Investor asing ragu genjot investasi impor sapi perah untuk MBG, apa sebabnya?

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Investor asing ragu genjot investasi impor sapi perah untuk MBG, apa sebabnya?

Pemerintah Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mencapai target impor sapi perah sebanyak satu juta ekor hingga akhir 2029. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala, termasuk keterbatasan pasokan dari negara asal dan sikap hati-hati dari investor asing yang masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kinerja dan produktivitas sapi perah yang telah diimpor.

Menurut data Kementerian Pertanian, hingga Juli 2025, total jumlah sapi bakalan impor yang masuk ke Indonesia baru mencapai 25.097 ekor. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar dari Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menjelaskan bahwa para investor asing belum melanjutkan investasi mereka karena masih mengevaluasi bagaimana peternak lokal merawat sapi perah yang sudah diimpor.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Investor asing ingin melihat bagaimana perlakuan peternak lokal terhadap sapi perah yang sudah diimpor. Mereka masih mengamati secara dekat kondisi aktual dan hasil produksinya,” ujar Merrijantij kepada sumber berita.

Merrijantij menilai bahwa peningkatan populasi sapi perah menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan susu segar, khususnya untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, sekitar 80% kebutuhan susu nasional masih bergantung pada impor, atau setara dengan sekitar 4 juta ton per tahun.

Namun demikian, realisasi impor sapi perah diperkirakan tetap terbatas dalam waktu dekat. Kementerian Pertanian mencatat bahwa sapi perah impor yang masuk hingga Juli 2025 berasal dari Australia, Selandia Baru, Meksiko, Amerika Serikat, dan Brasil. Pasokan dari negara-negara tersebut kini juga semakin terbatas.

“Impor satu juta ekor sapi perah memang akan berproses hingga akhir 2029, karena alokasi sapi perah untuk dikapalkan ke Indonesia saat ini sudah habis,” ujarnya.

Selain untuk mendukung program MBG, penambahan populasi sapi perah juga dinilai penting untuk mengantisipasi potensi kenaikan konsumsi susu nasional. Saat ini, konsumsi susu per kapita Indonesia baru mencapai 17,76 liter per tahun, jauh di bawah Vietnam yang mencapai 37,21 liter, Malaysia 42,49 liter, dan Singapura 46,1 liter per tahun.

Merrijantij menilai permintaan susu segar akan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin peduli kesehatan. Kondisi tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan gizi nasional.

“Untuk meningkatkan kontribusi peternak sapi perah domestik sekaligus menurunkan impor, penguatan rantai pasok susu segar menjadi kunci utama,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan bahwa volume impor sapi perah hidup pada tahun ini diperkirakan tidak akan mencapai target 200.000 ekor. Menurutnya, investor peternakan sapi perah asing baru akan mulai merealisasikan investasi paling cepat pada akhir 2025.

Sudaryono menambahkan, pencapaian target impor sapi perah sangat bergantung pada keberhasilan implementasi program Makan Bergizi Gratis. Pemerintah menargetkan impor sapi perah hidup mencapai sekitar 1,3 juta ekor hingga 2029.

“Saya meyakini target impor 200.000 ekor per tahun baru bisa tercapai tahun depan, seiring berjalannya program MBG secara penuh. Itu yang akan memicu investor merealisasikan rencananya, karena mereka tidak bisa gegabah,” kata Sudaryono di Gedung DPR.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan