Investasi Tiongkok ke Indonesia Menurun, Harga Nikel Jadi Penyebabnya

admin.aiotrade 22 Okt 2025 4 menit 13x dilihat
Investasi Tiongkok ke Indonesia Menurun, Harga Nikel Jadi Penyebabnya


Indonesia mengalami penurunan realisasi investasi dari Tiongkok pada kuartal IV-2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi (BKPM), realisasi investasi Tiongkok pada 2024 mencapai angka US$8,1 miliar, sedangkan pada triwulan III tahun ini hanya sekitar US$5,4 miliar.

Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), komitmen investasi dari Tiongkok terbilang besar, tetapi realisasinya lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Salah satu penyebab penurunan ini adalah menurunnya harga nikel yang membuat fase booming investasi nikel semakin meredup.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Penurunan harga nikel dan lemahnya permintaan domestik Tiongkok memicu penurunan investasi,” ujar Bhima dalam keterangan yang diterima aiotrade, Rabu (22/10/2025).

Untuk membalik tren yang mulai turun, menurut Bhima, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Kementerian ESDM harus segera menawarkan proyek energi terbarukan. Salah satunya adalah pembangunan industri baterai dan komponen domestik untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Selain itu, Muhammad Zulfikar Rakhmat, Direktur riset China-Indonesia di CELIOS, juga menyoroti pergeseran minat investor Tiongkok di Indonesia. Setelah industri nikel redup dan tidak kompetitif lagi, investor Tiongkok mulai melirik sektor lain yang dinilai lebih potensial dan dapat mendorong hilirisasi energi hijau nasional.

“Pada pertengahan tahun ini, Tiongkok berkomitmen untuk investasi teknologi pengolahan sawit sebesar US$9 miliar,” jelasnya. Selain itu, ada beberapa komitmen proyek hijau lainnya seperti pembangunan solar panel di Jawa Barat.

“Ya, meskipun kita tetap harus mendorong agar proyek-proyek hijau tidak dioperasikan menggunakan energi kotor,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yeta Purnama, Peneliti CELIOS, menegaskan bahwa pemerintah perlu memanfaatkan momentum pergeseran investasi ini untuk membangun ekosistem industri hijau yang benar-benar berkelanjutan dan berkeadilan.

“Jika fase booming nikel berakhir, Indonesia harus siap melakukan reposisi strategi industrinya. Artinya, bukan hanya bergeser ke sektor hijau secara simbolik, tetapi memastikan rantai pasoknya transparan, perlahan-lahan bebas batu bara, dan memberi nilai tambah di dalam negeri,” tutup Yeta.

CELIOS menilai kerja sama Indonesia-Tiongkok berpotensi menjadi katalis penting bagi transformasi energi nasional, asalkan kebijakan industri, pendanaan hijau, dan tata kelola proyek dapat berjalan secara konsisten dan akuntabel.

Tantangan dan Peluang Investasi Hijau

Investasi hijau di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu isu utamanya adalah ketergantungan pada energi fosil, termasuk batu bara. Meskipun ada komitmen dari investor Tiongkok untuk membangun proyek energi terbarukan, hal ini perlu didukung oleh kebijakan yang lebih ketat dan transparan.

  • Dalam rangka memperkuat ekosistem industri hijau, pemerintah perlu memastikan bahwa proyek-proyek tersebut tidak hanya berbasis teknologi ramah lingkungan, tetapi juga memiliki dampak sosial yang positif.
  • Selain itu, perlu adanya regulasi yang membatasi penggunaan energi kotor dalam proyek-proyek hijau. Hal ini akan membantu menjaga kualitas lingkungan dan memenuhi standar internasional.
  • Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan lembaga penelitian sangat penting untuk memastikan bahwa proyek-proyek hijau dapat berjalan secara berkelanjutan dan efisien.

Peran Tiongkok dalam Transformasi Energi Nasional

Tiongkok memiliki peran penting dalam transformasi energi nasional Indonesia. Sejumlah proyek investasi yang dilakukan oleh perusahaan Tiongkok telah menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan energi terbarukan.

  • Proyek teknologi pengolahan sawit sebesar US$9 miliar adalah salah satu contoh nyata dari investasi Tiongkok di sektor hijau.
  • Selain itu, pembangunan instalasi tenaga surya di Jawa Barat juga menunjukkan potensi besar dari kerja sama antara dua negara ini.
  • Namun, untuk memastikan keberhasilan proyek-proyek ini, diperlukan koordinasi yang baik antara pihak-pihak terkait, termasuk pemangku kebijakan, pelaku usaha, dan masyarakat setempat.

Langkah Strategis untuk Masa Depan Energi

Masa depan energi di Indonesia akan bergantung pada seberapa cepat dan seberapa baik pemerintah mampu mengadaptasi diri terhadap perubahan global. Beberapa langkah strategis perlu diambil:

  • Mengembangkan infrastruktur energi terbarukan yang lebih luas dan efisien.
  • Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang energi hijau.
  • Membangun sistem regulasi yang mendukung inovasi dan pengembangan teknologi hijau.
  • Menjalin kerja sama yang lebih kuat dengan negara-negara mitra, termasuk Tiongkok, untuk saling mendukung dalam pengembangan energi berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat memastikan bahwa transformasi energi tidak hanya menjadi mimpi, tetapi juga menjadi kenyataan yang berdampak positif bagi rakyat dan lingkungan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan