
Euforia IPO Superbank Berdampak pada Saham Grup Emtek
Pengumuman penawaran umum perdana saham (IPO) PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) memicu euforia di pasar modal, terutama bagi dua emiten yang termasuk dalam Grup Emtek, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Surya Cipta Media Tbk (SCMA). Kenaikan harga saham kedua perusahaan ini didorong oleh harapan bahwa transformasi Grup Emtek menuju ekosistem digital dan finansial akan semakin kuat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Analisis dari CGS Sekuritas
Sharon Natasha, analis CGS Sekuritas, menyatakan bahwa kemungkinan besar emiten Grup Emtek akan terus mengalami penguatan seiring debut Superbank di Bursa Efek Indonesia. Ia menilai bahwa IPO Superbank menjadi momentum penting untuk meningkatkan valuasi saham Grup Emtek.
Sharon merekomendasikan investor untuk membeli saham EMTK di level 1.440 dengan target jangka pendek kisaran 1.500–1.530. Jika harga saham EMTK turun di bawah level 1.410, disarankan untuk menjual. Sementara itu, untuk saham SCMA, target harga terdekat adalah level 500.
Pada perdagangan Selasa (16/12), saham EMTK melonjak 8,89% ke level Rp 1.470. Adapun saham SCMA menguat 3,27% ke level Rp 442. Selama masa IPO, SUPA mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 318,69 kali dengan lebih dari 1 juta order.
Peran EMTK sebagai Induk Pemegang Saham
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, menilai EMTK menjadi pihak yang paling diuntungkan dari IPO Superbank. Sebagai induk pemegang saham, kenaikan valuasi Superbank setelah IPO akan memperkuat nilai investasi EMTK.
Keberhasilan IPO ini juga menjadi tanda bahwa transformasi Emtek menuju ekosistem digital dan finansial berjalan sesuai rencana. Hal ini membuat pasar mulai memandang EMTK sebagai saham yang memasuki fase pemulihan valuasi.
“Dengan landasan fundamental yang lebih solid dari sisi ekosistem digital, EMTK layak diperhatikan dengan rekomendasi beli dan target Rp 1.500,” ujar Hendra dalam pernyataannya beberapa waktu lalu.
Profil Superbank dan Struktur Pemegang Saham
Superbank merupakan hasil transformasi dari PT Bank Fama International yang berdiri sejak 1993. Pada awal 2023, bank tersebut resmi berganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, dengan jaringan kantor cabang di Jakarta dan Bandung.
Superbank memasuki fase baru setelah menjadi bagian dari Grup Emtek pada akhir 2021. Langkah tersebut kemudian diikuti masuknya Grab dan Singtel pada awal 2022, serta KakaoBank pada 2023 sebagai bagian dari konsorsium.
Berdasarkan situs resmi Superbank, pemegang saham mayoritas perseroan adalah PT Elang Media Visitama dengan kepemilikan 31,11%. Elang Media Visitama merupakan salah satu lini bisnis Grup Emtek.
Posisi berikutnya ditempati PT Kudo Teknologi Indonesia dengan kepemilikan 19,16%, diikuti GXS Bank Pte. Ltd. sebesar 12%, serta A5-DB Holdings Pte. Ltd. sebesar 1,52%.
Mengacu pada struktur kepemilikan terakhir per 15 Agustus 2025, Eddy K. Sariaatmadja tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir Superbank dengan kepemilikan 21,89%. Eddy juga merupakan pengendali saham EMTK.
Selain itu, terdapat nama Anthony Tan, pendiri Grab, yang tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir dengan kepemilikan 3,7%.
Adapun PT Kudo Teknologi Indonesia merupakan perusahaan online-to-offline (O2O) yang diakuisisi Grab pada 2017 dan kemudian bertransformasi menjadi GrabKios.
Sedangkan GXS Bank merupakan bank digital asal Singapura yang dikendalikan Grab Holdings Inc. dan Singtel. A5-DB Holdings Pte. Ltd. merupakan entitas yang terafiliasi dengan Grab Holdings Limited dan Singtel Alpha Investments Pte. Ltd.