
Pahlawan Nasional dari Jawa Barat
Pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2023, pemerintah pusat memberikan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh dari berbagai provinsi. Salah satu yang dianugerahi gelar tersebut adalah KH. Abdul Chalim, seorang pahlawan asal Jawa Barat. Dengan penambahan ini, Jawa Barat kini memiliki total 15 pahlawan nasional.
KH. Abdul Chalim merupakan salah satu dari 15 tokoh yang telah diakui sebagai pahlawan nasional. Sebelumnya, terdapat 14 nama lain yang telah menerima penghargaan serupa. Mereka antara lain Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, Dr. Koesoemah Atmadja, SH, Laks.Laut R.E. Martadinata, Raden Dewi Sartika, KH. Zainal Mustofa, R. Oto Iskandardinata, Prof. MR. RH. Iwa Kusuma Sumantri, Maskoen Soemadiredja, Gatot Mangkupradja, Kiai Haji Noer Ali, K.H. Abdul Halim, Prof. Mr. Ahmad Subardjo, Syafruddin Prawiranegara, serta KH Ahmad Sanusi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Beberapa dari pahlawan nasional asal Jawa Barat ini dianugerahi gelar dalam tahun yang sama. Misalnya, LRE Martadinata dan Dewi Sartika dianugerahi pada tahun 1966, sementara Maskoen Soemadiredja dan Gatot Mangkupradja dianugerahi pada tahun 2004. Tahun ini, empat tokoh Jabar lainnya juga masuk dalam daftar usulan pahlawan nasional. Mereka adalah KH Abbas Abdul Jamil, Marsekal TNI (Purn) R Suryadi Suryadarma, Mochtar Kusumaatmadja, dan Kiai Soleh Iskandar.
Perjalanan KH. Sholeh Iskandar
KH. Sholeh Iskandar lahir di Bogor pada 22 Juni 1922 dari pasangan KH. Mohammad Arief dan Hj. Atun Halimah. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang menanamkan nilai-nilai keislaman dan kecintaan terhadap tanah air. Dalam perjalanan hidupnya, beliau dikenal sebagai ulama, pejuang kemerdekaan, pendidik, dan tokoh masyarakat yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan umat.
Sejak masa muda, KH. Sholeh Iskandar telah mengabdikan dirinya di medan perjuangan. Ia tercatat sebagai Komandan Batalyon Hizbullah pada 1945–1947 di wilayah Bogor Barat, meliputi Leuwiliang dan Jasinga. Hizbullah merupakan laskar perjuangan yang lahir dari semangat jihad fi sabilillah di bawah naungan Masyumi untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Setelah masa revolusi, KH. Sholeh Iskandar tidak berhenti berjuang. Ia mengalihkan perhatiannya pada bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi sebagai bentuk jihad membangun bangsa. KH. Sholeh Iskandar wafat pada 22 April 1992 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Barengkok, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Warisannya hidup hingga kini melalui berbagai lembaga yang ia dirikan—Universitas Ibn Khaldun, RS Islam Bogor, Pesantren Darul Fallah, dan BPRS Amanah Ummah—yang semuanya masih aktif melayani masyarakat.
Perjuangan Raden Suryadi Suryadarma
Raden Suryadi Suryadarma lahir di Banyuwangi pada 6 Desember 1912. Anak dari R. Suryaka Soerjadarma, pegawai bank di Banyuwangi, yang masih memiliki garis keturunan dari Keraton Kanoman, Cirebon. Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Keraton Kanoman.
Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai pendidikan dan disiplin, nilai-nilai yang kelak membentuk kepribadiannya sebagai perintis kekuatan udara Indonesia.
Cita-cita Suryadi muda untuk menjadi seorang penerbang mendorongnya melanjutkan pendidikan militer ke luar negeri. Ia diterima di Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda, Belanda, dan lulus pada tahun 1934. Keinginannya untuk menguasai dunia penerbangan diwujudkan melalui pendidikan lanjutan di Sekolah Navigator dan Sekolah Pengintai Udara, yang keduanya diselesaikan pada tahun 1939.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Suryadi Suryadarma menjadi salah satu tokoh penting dalam pembentukan kekuatan udara nasional. Ia dipercaya menjabat Kepala TKR Bagian Penerbangan pada 12 Desember 1945, menandai tonggak awal berdirinya Tentara Republik Indonesia bagian udara.
Marsekal TNI Rd. Suryadi Suryadarma dikenal sebagai Bapak TNI Angkatan Udara Indonesia. Ia tidak hanya meletakkan dasar-dasar organisasi, sistem pendidikan, dan doktrin penerbangan militer Indonesia, tetapi juga menjadi simbol peralihan dari semangat revolusioner menuju profesionalisme militer. Tokoh Jabar ini yang telah diakui dunia internasional dan hingga kini jejak perjuangannya tercatat apik dalam sejarah bangsa Indonesia.
Perjuangan Mochtar Kusumaatmadja
Konsep yang dicetuskan Mochtar berusaha mendobrak peraturan ordonansi Belanda 1939 yang mengatur Batas Laut Internasional, dianggap sebagai penghambat perwujudan Indonesia sebagai sebuah Negara Kepulauan. Melalui konsep Negara Kepulauan, Mochtar berprinsip bahwa wilayah lautan menjadi alat pemersatu bangsa, bukan malah sebaliknya sebagai pemisah. Inilah yang kemudian diperjuangkan Indonesia dalam beberapa kali konvensi hukum laut internasional, Mochtar Kusumaatmadja terlibat aktif sebagai delegasi.
Akhirnya pada 10 Desember 1982, Konsepsi Negara Kepulauan disetujui dunia internasional. Mochtar Kusumaatmadja berhasil menyelesaikan tugas diplomasinya selama 25 tahun. Baru pada 16 November 1994, Konvensi 1982 mulai berlaku secara efektif.
Berkat perjuangan tanpa lelah, wilayah perairan Indonesia secara resmi bertambah 3 juta kilometer persegi. Maka, total wilayah kedaulatan RI menjadi 8 juta kilometer persegi. Perjuangan Mochtar Kusumaatmadja dari 1957-1982 akan selalu tercatat dalam sejarah Indonesia.
Peran KH. Abdullah Abbas
KH. Abdullah Abbas atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Dullah lahir pada tahun 1922 di Buntet, Cirebon dari pasangan KH. Abbas Abdul Jamil dari istrinya yang kedua nyai Hj. I’anah. Kiai Abdullah Abbas merupakan anak pertama dari empat bersaudara, yaitu nyai Hj. Sukaenah, nyai Hj. Maimunah, dan KH. Nahduddin Royandi.
Setelah sekian lama belajar, beliau pun membantu ayahnya KH. Abbas Abdul Jamil dalam mengembangkan Pondok Pesantren Buntet. KH. Abdullah Abbas juga ikut berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dengan sungguh-sungguh.
Kiprah dan perjuangan KH. Abdullah Abbas dalam pentas nasional menempatkan dirinya dalam deretan tokoh yang memiliki pengaruh besar. Khususnya di era kepemimpinan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah satu seorang kiai khos.
Sebagai ulama dan tokoh masyarakat, kedalaman ilmu dan perbuatan dilengkapi dengan sikap khosyyah kepada Allah, telah menjadikan KH. Abdullah Abbas sebagai seorang ulama sekaligus pemimpin yang memiliki ciri khas tersendiri. Seperti beberapa sikap teladan yang patut dijadikan contoh untuk menjalani kehidupan lebih nyaman dan tentram.