Kekuatan Militer Iran yang Masih Bertahan Meski Menghadapi Serangan Intensif
Ketahanan militer Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel kembali menjadi sorotan. Laporan terbaru dari The New York Times menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kapasitas tempur yang signifikan meskipun menghadapi serangan intensif sejak 28 Februari 2026.
Data intelijen dan militer AS yang dikutip oleh media tersebut menyebutkan bahwa Iran mampu mempertahankan sebagian besar aset militernya. Menurut laporan tersebut, Iran masih mampu mempertahankan sekitar 40 persen dari persenjataan drone-nya meskipun telah mengalami serangan intensif dari AS-Israel.

Surat kabar itu menambahkan: "Iran masih dapat mengakses sekitar 70 persen dari persediaan rudal yang dimilikinya sebelum perang, dan 60 persen dari platform peluncur rudalnya."
"ketika gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat mulai berlaku pada 8 April, Teheran mampu mengakses sekitar setengah dari peluncur rudal balistiknya. Sejak itu, mereka berhasil mengeluarkan 100 peluncur lagi dari bawah tanah, sehingga jumlah total peluncur rudal yang beroperasi mencapai sekitar 60 persen dari total sebelum perang."
Selain landasan peluncuran, surat kabar itu mencatat kalau "Iran juga berupaya untuk mengeluarkan persediaan rudal apa pun yang terkubur di bawah reruntuhan serangan Amerika dan Israel." Para pejabat intelijen AS meyakini kalau "Setelah ini (serangan AS-Israel) selesai, Teheran akan memiliki persediaan rudal yang diperkirakan sekitar 70 persen dari persediaan sebelum perang."
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan logistik dan sistem penyimpanan bawah tanah Iran masih efektif dalam menjaga daya tahan militernya.
Strategi Drone Shahed Jadi Andalan
Iran memfokuskan perhatian pada sejumlah besar drone tipe Shahed, yaitu pesawat bunuh diri yang diluncurkan dalam jumlah besar untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya, dan lebih sulit dideteksi daripada rudal balistik konvensional.
Pendekatan ini dinilai sebagai strategi asimetris, mengandalkan kuantitas dan efektivitas biaya untuk mengimbangi kekuatan militer konvensional lawan.
Pernyataan Mojtaba Khamenei Soal Kesiapan Tempur

Mojtaba Khamenei, yang mulai tampil ke publik pasca wafatnya Ali Khamenei, menegaskan kesiapan Iran menghadapi tekanan militer.
Seperti drone Iran yang menyerang cepat, angkatan laut kami juga siap memberikan kekalahan baru kepada musuh, tegas Mojtaba dalam kanal resmi pemerintah.
Ia menambahkan bahwa angkatan laut Iran saat ini mampu memberikan kekalahan pahit bagi pihak manapun yang mencoba mengganggu kedaulatan negara tersebut.
Mojtaba Khamenei juga mengungkapkan bahwa ketangguhan Iran tidak hanya bertumpu pada persenjataan. Ada tiga poin utama yang menjadi fondasi kekuatan mereka:
- Keterlibatan rakyat dianggap sebagai pelindung utama militer
- Koordinasi antara Angkatan Darat dan Islamic Revolutionary Guard Corps semakin terintegrasi
- Penggunaan drone presisi memberikan keunggulan taktis
Kekuatan militer kami berdiri kokoh dengan dukungan rakyat dan mampu memberikan respons tegas terhadap agresi, ujarnya, mengutip dari Free Press Journal.
Klaim Trump: Iran Disebut Melemah
Di sisi lain, Donald Trump menyampaikan penilaian yang jauh berbeda. Dalam keterangannya, Trump justru meremehkan kekuatan pertahanan Iran yang dianggapnya sudah jauh berkurang. Kekuatan militer Iran disebut telah melemah secara signifikan. Trump mengklaim bahwa armada laut Iran telah mengalami kehancuran yang parah akibat konflik sebelumnya.
Namun, pihak Iran membantah narasi tersebut dengan memuji keberanian Angkatan Darat mereka yang berhasil bertahan dalam apa yang mereka sebut sebagai perang yang dipaksakan selama 40 hari terakhir.
Benarkah Klaim Trump Hanya Omon-omon?
Jika dibandingkan secara data, terdapat kontradiksi tajam antara klaim politik dan temuan intelijen:
-
Ketahanan Aset Militer
Data intelijen: Iran masih punya ~70% stok rudal
Klaim Trump: kekuatan sudah melemah signifikan
Ini menunjukkan pelemahan memang terjadi, tetapi belum sampai melumpuhkan. -
Kapasitas Peluncur
Iran masih mengoperasikan sekitar 60% peluncur
Bahkan mampu mengaktifkan kembali 100 peluncur dari bawah tanah
Artinya, infrastruktur militer Iran masih sangat resilien. -
Strategi Perang Modern
Penggunaan drone Shahed memperkuat taktik swarm (serangan massal)
Lebih murah, sulit dideteksi, dan efektif menekan pertahanan
Ini menjadi equalizer melawan teknologi Barat.
Klaim Donald Trump kemungkinan bersifat overstatement politis untuk membangun persepsi kemenangan. Secara faktual, data intelijen menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan tempur yang substansial dan belum dapat dianggap lumpuh.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa: * Iran tetap mengalami kerusakan signifikan * Kapasitasnya menurun, meski tidak kolaps * Narasi dari kedua pihak sama-sama mengandung unsur propaganda
Dimensi Politik dan Efek Deterrence
Sejumlah analis menilai pernyataan Mojtaba sebagai bagian dari strategi daya gentar (deterrence). Dengan menonjolkan kekuatan drone dan pertahanan berlapis, Iran berupaya mengirim pesan kepada dunia bahwa mereka tetap memiliki taring meski di bawah tekanan ekonomi dan militer yang berat.
Langkah ini juga dipandang sebagai instrumen politik untuk: * memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional * menjaga pengaruh di kawasan Timur Tengah * menahan potensi serangan lanjutan dari musuh
Perbedaan narasi antara Washington dan Teheran memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi. Data intelijen memberi gambaran lebih objektif, Iran melemah, tetapi belum tumbang.