
Aliran Dana Asing dan Pergerakan IHSG
Pasar saham Indonesia terus menjadi perhatian investor, baik domestik maupun asing. Pada pekan lalu, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, aliran dana asing tercatat masuk ke pasar saham. Data RTI menunjukkan bahwa asing memasuki pasar reguler sebesar Rp 600,82 miliar dan seluruh pasar sebesar Rp 4,84 triliun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar sebesar Rp 6,33 triliun di pasar SBN dan Rp 1,39 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada pekan kedua November 2025. Namun, BI juga mencatat aliran dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 3,92 triliun di pasar saham.
Dalam enam bulan terakhir, aliran dana asing masuk sebesar Rp 16,18 triliun di seluruh pasar, dengan kenaikan IHSG sebesar 22,52%. Meskipun sejak awal tahun aliran dana asing keluar sebesar Rp 34,68 triliun di seluruh pasar, IHSG tetap naik sebesar 18,23% year to date (YTD).
Proyeksi Pergerakan IHSG
CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengatakan bahwa aliran dana asing yang keluar dari SBN mulai beralih ke pasar saham. Namun, ia memperkirakan bahwa net sell asing akan terus terjadi hingga akhir Desember 2025, meskipun tidak masif. Hal ini disebabkan oleh aksi profit taking di sisa tahun 2025 setelah IHSG sering kali mencetak rekor all time high (ATH), serta mengecilnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed di Desember 2025.
Praska menyebutkan bahwa kinerja emiten-emiten yang memiliki daya tarik secara fundamental jangka panjang dan sektor bisnis yang sedang naik daun seperti energi, properti, keuangan, dan infrastruktur dapat mengkompensasi net sell secara YTD.
Jika aliran dana asing kembali masuk dan mencatat net buy masif, IHSG bisa kembali mencetak rekor baru. Namun, proyeksinya IHSG mulai rawan profit taking setelah tembus level 8.400 beberapa waktu lalu. Meskipun demikian, Praska memproyeksikan IHSG hingga akhir tahun akan berada di level 8.000, yakni dengan kisaran 8.100 – 8.200.
Pandangan dari Managing Director Samuel Sekuritas
Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa net sell yang masih besar secara YTD membuat peluang potensi pembalikan menjadi net buy asing terbatas di akhir tahun nanti. Risiko net sell kembali juga tetap ada, terutama jika volatilitas global meningkat, seperti data inflasi AS yang lebih panas atau terjadi profit-taking setelah reli kuat di beberapa saham berkapitalisasi pasar besar.
Secara umum, sentimen sampai akhir tahun masih konstruktif selama likuiditas global membaik dan BI menjaga stabilitas rupiah. Harry menilai bahwa struktur pasar saat ini telah berubah, dengan porsi investor domestik yang lebih dominan.
“Karena itu, IHSG dapat terkoreksi meskipun asing membukukan net buy besar dalam satu sesi,” ujarnya.
Rekomendasi Saham
Menurut Praska, selain sektor perbankan, sektor energi, migas, batubara, infrastruktur, dan barang konsumen non primer masih dilirik oleh investor asing. Untuk saham-saham BUMN, asing tetap melirik sektor bisnis yang prospektif dengan proyeksi kinerja keuangan membaik dalam jangka pendek dan menengah.
Praska merekomendasikan ADRO, BMRI, PGAS, dan MAPI dengan target harga masing-masing Rp 2.100 per saham, Rp 5.000 per saham, Rp 1.850 per saham, dan Rp 1.550 per saham.
Harry pun berpandangan bahwa minat investor asing mulai menyebar ke sektor komunikasi, energi, terutama gas dan downstream oil, serta selective consumer yang menunjukkan perbaikan margin. Dari sisi sentimen, investor asing kini lebih selektif terhadap emiten dengan pertumbuhan pendapatan yang terduga, tata kelola yang kuat, dan likuiditas tinggi.
Harry merekomendasikan beli untuk TLKM, ICBP, dan BBCA dengan target harga masing-masing Rp 3.900 per saham, Rp 12.800 per saham, serta Rp 9.600 per saham.