Israel Siapkan Rencana Invasi ke Jalur Gaza
Militer Israel dilaporkan sedang mempersiapkan rencana invasi berskala besar ke Jalur Gaza, meskipun saat ini masih berlaku kesepakatan gencatan senjata. Laporan media Haaretz pada Jumat (24/4/2026) menyebutkan bahwa pemerintah Israel mulai merancang narasi pembenaran untuk meluncurkan operasi militer tersebut. Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dinilai ingin mempertahankan perang demi mengamankan kepentingan politik di dalam negeri.
Pemilu Israel Mendatang Jadi Pertimbangan Invasi

Netanyahu dilaporkan akan mengalihkan fokus militernya kembali ke Gaza jika perang dengan Iran dan Lebanon mulai mereda. Keputusan ini diduga berkaitan dengan pemilihan umum Israel yang akan digelar pada Oktober mendatang. Lawan politik Netanyahu belakangan terus mengkritik kegagalan pemerintah dalam meraih kemenangan mutlak atas Hamas di Gaza. Rencana invasi juga mendapat dukungan dari beberapa perwira tinggi militer Israel.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, bahkan telah mendesak pendudukan total di wilayah Gaza. Pihak Israel diduga sedang menunggu Hamas membuat kesalahan untuk menjustifikasi kelanjutan perang.
Serangan Terbaru Israel Tewaskan 13 Orang

Serangan Israel menewaskan 13 warga Palestina di berbagai sudut Gaza pada Jumat. Rangkaian serangan ini menyasar area-area sipil yang berada jauh di luar zona penempatan militer Israel. Salah satu insiden terjadi di kawasan padat penduduk Khan Younis ketika sebuah serangan udara menghantam kendaraan patroli kepolisian setempat. Serangan tersebut menewaskan delapan orang, termasuk petugas kepolisian dan beberapa warga yang kebetulan melintas.
Sementara itu, pesawat tempur Israel juga mengebom sebuah rumah warga di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan, Beit Lahiya. Akibatnya, seorang ibu bersama dua orang anaknya tewas dan enam warga lainnya luka-luka. "Serangan ini merupakan bentuk pembiaran yang mendorong pelanggaran lebih lanjut terhadap institusi sipil yang dilindungi oleh hukum internasional," tutur juru bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza, dilansir Anadolu Agency.
Total 972 Warga Gaza Tewas Sejak Gencatan Senjata

Israel terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang ditengahi oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) sejak Oktober 2025. Otoritas kesehatan setempat melaporkan, total 972 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata disepakati. Pemerintah Israel kerap menyalahkan pihak Hamas yang menolak untuk melucuti persenjataannya. Di sisi lain, kelompok perlawanan Palestina itu menuntut militer Israel untuk menarik diri dari Gaza terlebih dahulu.
Secara total, konflik di Gaza telah menewaskan sedikitnya 72 ribu warga Palestina sejak pertama kali meletus pada Oktober 2023. Serangan Israel juga menyebabkan lebih dari 172 ribu orang luka-luka dan memaksa jutaan warga untuk mengungsi.
Situasi Politik dan Militer di Gaza
Pemilu Israel yang akan digelar pada Oktober mendatang menjadi faktor penting dalam keputusan pemerintah untuk memperkuat posisi militer di Gaza. Netanyahu diperkirakan akan menggunakan situasi ini untuk menunjukkan kekuasaannya sebagai pemimpin negara. Namun, kritik terhadap kebijakan pemerintah terus meningkat, terutama karena dampak konflik yang semakin merugikan rakyat Palestina.
Selain itu, serangan-serangan terhadap warga sipil di Gaza terus meningkat, yang menimbulkan kekhawatiran global tentang pelanggaran hukum internasional. Kementerian Dalam Negeri Gaza mengecam tindakan Israel yang dianggap tidak bertanggung jawab dan mengabaikan perlindungan terhadap penduduk sipil.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik di Gaza tetap menjadi isu sensitif di dunia internasional. Berbagai organisasi internasional dan lembaga bantuan terus mengamati situasi ini dan menyerukan solusi damai serta perlindungan terhadap warga sipil. Namun, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa pihak-pihak terkait siap untuk berunding secara serius.