Iran bingung dengan perubahan ucapan Trump: banyak tweet, banyak bicara

Iran bingung dengan perubahan ucapan Trump: banyak tweet, banyak bicara
Iran bingung dengan perubahan ucapan Trump: banyak tweet, banyak bicara

Iran Mengkritik Perilaku Presiden AS yang Tidak Konsisten

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyampaikan kritik terhadap kebijakan dan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dinilai tidak jelas dan sering berubah-ubah. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara saat ia berbicara kepada awak media di sela-sela Forum Diplomatik Antalya di Turki.

Kritik terhadap Perilaku Trump

Khatibzadeh mengungkapkan bahwa Trump sering menyampaikan pernyataan yang bertentangan dalam satu kesempatan yang sama. Ia mengatakan bahwa sulit untuk memahami maksud presiden ke-45 dan 47 AS tersebut. Saya tidak tahu persis apa yang dia maksud, ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ia juga menyoroti bahwa Trump terlalu banyak berbicara, terutama melalui media sosial seperti Twitter. Menurutnya, perkataan Trump seringkali membingungkan dan tidak konsisten. Terkadang membingungkan, terkadang Anda tahu, kontradiktif, tambahnya.

Penilaian Terhadap Pernyataan Trump

Khatibzadeh menegaskan bahwa masyarakat Amerika sendiri yang harus menilai apakah pernyataan Trump sesuai dengan hukum internasional. Terserah rakyat Amerika untuk memutuskan apakah pernyataan-pernyataan ini konsisten dan sesuai dengan hukum internasional, katanya.

Sikap Iran terhadap Konflik Militer

Dalam kesempatan yang sama, Khatibzadeh menegaskan bahwa Iran tidak ingin terlibat dalam konflik bersenjata. Ia menekankan bahwa perang tidak akan membawa hasil positif bagi siapa pun, tetapi Iran tetap siap membela diri jika diserang. Kami akan berjuang sampai prajurit Iran terakhir, tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa sikap Iran terhadap tekanan dari Washington tidak berubah. Apa yang akan kami lakukan sudah cukup jelas. Kami akan membela (negara) secara heroik dan patriotik... Sebagai peradaban tertua di Bumi, kata Khatibzadeh.

Tanggapan terhadap Tuduhan AS

Ia turut menanggapi tuduhan AS yang menuding Teheran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Khatibzadeh menegaskan bahwa Iran justru berupaya menjaga jalur tersebut tetap aman bagi kapal komersial. Amerika tidak dapat memaksakan kehendak mereka untuk mengepung Iran sementara Iran, dengan niat baik, berusaha memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz, ujarnya.

Menurutnya, Iran sudah berinisiatif membuka jalur aman bagi kapal dagang di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon, disertai syarat adanya koordinasi dengan otoritas maritim Iran. Namun, Khatibzadeh menuding AS-lah yang berupaya menggagalkan langkah tersebut.

Ancaman terhadap Pelanggaran Kesepakatan

Ia juga mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan dapat menimbulkan konsekuensi. Jika ketentuan gencatan senjata dilanggar dan Amerika tidak menghormati komitmen, akan ada konsekuensi bagi mereka, ancam dia.

Penutupan Kembali Selat Hormuz oleh Iran

Baru-baru ini, Iran kembali menutup Selat Hormuz, dengan alasan Amerika Serikat (AS) melanggar janji negosiasi. Penutupan ini dilakukan setelah jalur vital pengiriman minyak itu sempat dibuka oleh Iran, dalam rangka negosiasi dengan AS.

Siaran stasiun televisi pemerintah Iran yang dikutip AFP menyebutkan bahwa Washington tetap melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat, demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Komando militer IRGC juga menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke keadaan semula. Menurut stasiun TV negara Iran IRIB, AS terus melakukan tindakan ilegal di Selat Hormuz, menuding Washington menjalankan pembajakan dan pencurian dengan kedok blokade.

Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata, lanjut kata IRGC. Status Selat Hormuz tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi semula, sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal.

Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut. Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran, tulis Araghchi di X dilansir CNN.

Namun, tak lama usai pengumuman Menlu Araghchi, keterangan berbeda disampaikan pemerintah Iran. Iran menyampaikan kepada para mediator bahwa pembukaan Selat Hormuz masih bersifat terbatas.