
aiotrade,
JAKARTA Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi kapal komersial dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekati wilayah tersebut akan menjadi target. Penutupan ini terjadi di tengah laporan bahwa sejumlah kapal, termasuk sebuah kapal tanker, menjadi sasaran serangan Iran pada Sabtu (18/4/2026).
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut blokade berkelanjutan oleh Amerika Serikat sebagai alasan utama keputusan tersebut. Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran mengumumkan pembukaan sementara jalur pelayaran penting itu.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Iran tidak dapat memeras Amerika dengan ancaman terkait jalur air tersebut. Selat Hormuz telah efektif diblokir oleh Iran selama hampir dua bulan, yang memicu lonjakan harga energi global.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu, Angkatan Laut IRGC memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman. IRGC menyebut sejumlah kapal sempat melintas di bawah pengawasan mereka sejak Jumat malam, namun jalur kembali ditutup hingga AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi target, demikian pernyataan IRGC.
Sebelumnya, Trump menyatakan blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua negara. Gencatan senjata selama dua pekan yang saat ini berlaku dijadwalkan berakhir pada 22 April.
Pemerintah AS mengklaim telah memaksa 23 kapal untuk berbalik sejak mulai menegakkan blokade pada 13 April. Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata dan menegaskan pembukaan selat tidak akan dilanjutkan selama blokade masih berlangsung.
Terkait negosiasi untuk mengakhiri konflik, SNSC menyatakan proposal baru telah diajukan oleh AS dan saat ini sedang ditinjau serta belum ditanggapi. Perundingan damai sebelumnya yang digelar awal bulan ini berakhir tanpa kesepakatan.
Kami memiliki pembicaraan yang sangat baik. Semuanya berjalan sangat baik, ujar Trump pada Sabtu mengenai perkembangan negosiasi dengan Teheran.
Di lapangan, sejumlah insiden keamanan maritim juga dilaporkan terjadi pada hari yang sama. UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut dua kapal patroli Iran melepaskan tembakan ke arah sebuah tanker di selat tersebut.
Perkembangan Terkini di Selat Hormuz
Beberapa poin penting terkait situasi di Selat Hormuz:
-
Penutupan Selat Hormuz
Iran kembali menutup akses bagi kapal komersial di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global. -
Peringatan dari IRGC
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberi peringatan keras kepada kapal-kapal yang mendekati wilayah tersebut. Mereka menyatakan bahwa setiap kapal yang melanggar akan menjadi target. -
Blokade oleh AS
Amerika Serikat menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sejak 13 April 2026. Blokade ini dinyatakan akan berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua negara. -
Insiden Maritim
Dilaporkan adanya insiden keamanan maritim di Selat Hormuz, termasuk tembakan dari kapal patroli Iran terhadap sebuah tanker. -
Negosiasi Damai
Pihak Iran menyatakan bahwa proposal baru dari AS sedang dalam proses peninjauan. Namun, negosiasi sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Dampak Ekonomi dan Politik
Selat Hormuz adalah jalur vital bagi pasokan energi global. Penutupan dan blokade yang terjadi di wilayah ini berdampak signifikan pada harga minyak dan stabilitas pasar internasional.
Selain itu, situasi ini juga memperburuk ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara terus bersitegang atas isu blokade dan ancaman militer.
Meski begitu, Presiden Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan baik dan optimis tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.
Komentar Internasional
Beberapa negara dan organisasi internasional turut merespons situasi ini. Sejumlah pihak menyerukan agar semua pihak menjaga stabilitas dan menghindari eskalasi konflik.
Namun, tekanan politik dan militer tetap berlanjut, terutama dari pihak AS yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Kesimpulan
Situasi di Selat Hormuz tetap memanas dan berpotensi memicu krisis lebih lanjut. Penutupan jalur pelayaran oleh Iran dan blokade oleh AS menciptakan ketegangan yang sulit diredam.
Negosiasi damai tetap menjadi harapan utama untuk menyelesaikan konflik, meskipun sampai saat ini belum ada hasil konkret.