Saat terjebak dalam kemacetan, otak manusia secara alami akan mengaktifkan sistem respons untuk menghadapi situasi yang dianggap sebagai ancaman. Hal ini dilakukan agar tubuh siap menghadapi situasi tersebut.
Psikolog Widia S. Sari menjelaskan bahwa meredakan stres akibat kemacetan tidak bergantung pada aktivitas yang dilakukan. “Pilihan aktivitas bukanlah faktor utama. Yang penting adalah intensi dan efeknya terhadap diri kita,” ujar Widia dalam talkshow ‘Rush Hour, Chill Mind’ yang diselenggarakan oleh aiotrade di Taman Literasi Blok M, Jakarta, Jumat (7/11).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Widia memberikan contoh, seperti mendengarkan musik atau podcast sering dipilih untuk mengurangi stres saat terjebak kemacetan. Namun, aktivitas lain seperti mengeluh atau marah-marah di media sosial juga bisa menjadi pilihan, selama dirasa mampu meredakan stres.
Beberapa survei menunjukkan bahwa 9 dari 10 orang mengakui bahwa uang memengaruhi kebahagiaan mereka. Selain itu, meditasi semakin populer sebagai cara untuk mengatasi stres di kota-kota besar. Survei KIC juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi sumber utama informasi kesehatan mental.
Namun, Widia menekankan bahwa kemarahan perlu disalurkan dengan cara yang sehat dan tidak membahayakan diri sendiri. “Ada potensi bahwa setelah marah-marah yang tidak sehat, justru bisa membuat stres bertambah,” katanya.
Selain melakukan hal-hal yang membuat senang, Widia menyarankan untuk melakukan relaksasi sederhana saat terjebak macet, asalkan tetap menjaga kewaspadaan. Aktivitas relaksasi ini bisa berupa mengambil nafas dalam atau teknik deep breathing. Ketika seseorang bisa menyadari dan mengontrol napasnya, tubuhnya akan lebih rileks.
Stres Berlebihan Terjadi Ketika Tubuh Butuh Pertolongan
Secara umum, Widia menyebut ada empat tanda yang mengindikasikan stres berlebihan, yaitu distress, dysfunction, deviance, dan danger. Ketika mengalami empat kondisi tersebut, artinya harus segera mencari pertolongan.
Contoh dari distress adalah ketika seseorang marah berlebihan meski hanya menghadapi kemacetan singkat. Lalu, merasa tidak bahagia meskipun sudah sampai tujuan.
Sementara itu, dysfunction terjadi ketika tekanan stres mengganggu aktivitas sehari-hari hingga menurunkan produktivitas. Kondisi ini bisa berkembang menjadi deviance atau penyimpangan, ditandai dengan munculnya perilaku-perilaku tidak lazim atau perubahan emosi yang drastis.
Terakhir, stres berlebihan bisa mencapai tingkat danger, yang ditandai dengan munculnya perilaku yang membahayakan diri, seperti menyakiti diri sendiri atau perilaku ke arah depresif.
“Empat tanda tadi bisa menjadi patokan untuk menghadapi situasi apa pun,” ujar Widia.