Iran kembali buka penerbangan komersial dari Teheran ke Istanbul dan Madinah

Iran kembali buka penerbangan komersial dari Teheran ke Istanbul dan Madinah
Iran kembali buka penerbangan komersial dari Teheran ke Istanbul dan Madinah

Iran Kembali Buka Penerbangan Komersial Setelah 56 Hari Penutupan

Setelah penutupan selama 56 hari, Iran resmi melanjutkan penerbangan komersial dari Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran. Ini menjadi langkah penting dalam pemulihan sektor penerbangan setelah konflik yang berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel.

Rute internasional seperti ke Istanbul, Muscat, dan Madinah kembali dibuka. Penerbangan pertama menuju Istanbul, Muscat, dan Madinah terbang pada Sabtu (25/4/2026), menandai dimulainya kembali aktivitas penerbangan internasional dari ibu kota Iran. Flightradar24 juga mencatat sedikitnya tiga penerbangan menuju Istanbul telah berangkat pada pagi hari, memperkuat laporan pembukaan kembali jalur udara tersebut.

Maskapai nasional Iran, Iran Air, turut mengoperasikan penerbangan perdana dari Teheran menuju Mashhad setelah jeda selama 56 hari. Selain itu, kantor berita IRNA melaporkan bahwa penerbangan tambahan ke Baku, Najaf, Baghdad, dan Doha akan dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.

CEO Perusahaan Bandara dan Navigasi Udara Iran, Mohammad Amirani, menyatakan wilayah timur Iran akan diprioritaskan untuk penerbangan domestik dan transit. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Turkmenistan, Afghanistan, dan Pakistan. Bandara provinsi seperti Mashhad, Zahedan, Kerman, Yazd, dan Birjand juga akan difungsikan sebagai pusat pengaturan lalu lintas udara nasional.

Pembukaan kembali penerbangan ini terjadi setelah Iran membuka sebagian wilayah udaranya di tengah gencatan senjata rapuh dengan AS. Perang antara AS-Israel dan Iran sempat melumpuhkan perjalanan udara internasional selama berminggu-minggu. Sebagian besar wilayah udara Timur Tengah ditutup, membuat puluhan ribu pelancong terjebak dan memicu kekacauan besar dalam lalu lintas penerbangan global.

Banyak negara terpaksa mengoperasikan penerbangan charter untuk mengevakuasi warganya karena penerbangan komersial hampir lumpuh total. Negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab mulai membuka kembali sebagian wilayah udara mereka beberapa hari setelah serangan dimulai pada 28 Februari 2026. Namun, dampak ekonomi masih terus terasa.

Blokade Selat Hormuz yang masih berlangsung memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan bahan bakar jet global. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan Eropa mungkin hanya memiliki sekitar enam minggu cadangan bahan bakar jet. Ia mengatakan pembatalan penerbangan besar-besaran bisa dimulai dalam waktu dekat jika pasokan tidak segera stabil.

Lufthansa Group bahkan mengumumkan akan memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober akibat lonjakan harga minyak dan ancaman kekurangan bahan bakar.

Sementara itu, para utusan Amerika Serikat dilaporkan menuju Pakistan untuk menghidupkan kembali pembicaraan gencatan senjata dengan Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga telah bertemu dengan pimpinan militer dan politik Pakistan di Islamabad untuk membahas kelanjutan proses diplomatik.

Meski gencatan senjata tanpa batas waktu berhasil menghentikan sebagian besar pertempuran, ketegangan regional dan dampak ekonomi global masih jauh dari selesai.