
Upaya Pemerangkapan Inflasi di Sumut
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) terus melakukan berbagai langkah intervensi pasar untuk menekan laju inflasi, khususnya pada komoditas pangan utama seperti cabai merah dan beras. Langkah ini menjadi fokus utama dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Upaya ini dibahas dalam Special Talk Show yang diselenggarakan Radio Kardopa bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumut di Studio Kardopa, Jalan Iskandar Muda Medan, Rabu (22/10). Acara ini dihadiri oleh para narasumber yang berkompeten dalam pengelolaan komoditas pangan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Strategi Pengendalian Harga Cabai Merah
Direktur Utama BUMD Aneka Industri dan Jasa (AIJ) Sumut Swangro Lumbanbatu mengungkapkan bahwa penyumbang inflasi terbesar saat ini adalah kenaikan harga cabai yang telah mencapai Rp90 ribu/kilogram. Kenaikan ini disebabkan oleh menurunnya pasokan di pasaran.
Untuk mengatasi hal ini, pihaknya telah mendatangkan cabai dari luar Sumut sebanyak 50 ton. Langkah ini diambil karena stok dari petani lokal sedang terbatas. Swangro menjelaskan bahwa ini bukan berarti membatasi petani kita, tetapi memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggi.
Cabai tersebut akan disalurkan dengan harga intervensi Rp55 ribu/kilogram. Swangro optimistis harga akan berangsur turun ke level normal. Dalam penyalurannya, BUMD akan berkoordinasi dengan Perum Bulog, PD Pasar, serta pihak terkait lainnya.
“Untuk 50 ton ini, kami akan melibatkan pedagang dalam distribusi kepada masyarakat, dan bersama-sama melakukan pengawasan agar harga tetap terkendali,” tegasnya.
Stabilitas Harga Beras di Sumut
Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Sumut Erwin Budiana memastikan ketersediaan beras di Sumut masih aman hingga akhir tahun. Meski harga beras di pasaran masih relatif tinggi, Bulog terus melakukan intervensi dengan menyalurkan Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) seharga Rp11.000 per kilogram.
“Intervensi ini diharapkan menjaga stabilitas harga, terutama menjelang akhir tahun saat permintaan meningkat,” ujar Erwin.
Erwin juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam pengendalian inflasi, termasuk melalui pasar murah berkala. Selain beras dan minyok goreng, Bulog juga berperan dalam pendistribusian cabai hasil kerja sama dengan BUMD.
“Kenaikan harga cabai memang salah satu penyumbang inflasi. Bulog siap membantu distribusi cabai hasil kolaborasi dengan BUMD agar harga tidak melonjak,” tambahnya.
Penyerapan Gabah Petani Lokal
Sepanjang tahun ini, Bulog telah menyerap 36 ribu ton gabah petani lokal untuk menjaga harga di tingkat petani tetap stabil dan tidak merugi. Ke depan, Bulog akan terus melakukan penyerapan selama masa panen berlangsung guna menjamin ketersediaan beras dan komoditas lainnya.
Selain itu, Erwin turut mengajak UMKM dan koperasi berpartisipasi dalam pendistribusian beras serta Minyakita agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Kolaborasi untuk Menjaga Kestabilan Ekonomi
Pemerintah Provinsi Sumut terus berupaya memastikan kestabilan harga komoditas pangan, baik cabai maupun beras. Dengan kolaborasi antara BUMD, Perum Bulog, dan pihak-pihak terkait, langkah-langkah intervensi diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.