Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Global Turun 11 Persen

Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Global Turun 11 Persen
Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Global Turun 11 Persen

Harga Minyak Dunia Turun Signifikan Setelah Selat Hormuz Kembali Dibuka

Harga minyak dunia mengalami penurunan yang signifikan setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Penurunan ini tercatat lebih dari 10 persen, memberikan sedikit kelegaan bagi pasar global yang sebelumnya khawatir akan gangguan pasokan energi.

Pembukaan Jalur Strategis

Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, telah kembali dibuka pada 17 April 2026. Sebanyak 20 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur ini, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut sering kali memicu lonjakan harga minyak.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent turun sebesar 10,48 persen atau US$10,42 menjadi US$88,97 per barel pada perdagangan siang waktu Amerika Serikat. Harga sempat menyentuh level terendah di US$86,09 per barel.

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 12,12 persen atau US$11,48 menjadi US$83,21 per barel, setelah sebelumnya sempat berada di posisi US$80,56 per barel. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak awal April 2026.

Kesepakatan Gencatan Senjata dan Optimisme Pasar

Penurunan harga terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi pasar global yang sebelumnya diliputi ketidakpastian.

Analis Gelber & Associates menilai bahwa pasar kini mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya meningkat tajam akibat konflik geopolitik. Harga minyak pun kembali bergerak menuju kondisi yang lebih stabil seiring normalisasi arus pasokan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Iran telah menyatakan komitmennya untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz. Hal ini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas perdagangan energi global.

Kemajuan Negosiasi AS-Iran

Kemajuan juga dilaporkan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan laporan jurnalis Axios, kedua negara disebut telah mencapai perkembangan dalam pembahasan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik.

Harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah turut menekan harga minyak. Investor menilai peluang tercapainya kesepakatan damai semakin terbuka, meskipun masih terdapat sejumlah kendala dalam pembicaraan, termasuk isu program nuklir Iran.

Donald Trump menyebut bahwa Iran menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. Ia juga menyatakan optimisme bahwa kesepakatan antara kedua negara semakin dekat.

Risiko Geopolitik Masih Ada

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya stabil. Seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa blokade militer terhadap Iran yang melibatkan lebih dari 10.000 personel masih tetap berlangsung.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, mengingatkan bahwa dampak pembukaan Selat Hormuz terhadap pasar Eropa tidak akan langsung terasa. Dibutuhkan waktu sekitar 21 hari bagi pengiriman minyak dari Teluk menuju Rotterdam.

Selain itu, analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai risiko gangguan masih bisa terjadi jika kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi belum tercapai.

Tantangan dan Ketidakpastian

Dengan demikian, meskipun pembukaan Selat Hormuz menjadi sentimen positif, pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dalam jangka pendek.