Israel Melakukan Agresi, 2.500 Warga Lebanon Tewas

Israel Melakukan Agresi, 2.500 Warga Lebanon Tewas

Kenaikan Korban Jiwa Akibat Serangan Israel di Lebanon

Pemerintah Lebanon terus mencatat peningkatan jumlah warganya yang terbunuh akibat agresi Israel. Pada Ahad (26/4/2026), setidaknya sebanyak 13 warga Lebanon tewas dan 30 lainnya mengalami luka-luka terimbas serangan Israel. Dengan korban terbaru, jumlah warga Lebanon yang tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menembus 2.509 orang. Sementara korban luka sebanyak 7.755 orang.

Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah. Sebab saat ini Israel masih menggempur wilayah Lebanon. Pada Ahad, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk wilayah Lebanon selatan. Israel memerintahkan penduduk Lebanon di wilayah terkait untuk meninggalkan tujuh kota yang terletak di luar "zona penyangga" yang diduduki. Kota-kota tersebut berada di utara Sungai Litani dan zona di Lebanon selatan yang diduduki pasukan Israel.

Militer Israel menuding kelompok Hizbullah telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sepuluh hari yang diumumkan pada 16 April 2026. Padahal, meski gencatan senjata telah disetujui, Israel tak menghentikan operasi militernya di Lebanon. Artinya Israel tak mematuhi kesepakatan tersebut.

Dari perspektif kami, yang mewajibkan kami adalah keamanan Israel, keamanan tentara kami, keamanan komunitas kami, kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam rapat kabinet di Yerusalem saat membahas operasi militer Israel di Lebanon, dikutip laman Al Arabiya.


Petugas tanggap darurat bekerja di lokasi serangan Israel di Al-Mazraa di Beirut, Lebanon, pada Rabu (8/4/2026). - (Yara Nardi/Reuters)

Kami bertindak tegas sesuai dengan aturan yang telah kami sepakati dengan Amerika Serikat, dan juga, dengan Lebanon," tambah Netanyahu.

Pada Ahad, kelompok Hizbullah mengatakan bahwa mereka telah menyerang pasukan Israel di Lebanon serta pasukan penyelamat yang datang untuk mengevakuasi mereka. Hizbullah menekankan, mereka tak akan berhenti menyerang pasukan Israel di Lebanon, termasuk kota-kota di Israel utara, selama Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata. Hizbullah menambahkan, mereka tidak akan menunggu diplomasi yang terbukti tidak efektif atau bergantung pada otoritas Lebanon yang gagal melindungi negara.

Gencatan senjata selama sepuluh hari yang dimulai pada 16 April 2026 lalu telah diperpanjang hingga Mei. Kesepakatan antara Israel dan Lebanon tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).

Kesepakatan gencatan senjata cukup meredakan intensitas pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Namun Israel dan Hizbullah kerap saling tuding sebagai pihak pelanggar gencatan senjata.


Mobil terbakar di lokasi serangan udara Israel di lingkungan Corniche el-Mazraa di Beirut, Lebanon 08 April 2026. - (EPA/WAEL HAMZEH)

Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026 lalu. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel dan Hizbullah saling melancarkan serangan udara.

Ini bukan kali pertama Hizbullah terlibat konfrontasi bersenjata dengan Israel. Pada 2023 lalu, tak lama setelah Israel meluncurkan agresi ke Jalur Gaza, Hizbullah turut menembakkan roket dan proyektil ke wilayah Israel di dekat perbatasan Lebanon.

Pemerintah Israel kemudian mengevakuasi puluhan ribu warganya dari wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon. Penduduk kembali ke rumah mereka setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata pada November 2024.

Pemerintah Indonesia kembali menyampaikan protes kerasnya terhadap Zionis Israel atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Lebanon atau UNIFIL. Praka Rico dinyatakan meninggal dunia setelah sebulan dalam perawatan medis di Rumah Sakit Beirut akibat luka berat terkena serangan militer Zionis Israel di pos UNIFIL Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan pada 29 Maret 2026 lalu.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia menyampaikan kabar duka tersebut pada Jumat (24/4/2026). Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit Indonesia dalam misi perdamaian UNIFIL, yang mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel di dekat Kota Adhcit al-Qusayr, 29 Maret 2026, begitu pernyataan Kemenlu Indonesia, yang dikutip Sabtu (25/4/2026).


Personel TNI mengusung peti jenazah Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon saat prosesi pemakaman di TMP Giripeni, Wates, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Ahad (5/4/2026). Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) gugur akibat tembakan artileri Israel di Lebanon Selatan. - (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Pemerintah Indonesia juga mendesak agar PBB melakukan investigasi menyeluruh atas peristiwa penyerangan Zionis Israel di pos pasukan pasukan penjaga perdamaian tersebut. Kemenlu menegaskan penyerangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, dan hukum perang internasional atau humaniter. Militer penjajahan Zionis Israel pelaku penyerangan ke pos pasukan perdamaian tersebut dapat dinyatakan sebagai pelaku kejahatan perang.

Indonesia mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya peacekeeper (prajurit penjaga perdamaian) Indonesia. Serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum-hukum internasional, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, begitu pernyataan Kemenlu. Serangan artileri militer penjajahan Zionis Israel menyasar pos penjaga perdamaian PBB di Kota Adchit al-Qusayr pada 29 Maret 2026 lalu.

Serangan di lokasi itu menyebabkan empat prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL menjadi korban. Praka Farizal Ramadhon dinyatakan gugur seketika akibat serangan itu. Praka Rico mengalami luka berat dan sempat dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan maksimal. Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka-luka ringan. Keempat prajurit tersebut, berasal dari satuan Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XIII-S/United Nations Interim Force in Lebanon - UNIFIL.

Setelah serangan tersebut, beberapa hari setelahnya militer Zionis Israel kembali melakukan penyerangan terhadap iringan konvoi pasukan patroli penjaga perdamaian di wilayah yang sama. Dua prajurit TNI kembali gugur dalam serangan tentara penjajahan zionis tersebut. Mereka diantaranya Kapten Infanteri Zulmi Aditya dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Keduanya gugur ketika Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melakukan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) UNIFIL.


Sejumlah prajurit TNI melakukan upacara pelepasan jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Kopda (Anm) Farizal Rhomadon usai disemayamkan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). - (Aiotrade/Thoudy Badai)

Pengawalan itu dilakukan untuk memberikan dukungan terhadap MAKO Sektor Timur UNIFIL United Nation Post (UNP) 7-2 yang akan konvoi ke Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL yang berada di UNP 7-1. Akan tetapi, konvoi tersebut berujung pada penyerangan yang menyebabkan dua prajurit TNI-UNIFIL tersebut hilang nyawa.

Dalam semua peristiwa itu, sementara ini sudah empat prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur. Yaitu Praka Ramadhon, Kapten Zulmi, dan Sertu Nur Ichwan, dan Praka Rico yang sempat dirawat.

Sejumlah negara-negara yang mengirimkan prajuritnya untuk bergabung dalam misi perdamaian di Lebanon selatan mengutuk keras aksi sepihak tentara Zionis Israel yang melakukan penyerangan ke pos-pos penjaga perdamaian itu. Zionis Israel sempat membantah menjadi pihak yang bertanggung jawab atas gugurnya prajurit-prajurit penjaga perdamaian dari Indonesia itu. Akan tetapi dari laporan hasil investigasi awal yang dilakukan PBB diyakini serangan tersebut dilakukan oleh militer Zionis Israel yang juga melakukan penyerangan ke Lebanon selatan. Namun hingga kini, tak ada sanksi atau hukuman internasional terhadap Zionis Israel.