Ini rekomendasi saham perusahaan yang aktif gunakan kredit bank

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Ini rekomendasi saham perusahaan yang aktif gunakan kredit bank


JAKARTA – Di penghujung tahun 2025, sejumlah perusahaan tercatat aktif mencari pendanaan melalui fasilitas kredit atau pinjaman perbankan. Langkah ini dilakukan untuk mendukung berbagai kegiatan usaha dan anak perusahaan yang terkait.

Salah satu contohnya adalah PT ABM Investama Tbk (ABMM), yang melalui anak usahanya, PT Cipta Kridatama, memperoleh fasilitas kredit sindikasi dari beberapa lembaga keuangan perbankan dengan nilai ekuivalen Rp 4,2 triliun. Fasilitas ini juga menyertakan opsi akordeon senilai Rp 1 triliun. Nilai kredit ini setara dengan 36,03% ekuitas perusahaan berdasarkan laporan keuangan per kuartal III-2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui anak usahanya, PT Borneo Indobara (BIB), mendapatkan fasilitas term loan dari Bank Mandiri dengan limit hingga Rp 900 miliar. Jangka waktu pinjaman ini berkisar antara 5 hingga 7 tahun sejak penandatanganan perjanjian. Tujuan utamanya adalah untuk memenuhi cashflow gap dalam rangka pengembangan usaha serta kebutuhan umum perusahaan dan grupnya.

Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), yaitu PT Satria Raksa Buminusa (SRB), juga memperoleh pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 1,28 triliun. Anak usaha MEDC lainnya, PT Medco LNG Indonesia (MLI), bertindak sebagai pemberi jaminan.

Sementara itu, PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) mendapat perpanjangan fasilitas pinjaman dari PT CIMB Niaga Tbk dengan total limit Rp 300 miliar dan jangka waktu 12 bulan. Fasilitas ini digunakan untuk menunjang kegiatan usaha perusahaan.

Pada akhir November 2025, anak usaha PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT), yaitu PT Fastel Sarana Indonesia (FSI), memperoleh fasilitas kredit angsuran berjangka senilai Rp 100 miliar dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Dana ini digunakan untuk mendukung pertumbuhan belanja modal dengan jangka waktu 18 bulan.

Ada pula PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang memperoleh fasilitas kredit dengan plafon sebesar Rp 200 miliar untuk jangka waktu 1 tahun.

Menurut Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, tren penurunan suku bunga acuan membuat pinjaman atau kredit perbankan menjadi lebih menarik bagi emiten dan anak usahanya. Meskipun pinjaman perbankan memerlukan pembayaran pokok dan bunga setiap bulan, diversifikasi utang menjadi alasan utama mengapa emiten lebih memilih pinjaman daripada sumber pendanaan lainnya.

Di samping itu, likuiditas perbankan yang meningkat dan penurunan suku bunga acuan membuat opsi fasilitas kredit semakin menarik. Investor seperti Edvisor Provina Visindo Indy Naila menilai bahwa aksi penarikan pinjaman tersebut merupakan persiapan emiten untuk ekspansi pada 2026. Dana dari fasilitas ini biasanya digunakan untuk modal kerja dan proyek, atau bahkan untuk refinancing.

Nico menambahkan bahwa tren penggunaan fasilitas pinjaman akan terus berlanjut di 2026. Selain didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga, banyak emiten juga melakukan ekspansi sehingga membutuhkan instrumen pendanaan yang mudah diakses.

Namun, Nico juga menyarankan emiten untuk waspada terhadap risiko peningkatan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity). Jika pinjaman digunakan untuk ekspansi, maka perlu dihitung durasi waktu yang dibutuhkan agar ekspansi tersebut dapat meningkatkan pendapatan.

Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menegaskan bahwa investor perlu memperhatikan risiko kenaikan DER pada emiten yang aktif mengambil pinjaman. Arus kas perusahaan juga harus diperhatikan untuk melihat kemampuan mereka dalam menghadapi utang yang meningkat.

Dari sejumlah emiten yang aktif mengambil pinjaman, Harry merekomendasikan beli saham MEDC dan FILM dengan target harga masing-masing Rp 1.600 per saham dan Rp 13.500 per saham. Indy juga menyarankan beli saham MEDC dengan target harga di level Rp 1.600 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan