
Banyumas Masih Menghadapi Tantangan Rumah Tidak Layak Huni
Banyumas, yang terletak di Jawa Tengah, masih menghadapi tantangan besar dalam hal ketersediaan rumah layak huni. Meskipun berbagai program perbaikan rumah telah digulirkan, jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) masih mencapai sekitar 70 ribu unit. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat, terutama Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
Dalam agenda roadshow monitoring dan evaluasi kegiatan tahun anggaran 2025, Bupati Sadewo melakukan peninjauan terhadap pembangunan rumah bantuan di Desa Bogangin, Kecamatan Sumpiuh. Desa tersebut menjadi salah satu wilayah yang menerima bantuan RTLH terbanyak dari APBD Kabupaten tahun ini, dengan total 30 unit yang dibangun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sadewo menyampaikan bahwa program RTLH bukan sekadar membangun rumah, tetapi juga bertujuan untuk mengembalikan martabat dan harapan masyarakat kecil. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan donatur.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Banyumas, Sakty Suprabowo, menjelaskan bahwa program RTLH selaras dengan Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Tujuan utama dari program ini adalah menyediakan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Selain itu, program RTLH juga mendukung Trilas Bupati, khususnya poin keenam yang berkaitan dengan percepatan pengentasan kemiskinan. Tahun ini, Pemkab Banyumas mengajukan 5.000 unit bantuan RTLH senilai Rp100 miliar kepada pemerintah pusat.
Realisasi bantuan rumah tahun 2025 berasal dari beragam sumber pendanaan, seperti:
- APBN: 851 unit
- Provinsi: 831 unit
- Kabupaten: 503 unit
- Dana Desa: 358 unit
- Baznas: 65 unit
- CSR Bank Jateng: 23 unit
- Semen Gresik: 243 unit
- Yayasan Buddha Tzu Chi: 500 unit
- Astra Internasional: 165 unit
- CSR lainnya: 10 unit
Sakty menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran bantuan dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Kesejahteraan Keluarga (BKK). Setiap penerima bantuan diberikan rekening khusus, dengan pembagian dana sebagai berikut:
- Rp3 juta untuk upah pekerja
- Rp12 juta untuk material bangunan
Sadewo menegaskan bahwa keberhasilan program RTLH tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Contohnya, dari 500 unit bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi yang awalnya ditujukan untuk seluruh Jawa Tengah, semuanya akhirnya dialokasikan ke Banyumas. Ini menunjukkan bahwa sinergi dan kepedulian dapat menghasilkan dampak nyata.
Ia juga menekankan pentingnya kerja nyata daripada sekadar slogan. "Menjadi kepala daerah atau kepala desa bukan soal visi-misi, tapi bagaimana bekerja sungguh-sungguh agar masyarakat semakin sejahtera," tegasnya.
Selain meninjau RTLH, Sadewo bersama jajaran OPD juga memantau sejumlah proyek strategis, seperti:
- Peningkatan ruas jalan Banyumas - Mandirancan dan Kalisube - Binangun
- Pembangunan Gedung IMP RSUD Banyumas
- Puskesmas Tambak II