
Peresmian Pabrik Penyulingan Minyak Kelapa Sawit di Lampung
Pabrik penyulingan minyak kelapa sawit (Lampung Refinery) milik PT. Parcim Nusantara Lestari Foods, bagian dari Cargill Group, telah diresmikan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Peresmian ini dilakukan di Cargill Main Office, Kecamatan Panjang, Bandarlampung, pada Senin (20/10/2025). Pabrik ini menjadi tonggak sejarah baru dalam transformasi ekonomi dan industrialisasi berkelanjutan di Provinsi Lampung.
Peresmian ini bukan hanya sekadar simbol, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk mendorong hilirisasi komoditas kelapa sawit. Dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton per tahun, pabrik ini diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatera dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global Cargill.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyatakan kebanggaannya atas kehadiran investasi global berskala besar di Lampung. “Kami sangat bersyukur Lampung menjadi pilihan strategis Cargill. Ini menegaskan potensi besar Lampung, baik dari sumber daya alam, tenaga kerja, maupun infrastruktur pendukung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran pabrik ini akan memberikan efek berganda, mulai dari peningkatan kesejahteraan petani hingga akselerasi sektor logistik dan transportasi.
Saat ini, sektor pertanian dan perkebunan menyumbang sekitar 30 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung, sedangkan industri pengolahan baru mencapai 19 persen. Pemerintah Provinsi menargetkan peningkatan signifikan pada sektor pengolahan, agar nilai tambah ekonomi daerah meningkat dua kali lipat. “Lampung akan menjadi tujuan utama hilirisasi komoditas pangan nasional, sesuai arahan Presiden,” tambah Gubernur.
Lampung Refinery diyakini memberikan manfaat langsung bagi petani sawit. Dari sekitar 190 ribu hektare lahan kelapa sawit di Lampung, sebagian besar dikelola petani kecil. Kehadiran refinery diharapkan menstabilkan harga sawit, memotivasi replanting, serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Gubernur Mirza juga mengapresiasi komitmen sosial Cargill yang telah dirasakan masyarakat bahkan sebelum pabrik beroperasi penuh, termasuk program pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Penne Kehl, Group President Cargill Agriculture and Trading Business in Asia Pacific, menegaskan bahwa Lampung Refinery merupakan bagian dari komitmen global perusahaan untuk rantai pasok berkelanjutan. “Ini lebih dari sekadar proyek bisnis. Kami ingin memastikan minyak sawit yang diproduksi transparan, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya. Penne menambahkan bahwa Cargill juga fokus pada program sosial yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar, mulai dari pendidikan, gizi, hingga kesadaran lingkungan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui Staf Ahli Menteri Doddy Rahadi, menyatakan pembangunan Lampung Refinery menjadi tonggak penting bagi industri kelapa sawit nasional. Dengan nilai investasi USD 200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun, proyek ini menunjukkan komitmen Cargill terhadap hilirisasi industri nasional. Hilirisasi di sektor ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi jutaan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan lebih dari 16 juta jiwa di Indonesia.
Lampung Refinery juga menjadi contoh penting sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta. Pemerintah Provinsi Lampung telah menyediakan iklim investasi kondusif, memperbaiki infrastruktur, digitalisasi layanan publik, penyederhanaan perizinan, dan perlindungan tenaga kerja lokal. Hal ini diharapkan mendorong sektor industri berdaya saing dan berkelanjutan.
Gubernur Mirza menekankan bahwa proyek ini akan menciptakan efek domino. Dari hulu ke hilir, petani sawit mendapatkan akses pasar lebih luas, industri logistik bergerak, dan sektor transportasi ikut terdongkrak. “Lampung Refinery adalah bukti nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan investor global. Semoga pabrik ini membawa berkah, meningkatkan ekonomi daerah, serta menjadi simbol industri hijau di Bumi Ruwa Jurai,” ujarnya.
Investasi global seperti Cargill di Lampung diharapkan menjadi magnet bagi investor lain untuk menanamkan modalnya di Provinsi Lampung, memperluas kapasitas industri pengolahan, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Lampung Refinery bukan sekadar pabrik, tetapi simbol transformasi ekonomi berkelanjutan yang mengedepankan nilai sosial, lingkungan, dan keberpihakan kepada masyarakat lokal.