Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Trump: Mereka Tak Bisa Memeras Kami

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Trump: Mereka Tak Bisa Memeras Kami
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Trump: Mereka Tak Bisa Memeras Kami

Iran Kembali Menutup Selat Hormuz, Trump Mengaku Tak Dapat Dimanipulasi

Pada akhir pekan lalu, Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) menolak menghentikan blokade terhadap kapal yang ingin keluar dan masuk ke Iran. Penutupan ini terjadi setelah berbagai pernyataan dan tindakan dari pihak AS yang dinilai tidak memenuhi harapan Iran dalam hal penghapusan pembatasan perdagangan.

Presiden AS, Donald Trump, merespons penutupan tersebut dengan menyatakan bahwa Iran telah bertindak sedikit gegabah dan tidak mampu memeras AS. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pembicaraan untuk perundingan damai antara kedua negara tetap berjalan baik. Trump juga menekankan bahwa blokade akan dihentikan hanya jika kesepakatan dengan Iran tercapai, termasuk terkait program nuklirnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran akan membuka Selat Hormuz setelah gencatan senjata Israel-Lebanon terjadi. Namun, Trump menegaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi hingga ada kesepakatan resmi antara AS dan Iran. Ia juga menambahkan bahwa dialog antara kedua pihak tetap berjalan baik meskipun situasi geopolitik semakin rumit.

Peran Militer Iran dalam Kontrol Selat Hormuz

Dalam pernyataannya, militer Iran menyatakan bahwa kontrol atas Selat Hormuz kembali seperti semula, di bawah manajemen dan kontrol pasukan bersenjata. Hal ini dilakukan selama blokade AS ke pelabuhan Iran tetap dilakukan. Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa selat tersebut tetap berada di bawah kendali Iran hingga perang sepenuhnya berakhir dan perdamaian jangka panjang tercapai.

Selain itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyampaikan pandangan bahwa Trump sering kali berubah-ubah dalam perkataannya dan terlalu banyak berbicara, terutama melalui media sosial. Ia menilai pernyataan Trump sering kali kontradiktif dan membuat kebingungan.

Iran Tidak Ingin Perang, Tapi Siap Bertahan

Khatibzadeh juga menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan konflik bersenjata. Ia menekankan bahwa perang tidak akan memberikan hasil positif bagi siapa pun, tetapi Iran tetap siap membela diri jika diserang. Kami akan berjuang sampai prajurit Iran terakhir, ujarnya.

Ia juga memastikan bahwa sikap Iran terhadap tekanan dari Washington tidak berubah. Apa yang akan kami lakukan sudah cukup jelas. Kami akan membela (negara) secara heroik dan patriotik, kata Khatibzadeh.

Jaga Keamanan Jalur Selat Hormuz

Wamenlu Iran itu turut menanggapi tuduhan AS yang menuding Teheran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Iran justru berupaya menjaga jalur tersebut tetap aman bagi kapal komersial. Amerika tidak dapat memaksakan kehendak mereka untuk mengepung Iran sementara Iran, dengan niat baik, berusaha memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz, ujarnya.

Menurut dia, Iran sudah berinisiatif membuka jalur aman bagi kapal dagang di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon, disertai syarat adanya koordinasi dengan otoritas maritim Iran. Namun, Khatibzadeh menuding AS-lah yang berupaya menggagalkan langkah tersebut.

Ancaman Konsekuensi Jika Kesepakatan Dilanggar

Ia juga mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan dapat menimbulkan konsekuensi. Jika ketentuan gencatan senjata dilanggar dan Amerika tidak menghormati komitmen, akan ada konsekuensi bagi mereka, ancam dia.