Kondisi Geopolitik di Timur Tengah Memanas
Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah terus menunjukkan peningkatan ketegangan. Iran menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz saat ini "mustahil" dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran, dalam konteks konflik yang masih berlangsung.
Ghalibaf menilai keputusan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh situasi yang semakin tidak kondusif. Menurutnya, pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor utama. Ia menilai tindakan tersebut bersifat terang-terangan dan berdampak luas terhadap stabilitas kawasan.
Dalam unggahan di platform X, Ghalibaf juga menyoroti langkah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tindakan itu dinilai sebagai tekanan besar yang tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga memengaruhi sistem perdagangan global. Bahkan, ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk penyanderaan terhadap ekonomi dunia.
Selain itu, Ghalibaf turut menuding adanya provokasi perang yang dilakukan oleh Israel di berbagai lini. 
Di tengah situasi yang memanas, Iran sebenarnya masih membuka peluang untuk dialog. Namun ia menegaskan bahwa kondisi saat ini belum memungkinkan untuk terciptanya negosiasi yang sehat. Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus, ujarnya mengutip BBC, Kamis (23/4/2026).
Rencana Pembicaraan Damai Tertunda
Sementara itu, rencana pembicaraan damai antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di pekan ini belum juga dimulai. Wakil Presiden AS JD Vance yang disebut akan memimpin delegasi masih berada di dalam negeri.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang sebelumnya akan berakhir. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian menjelaskan bahwa perpanjangan tersebut berlaku tanpa batas waktu. 
Leavitt juga menegaskan bahwa Trump puas dengan blokade angkatan laut terhadap Iran dan menilai posisi Iran saat ini melemah. Saat ini kartu-kartu itu berada di tangan Presiden Trump, katanya. Ketika ditanya kapan konflik akan berakhir, ia menyebut keputusan sepenuhnya berada di tangan Trump. Dia akan melakukannya ketika dia merasa itu demi kepentingan terbaik Amerika Serikat dan rakyat Amerika, tambahnya.
Iran Sita Kapal di Selat Hormuz
Di tengah kebuntuan diplomasi, ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat. Iran bahkan mengumumkan telah menyita dua kapal di jalur strategis tersebut, memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas rute pelayaran global. Tindakan ini menambah tensi di kawasan yang sudah sangat rentan terhadap konflik.