
Kekuatan Militer Iran Masih Terjaga Meskipun Mengalami Serangan
Beberapa pejabat intelijen dan militer Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Iran masih mempertahankan sebagian besar kekuatan militernya, meskipun sebelumnya diklaim telah lumpuh. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang menyebut pertahanan Iran telah hancur total akibat serangan gabungan AS dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan hasil penilaian intelijen, Iran masih memiliki sekitar 40 persen armada drone sebelum perang. Selain itu, lebih dari 60 persen sistem peluncur rudalnya disebut masih berada dalam kendali Teheran. Penemuan ini menunjukkan bahwa Iran belum sepenuhnya kehilangan kemampuan militer mereka.
Kapasitas Militer Mulai Pulih
Pejabat AS menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata pada 8 April lalu, lebih dari 100 sistem peluncur yang disembunyikan di gua dan bunker telah ditemukan. Hal ini mengindikasikan bahwa Iran sedang aktif memulihkan kapasitas operasional militer mereka. Iran juga dilaporkan berupaya mengambil kembali rudal yang terkubur di bawah reruntuhan akibat serangan terhadap gudang dan fasilitas bawah tanah.
Jika proses pemulihan berjalan lancar, Iran diperkirakan dapat menguasai kembali hingga 70 persen dari total persenjataan sebelum perang. Meski infrastruktur manufaktur senjatanya mengalami kerusakan signifikan, pejabat AS meyakini Iran masih memiliki cukup kekuatan untuk mengancam jalur pelayaran, khususnya di Selat Hormuz.
Strategi Pertahanan Bergeser
Para analis menilai strategi pertahanan Iran kini semakin bergantung pada faktor geografis dan kemampuan asimetris. Selat Hormuz dipandang sebagai elemen kunci dalam strategi tersebut. Mantan pejabat intelijen militer Israel, Danny Citrinowicz, menyatakan bahwa dalam konflik mendatang, penutupan Selat Hormuz kemungkinan akan menjadi langkah pertama Iran.
Meskipun kapal perang AS memiliki kemampuan untuk mencegat ancaman, kapal tanker komersial dinilai lebih rentan karena minim perlindungan. Hal ini menunjukkan bahwa Iran masih bisa mengancam stabilitas perdagangan maritim global.
Dampak Terhadap Ekonomi dan Respons Global
Sementara itu, Rusia turut menyoroti implikasi strategis situasi ini. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyebut Selat Hormuz sebagai "senjata strategis" Iran dengan potensi yang sangat besar. Hingga kini, Iran masih menahan diri dari eskalasi langsung terhadap operasi angkatan laut AS, termasuk blokade yang telah mengganggu perdagangan maritim.
Perdagangan laut sendiri menyumbang sekitar 90 persen aktivitas ekonomi Iran, dengan nilai diperkirakan mencapai 340 juta dolar AS per hari. Namun, dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar aktivitas tersebut dilaporkan terhenti.
Tantangan dan Perspektif Masa Depan
Kemampuan Iran untuk memulihkan kekuatan militer dan mengembalikan jalur pelayaran ke kondisi normal merupakan tantangan besar bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik ini. Meski AS dan sekutunya terus meningkatkan pengawasan dan perlindungan di wilayah Selat Hormuz, ancaman dari sisi Iran tetap menjadi fokus utama.
Dengan pergeseran strategi dan peningkatan kekuatan militer yang terus berlangsung, situasi di kawasan ini akan terus menjadi perhatian internasional. Bagaimana negara-negara lain merespons dan bagaimana Iran melanjutkan strateginya akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah konflik selanjutnya.