
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tanggapi Blokade oleh Amerika Serikat
Iran telah menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup dan berada di bawah kendali militer. Keputusan ini dianggap sebagai respons terhadap blokade yang terus-menerus diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa situasi di selat tersebut kembali ke "kondisi sebelumnya" setelah AS memperketat pembatasan di jalur air strategis itu.
Pernyataan IRGC yang dirilis pada Sabtu, 1 April 2026, menyatakan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini berada dalam pengelolaan dan pengawasan ketat dari angkatan bersenjata. Pernyataan ini merujuk pada pembatasan yang diberlakukan oleh AS terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari Iran. IRGC menegaskan bahwa kondisi tersebut akan tetap berlangsung hingga AS benar-benar memulihkan kebebasan pergerakan kapal-kapal tersebut.
Beberapa kapal, termasuk sebuah tanker dan kapal kontainer, melaporkan adanya serangan saat melintasi Selat Hormuz. Insiden ini terjadi setelah militer Iran mengklaim bahwa pembatasan di jalur air vital itu kembali diberlakukan dengan alasan "pelanggaran kepercayaan berulang" oleh AS. Pernyataan IRGC muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa selat tersebut "sepenuhnya terbuka" bagi seluruh kapal komersial.
Keputusan tersebut diambil sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, ujar Araghchi melalui platform media sosial X. Pada hari yang sama, pukul 10:30 GMT, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas berhasil melintasi Selat Hormuz. Namun, jumlah kapal yang sama tampaknya memilih untuk berbalik arah setelah mulai meninggalkan Teluk Persia.
Kesepakatan Damai yang Tidak Jelas
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan keraguan terhadap optimisme Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sehari sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik AS-Israel di Iran "sudah sangat dekat". Trump sebelumnya merayakan pembukaan kembali selat tersebut pada Jumat, tetapi ia memperingatkan bahwa blokade AS akan tetap berlangsung sampai Iran menyetujui kesepakatan, termasuk program nuklirnya.
Trump mengatakan kepada wartawan di atas Air Force One bahwa ia tidak akan memperpanjang perjanjian gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada Rabu pekan depan. Ia juga menyatakan bahwa blokade akan terus berlangsung, dan jika perlu, AS akan kembali melakukan serangan udara.
Namun, Iran mengatakan bahwa belum ada tanggal yang disepakati untuk putaran pembicaraan damai berikutnya. Iran menuduh AS "mengkhianati" diplomasi dalam semua negosiasi. Laporan yang saling bertentangan tentang Selat Hormuz dan seberapa besar kebebasan kapal untuk melintasinya, membuat banyak kapal enggan menyeberang, menurut John-Paul Rodrigue, seorang spesialis pelayaran maritim di Universitas Texas A&M.
Kapal-kapal telah mencoba melintasi selat tersebut sejak pengumuman itu, tetapi tampaknya banyak dari mereka kembali karena situasinya tidak jelas, kata Rodrigue kepada Al Jazeera. Ada informasi yang saling bertentangan yang dikeluarkan oleh semua pihak.
Konflik yang Berlanjut
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke Israel serta negara-negara lain di kawasan yang menampung aset militer AS, sebagai bentuk pertahanan diri. Perang tersebut berada dalam kondisi jeda sejak 8 April, setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan.
Washington dan Teheran juga telah menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan lalu untuk mencari perdamaian jangka panjang. Upaya untuk mengadakan pertemuan lanjutan di Islamabad masih terus dilakukan.