Intip Rahasia Resep Danantara untuk Selamatkan Garuda (GIAA) dengan Utang Rp 138 T

admin.aiotrade 14 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Intip Rahasia Resep Danantara untuk Selamatkan Garuda (GIAA) dengan Utang Rp 138 T

Transformasi Besar-Besaran untuk Kesehatan Garuda Indonesia

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia sedang melakukan transformasi besar-besaran untuk kembali menyehatkan maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Maskapai plat merah ini memiliki utang yang sangat besar, mencapai US$ 8,28 miliar atau setara dengan Rp 138,49 triliun. Selain itu, Garuda juga membukukan kerugian sebesar US$ 182,53 juta atau sekitar Rp 3,05 triliun hingga kuartal ketiga tahun 2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah menyetujui rencana penyertaan modal senilai Rp 23,67 triliun oleh PT Danantara Asset Management (DAM). Danantara juga memastikan bahwa proses restrukturisasi GIAA tidak akan menimbulkan beban fiskal baru terhadap negara.

Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, mengatakan bahwa jika restrukturisasi tidak dilakukan pada tahun ini, maka tahun depan Garuda akan menghadapi kesulitan yang lebih besar. Ia menekankan pentingnya bantuan segera untuk memperbaiki kondisi perusahaan.

Garuda telah menjalani beberapa aksi korporasi, seperti pendanaan langsung untuk operasional, skema pembayaran utang bahan bakar, dan penyertaan aset berupa lahan dari anak usaha mereka, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).

Masalah Pesawat yang Tidak Bisa Terbang

Febry menjelaskan bahwa banyak pesawat Garuda Indonesia yang terpaksa dihentikan atau grounded karena belum menjalani perawatan. Kondisi ini menekan kinerja perseroan dalam enam bulan terakhir. Selain itu, pesawat yang grounded membuat Garuda kehilangan pendapatan. Biaya sewa dan beban tetap terus berjalan meskipun pesawat tidak bisa terbang.

“Setiap hari kita mengalami penundaan, maka semakin besar lubang yang harus ditutup,” kata dia. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah melakukan perawatan armada agar pesawat dapat kembali beroperasi.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa lebih banyak lagi pesawat Citilink yang berada dalam kondisi grounded. Oleh karena itu, prioritas utama saat ini adalah menyelesaikan perawatan armada.

Pada tahap awal, Danantara memberikan pinjaman pemegang saham atau shareholder loan senilai US$ 405 juta atau setara Rp 6,65 triliun. Dana ini dialokasikan untuk kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda, namun penggunaannya tetap berada di bawah pengawasan Danantara.

Febri menegaskan bahwa komitmen Garuda adalah menggunakan dana tersebut khusus untuk kebutuhan perawatan pesawat. Ia berharap armada Garuda dapat segera memenuhi seluruh persyaratan perawatan dan kembali beroperasi.

“Itu kalau ditunda, malah tahun depan takutnya udah enggak bisa. Karena bolongnya sudah besar banget, jadi sebagian besar uangnya sebenarnya untuk itu,” kata dia.

Ia pun berharap seluruh langkah ini dapat mengembalikan neraca keuangan Garuda Indonesia secara konsolidasian secara positif. Garuda Indonesia akan sulit beroperasi secara normal jika terus menerus mencatatkan kinerja keuangan negatif.

Langkah Ke depan

“Langkah setelah Danantara masuk itu bukan hanya sekedar kasih uang. Ini kami akan monitor dan kami akan bekerja bersama dengan team manajemen Garuda,” kata Febri.

Direktur Utama GIAA, Glenny Kairupan, sebelumnya mengatakan bahwa persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan pemulihan dan transformasi perseroan. Dukungan dari DAM sebagai bagian dari inisiatif pemerintah mencerminkan kepercayaan terhadap arah strategis dan visi jangka panjang mereka dalam mewujudkan maskapai nasional yang sehat, tangguh, dan berkelas dunia.

Glenny menjelaskan bahwa sekitar Rp8,7 triliun atau 37% dari total suntikan modal akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja GIAA, termasuk pemeliharaan dan perawatan pesawat. Sementara itu, Rp14,9 triliun atau 63% akan digunakan untuk mendukung operasional Citilink, yang terdiri atas Rp11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021.

Penyertaan modal akan dilakukan melalui penerbitan 315,61 miliar lembar saham Seri D dengan harga pelaksanaan Rp 75 per lembar saham, sebagaimana telah disetujui dalam RUPSLB. Glenny mengatakan bahwa angka ini juga memastikan keberlanjutan pencatatan saham GIAA di Bursa Efek Indonesia (BEI), serta memperkuat posisi keuangan perusahaan untuk mendukung akselerasi transformasi jangka panjang.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan