Iran ajukan proposal baru ke AS untuk buka kembali Selat Hormuz dan akhiri konflik

Iran ajukan proposal baru ke AS untuk buka kembali Selat Hormuz dan akhiri konflik
Iran ajukan proposal baru ke AS untuk buka kembali Selat Hormuz dan akhiri konflik

Iran Mengajukan Proposal Baru ke Amerika Serikat

Iran dilaporkan telah mengirimkan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) pada Senin, 27 April 2026. Proposal tersebut disampaikan melalui mediator antara kedua negara, yaitu Pakistan. Laporan media AS seperti Axios menyebut bahwa isi dari proposal ini mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz serta pengakhiran konflik melalui negosiasi nuklir yang ditunda ke tahap berikutnya.

Proposal tersebut juga menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, diperkirakan akan mengadakan pertemuan untuk membahas soal konflik Iran dengan tim keamanan nasional dan kebijakan luar negerinya. Dalam laporan The Jerusalem Post, dikatakan bahwa tuntutan Iran terhadap Trump di tengah kebuntuan negosiasi dan langkah selanjutnya adalah meminta AS mencabut blokade aset-aset Iran yang melintasi Selat Taiwan, satu-satunya pengaruh yang dapat digunakan AS terhadap rezim Iran saat bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan nuklir.

Selain itu, proposal Iran juga mencakup gencatan senjata yang akan diperpanjang untuk jangka waktu lama, atau pihak-pihak yang bertikai akan menyepakati pengakhiran perang secara permanen. Negosiasi nuklir baru akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka dan blokade dicabut.

Pernyataan Trump tentang Blokade

Sebelumnya, pada Minggu, 26 April 2026, Trump memberi sinyal bahwa dia berencana untuk tetap melakukan blokade hingga kesepakatan penuh tercapai dengan Iran. Menurut Trump, blokade Angkatan laut AS akan mencekik ekspor minyak Iran sehingga membuat negara itu menyerah dalam waktu beberapa minggu ke depan.

"Ketika Anda memiliki sejumlah besar minyak yang mengalir melalui sistem Anda. Jika karena alasan apa pun saluran ini ditutup karena Anda tidak dapat memasukkannya ke dalam kontainer atau kapal yang terjadi adalah saluran itu meledak dari dalam. Mereka mengatakan mereka hanya punya waktu sekitar tiga hari sebelum itu terjadi," kata Trump.

"Dan ketika itu meledak, Anda tidak akan pernah bisa membangunnya kembali seperti semula. Itu hanya akan menjadi 50 persen dari keadaan sekarang. Jadi saya pikir mereka berada di bawah tekanan," tambahnya.

Respons Pihak AS

Gedung Putih mengatakan pihaknya telah menerima proposal tersebut, tetapi belum jelas apakah AS bersedia memenuhi tuntutan yang diajukan. Juru bicara Gedung Putih AS Olivia Wales mengatakan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan.

"Ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif dan AS tidak akan bernegosiasi melalui pers. Seperti yang telah dikatakan presiden, Amerika Serikat memegang kendali dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika, dan tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir," ujar dia, dikutip dari Axios.

Hingga saat ini, negosiasi antara Iran dan AS belum menemui titik temu, bahkan semakin memburuk, terutama setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Islamabad, Pakistan. Menurut dua sumber yang mengetahui pertemuan tersebut, Araghchi menjelaskan kepada para mediator Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Qatar bahwa tidak ada konsensus di dalam kepemimpinan Iran mengenai bagaimana menanggapi tuntutan AS yang ingin menangguhkan pengayaan uranium, setidaknya selama satu dekade dan mengeluarkan uranium yang telah diperkaya dari negara tersebut.

Pertemuan di Islamabad

Sementara itu, Gedung Putih telah mengumumkan bahwa utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner akan bertemu dengan Araghchi di Islamabad, Pakistan. Namun, pihak Iran tidak memberikan kepastian. Trump mengatakan, sikap Iran itulah yang menyebabkan dirinya membatalkan perjalanan ke sana.

"Saya rasa tidak ada gunanya mengirim mereka dalam penerbangan 18 jam dalam situasi saat ini. Itu terlalu lama. Kita bisa melakukannya dengan baik melalui telepon. Orang Iran bisa menghubungi kita jika mereka mau. Kita tidak akan melakukan perjalanan hanya untuk duduk di sana," kata Trump.