
Kepemimpinan Kolektif di Tingkat Nasional
Kepemimpinan kolektif di tingkat nasional kini mendapatkan penguatan baru dengan hadirnya Itha Karen sebagai Presidium Nasional Kelompok Kepentingan Profesional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Itha Karen dinilai akan menjadi jembatan strategis antara gerakan akar rumput dan advokasi kebijakan di tingkat nasional dan global. Penunjukan ini menandai babak baru bagi KPI dalam memperkuat peran kelompok kepentingan profesional untuk mengintervensi kebijakan publik yang lebih teknis dan berdampak luas.
Mengawal Keadilan Ekonomi dan HAM
Dalam penjelasannya ke media, Itha menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip Human Rights Due Diligence (HRDD) ke dalam agenda perjuangan perempuan. Melalui pengalamannya sebagai pengurus di INFID, ia berupaya membawa standar internasional hak asasi manusia ke dalam praktik profesional di Indonesia. "Sebagai presidium nasional dari kelompok kepentingan profesional, peran kami adalah memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengorbankan hak-hak perempuan. Kami di Koalisi Perempuan Indonesia akan memastikan bahwa setiap investasi dan kebijakan bisnis di Indonesia tunduk pada prinsip keadilan gender dan penghormatan HAM yang ketat," ujar Itha.
Interseksionalitas Pembangunan dan Gender
Keterlibatan Itha sebagai pengurus INFID dalam mengawal isu pembangunan nasional memberikan dimensi baru bagi KPI, khususnya dalam memantau alokasi anggaran negara. Ia menyoroti bahwa pemenuhan hak perempuan sangat bergantung pada bagaimana anggaran negaraseperti dana pendidikan dan perlindungan sosialdikelola secara transparan dan akuntabel. Ia juga menegaskan bahwa isu iklim bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan masalah ekonomi dan profesional. "Pengalaman kami dalam isu perubahan iklim dan bisnis di tingkat Pasifik akan saya bawa untuk memperkuat posisi tawar perempuan Indonesia dalam menghadapi krisis global," tambahnya.
Visi Transformasi Sosial
Kehadiran Itha Karen di jajaran Presidium Nasional KPI diharapkan mampu mempercepat transformasi kebijakan yang lebih inklusif. Dengan latar belakang kepemimpinan di organisasi strategis seperti INFID, Itha dipandang mampu mengkonsolidasikan kekuatan intelektual kelompok perempuan profesional untuk memberikan solusi konkret terhadap isu kekerasan berbasis gender dan ketimpangan ekonomi. "Itha Karen adalah sosok yang tepat untuk mengisi posisi ini. Kemampuannya dalam merumuskan kerangka strategis dan jaringan advokasinya yang luas akan menjadi aset besar bagi Koalisi Perempuan Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks," ungkap salah satu kolega di forum nasional tersebut.
Komitmen Terhadap Kepentingan Perempuan
Melalui peran ini, Itha Karen berkomitmen untuk terus menyuarakan kepentingan perempuan dari meja-meja perundingan kebijakan hingga ke wilayah-wilayah pesisir dan komunitas terdampak, memastikan tidak ada satu pun kelompok perempuan yang terlewat dalam arus pembangunan nasional.
Membangun Jaringan yang Kuat
Itha Karen memiliki pengalaman yang luas dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik itu lembaga pemerintah maupun organisasi non-pemerintah. Hal ini membuatnya mampu menciptakan jaringan yang kuat untuk mendukung visi KPI. Dengan pengalaman tersebut, Itha berharap dapat memperluas partisipasi perempuan dalam berbagai sektor, termasuk di bidang ekonomi dan politik.
Tantangan dan Peluang
Meskipun ada banyak tantangan yang dihadapi oleh perempuan di Indonesia, Itha optimis bahwa dengan adanya kepemimpinan yang solid dan kolaborasi yang baik, peluang untuk mencapai kesetaraan akan semakin terbuka. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih adil.