Iran Sebut Trump Tidak Konsisten, Banyak Omong Hingga Terlalu Sering Tweet

Iran Sebut Trump Tidak Konsisten, Banyak Omong Hingga Terlalu Sering Tweet
Iran Sebut Trump Tidak Konsisten, Banyak Omong Hingga Terlalu Sering Tweet

Kritik Iran terhadap Perilaku Trump dan Persiapan Menghadapi Ancaman

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, memberikan komentar mengenai perilaku Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang dinilai sering berubah-ubah dalam pernyataannya. Ia menyebut bahwa Trump sering kali membuat pernyataan yang kontradiktif dan tidak jelas. Hal ini menunjukkan ketidakpastian dalam pendekatan AS terhadap isu-isu internasional.

Khatibzadeh juga mengkritik Trump karena terlalu sering berbicara, khususnya melalui media sosial seperti X (dulunya Twitter). Menurutnya, perkataan Trump bisa membingungkan dan sering kali tidak konsisten dengan hukum internasional. Ia menegaskan bahwa masyarakat Amerika sendiri yang akan menilai apakah pernyataan-pernyataan Trump sesuai dengan aturan global.

Iran Tidak Menginginkan Konflik Bersenjata

Dalam kesempatan yang sama, Khatibzadeh menegaskan bahwa Iran tidak ingin terlibat dalam konflik bersenjata. Ia menilai bahwa perang tidak akan memberikan hasil positif bagi siapa pun. Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tetap siap untuk membela diri jika diserang. "Kami akan berjuang sampai prajurit Iran terakhir," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa sikap Iran terhadap tekanan dari Washington tidak akan berubah. "Apa yang akan kami lakukan sudah cukup jelas. Kami akan membela negara secara heroik dan patriotik," tambahnya. Ia menambahkan bahwa Iran sebagai peradaban tertua di Bumi akan bertindak dengan penuh kebanggaan dan kepercayaan diri.

Persoalan Selat Hormuz

Wamenlu Iran juga merespons tuduhan AS yang menuduh Teheran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Iran justru berusaha menjaga jalur tersebut tetap aman bagi kapal-kapal komersial. "Amerika tidak dapat memaksakan kehendak mereka untuk mengepung Iran sementara Iran, dengan niat baik, berusaha memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz," ujarnya.

Menurut Khatibzadeh, Iran telah berinisiatif membuka jalur aman bagi kapal dagang di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon, dengan syarat adanya koordinasi dengan otoritas maritim Iran. Namun, ia menuding AS-lah yang berupaya menggagalkan langkah tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan dapat menimbulkan konsekuensi.

Penutupan Kembali Selat Hormuz

Komando militer gabungan Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu (18/4/2026) menutup kembali Selat Hormuz, dengan alasan Amerika Serikat (AS) melanggar janji negosiasi. Penutupan ini dilakukan setelah jalur vital pengiriman minyak itu sempat dibuka oleh Iran, dalam rangka negosiasi dengan AS.

Siaran stasiun televisi Pemerintah Iran yang dikutip AFP menyebutkan bahwa Washington tetap melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat, demikian isi pernyataan tersebut.

Komando militer IRGC juga menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke keadaan semula. Menurut stasiun tv negara Iran IRIB, AS terus melakukan tindakan ilegal di Selat Hormuz, menuding Washington menjalankan pembajakan dan pencurian dengan kedok blokade. Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata, lanjut kata IRGC.

Langkah Iran dan Respons Trump

Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut. Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, tulis Araghchi di X.

Merespons hal tersebut, Presiden AS Donald Trump mengucapkan terima kasih dan menyambut baik langkah Iran. Iran baru saja mengumumkan bahwa selat Iran (Hormuz) sepenuhnya terbuka dan siap dilalui secara penuh. Terima kasih! kata Trump di Truth Social.

Namun, ia menambahkan bahwa blokade militer AS di selat selebar 33 kilometer itu tetap berlaku untuk Teheran sampai terjadi kesepakatan final. Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis serta pelayaran penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen, tegas Trump.

Status Selat Hormuz

Menurut laporan Al Jazeera, peluang AS mencabut blokade di Selat Hormuz memang tidak pernah tinggi. Trump melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih besar pada Iran. Sebab, presiden ke-47 AS itu merasa masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, termasuk poin utama memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.