Iran Usulkan Perdamaian ke AS, Selat Hormuz Dibuka, Perang Berakhir

Iran Usulkan Perdamaian ke AS, Selat Hormuz Dibuka, Perang Berakhir
Iran Usulkan Perdamaian ke AS, Selat Hormuz Dibuka, Perang Berakhir

Perkembangan Terbaru dalam Negosiasi Nuklir dan Stabilitas Regional

Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi fokus utama setelah munculnya proposal baru yang diajukan oleh Iran melalui mediator Pakistan. Proposal ini bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global, serta mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Axios pada hari Minggu (27/4/2026), langkah ini disebut sebagai bagian dari paket de-eskalasi awal yang dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas di kawasan Timur Tengah. Laporan tersebut merujuk pada seorang pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui pembahasan ini. Meski belum ada kesepakatan resmi, proposal ini menunjukkan adanya kemungkinan kompromi antara kedua pihak.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa fokus utama negaranya adalah keamanan pelayaran. Ia menyampaikan pernyataan bahwa pembicaraan dengan Oman bertujuan untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Araghchi meninggalkan Oman pada malam Minggu setelah melakukan "pembicaraan bilateral" dan menyampaikan apresiasi atas peran Oman sebagai tuan rumah.

Diskusi penting mengenai isu bilateral dan perkembangan regional. Sebagai negara pesisir Hormuz, fokus kami adalah memastikan transit aman yang bermanfaat bagi semua negara tetangga dan dunia, tulisnya di X.

Media AS mengutip seorang pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui masalah ini, mengatakan bahwa Iran telah menawarkan Washington proposal baru untuk mencapai kesepakatan tentang pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Dalam proposal tersebut, negosiasi nuklir akan ditunda ke tahap selanjutnya.

Iran menyampaikan tawaran tersebut melalui perantara Pakistan, seperti yang dilaporkan oleh Axios. Namun, mencapai kesepakatan tentang Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan membuat Trump "tidak memiliki pengaruh nyata untuk membuat Teheran melepaskan persediaan uranium yang diperkaya, dan berkomitmen untuk menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama satu dekade," kata media tersebut.

Selain itu, kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa menteri luar negeri Iran telah tiba di St Petersburg menjelang pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Penerbangan Araghchi menggunakan kode panggilan Minab 168, untuk mengenang anak-anak yang tewas dalam serangan AS-Israel terhadap sebuah sekolah dasar di kota Minab pada tanggal 28 Februari.

Perspektif Internasional dan Dampak Kebijakan

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Iran sedang mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai aktor penting dalam diplomasi internasional, terutama dalam konteks stabilitas regional dan keamanan maritim. Dengan mengajukan proposal baru, Iran berusaha menunjukkan ketertarikannya untuk menyelesaikan konflik secara damai, meskipun masih ada tantangan besar yang harus dihadapi.

Pendekatan yang diambil oleh Iran juga menunjukkan bahwa mereka ingin memperkuat hubungan dengan negara-negara lain, termasuk Rusia dan Pakistan, sebagai bagian dari strategi diplomatik yang lebih luas. Ini bisa menjadi indikasi bahwa Iran sedang mencari aliansi alternatif di tengah ketegangan dengan AS.

Namun, keberhasilan proposal ini sangat bergantung pada respons dari pihak AS dan negara-negara lain yang terlibat. Jika tidak ada kompromi yang signifikan, situasi di kawasan dapat tetap memanas, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan risiko konflik yang lebih besar.