bank Indonesia dan pemerintah perlu terus berkoordinasi menjaga stabilitas nilai tukar.

"BI harus tetap intervensi di pasar, sementara pemerintah bisa memperkuat kebijakan fiskal dan stimulus ekonomi agar sentimen tetap terjaga," imbuhnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan