Investor Kebut Lapis Dua, Ini Prospek Indeks LQ45

admin.aiotrade 09 Okt 2025 4 menit 14x dilihat
Investor Kebut Lapis Dua, Ini Prospek Indeks LQ45


Perkembangan Indeks LQ45 dan Tantangan yang Dihadapi

Indeks LQ45, yang dikenal sebagai daftar kumpulan saham paling likuid di bursa efek Indonesia, mengalami penurunan performa dalam beberapa waktu terakhir. Sejak awal tahun hingga Kamis (9/10/2025), indeks ini tercatat melemah sebesar 4,43%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kinerja indeks lain seperti IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid yang masing-masing menguat 28,36% dan 12,28% YtD. Bahkan, IHSG, indeks gabungan, telah menguat sebesar 15,18% sepanjang tahun ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut analis dari Panin Sekuritas, Cliff Nathaniel, laju indeks LQ45 saat ini sedang terbebani oleh emiten-emiten perbankan. Hal ini disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan daya beli masyarakat yang relatif lemah. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya biaya dana atau cost of fund (CoF) perbankan, sehingga menekan margin bunga bersih (NIM) dan profitabilitas perbankan.

Selain itu, investor asing tampak lebih memilih menjual saham-saham perbankan besar. Beberapa contohnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Dari awal tahun hingga saat ini, asing telah melepas saham BBCA sebesar Rp 30,97 triliun, BMRI senilai Rp 17,02 triliun, BBNI sebesar Rp 4,46 triliun, dan BBRI sebesar Rp 1,43 triliun.

Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga turut memperlambat laju indeks LQ45. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan bisnis yang melambat dan adanya tekanan kompetisi.

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, sepakat dengan pendapat tersebut. Menurutnya, saat ini investor lebih menggandrungi saham lapis dua seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). Kelima saham ini menjadi penopang laju IHSG sehingga membuatnya melesat lebih cepat dibandingkan indeks LQ45.

Harry juga menilai bahwa tanpa kelima saham tersebut, IHSG masih berada di level sekitar 7.270, turun sekitar 11% dari posisi saat ini.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Menurut Harry, aksi jual asing di sektor perbankan masih akan berlanjut akibat pelemahan rupiah dan kinerja 8 bulan pertama mereka tahun ini. Hasil 8M25 perbankan belum menunjukkan perbaikan di margin bunga (NIM).

Wafi menambahkan bahwa tekanan asing bisa berlanjut ke sektor lain jika dolar Amerika Serikat terus menguat dan rotasi investor ke saham lapis dua terus berlanjut. Namun, investor tetap dapat berharap potensi terjadinya aksi window dressing dan melorotnya yield obligasi. Selain itu, sentimen positif juga bisa datang dari pelonggaran moneter domestik dan laporan kinerja keuangan emiten kuartal III yang ditaksir mulai stabil.

Sementara itu, Harry menilai saham sektor komoditas emas masih dapat diandalkan seiring terus pecahnya rekor harga emas. Ia melihat saham-saham gold-related seperti BRMS dan ARCI masih akan menguat.

Cliff juga menimpali bahwa saham perbankan masih cukup atraktif karena didukung sejumlah faktor. Salah satunya adalah rencana DPR yang ingin menaikkan free float saham menjadi minimal 30% secara bertahap. Hal ini dilihat akan membuat investor berpikir untuk beralih ke saham perbankan atau emiten berfundamental kuat.

Di sisi lain, optimisme akan injeksi dana Rp 200 triliun terhadap bank pelat merah juga memberikan harapan penguatan daya beli yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi di sisa tahun ini. Penyaluran kredit dari penempatan dana tersebut juga berjalan cukup lancar, di mana BMRI sudah berhasil menyalurkan 70% dan BBRI sekitar 60-65%.

Rekomendasi Saham dan Target Harga

Harry menempatkan BBCA, TLKM, ICBP, AMRT, dan JPFA sebagai pilihan utama, mengingat mereka cenderung defensif, berfundamental kuat, dan berpotensi memberi kontribusi pada pergerakan IHSG di tengah volatilitas saham laggard.

Target harga yang dia pasang yakni Rp 9.600, Rp 3.900, Rp 12.800, Rp 3.000, dan Rp 2.000 per saham.

Pilihan Wafi juga tidak jauh berbeda. Dia merekomendasikan beli saham BBCA, BMRI, TLKM, dan ASII karena valuasinya telah berada di bawah rata-rata harga historisnya. Target harganya masing-masing ialah Rp 9.000, Rp 6.000, Rp 3.600, dan Rp 6.200.

“Strateginya, akumulasi bertahap di saat koreksi dengan fokus ke saham-saham dengan fundamental solid dan potensi dividen tinggi,” tutupnya.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan