Jakarta Literaria 2025 Dibuka, DKI Perkuat Literasi dan Ekonomi Kreatif

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 21x dilihat
Jakarta Literaria 2025 Dibuka, DKI Perkuat Literasi dan Ekonomi Kreatif

Jakarta Literaria 2025: Membangun Ekosistem Literasi yang Berkelanjutan

Jakarta Literaria 2025 adalah sebuah festival yang digelar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tujuan utama dari acara ini adalah untuk memperkuat ekosistem literasi, penerbitan, serta sektor ekonomi kreatif di Jakarta. Festival ini tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga menghubungkan literasi dengan berbagai subsektor kreatif lainnya seperti desain, seni pertunjukan, dan karya seni.

Program & Creative Director Jakarta Literaria 2025, Arie Wahyudi Prasetya, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa Jakarta Literaria adalah upaya konkret untuk memperkuat dunia penerbit dan literasi sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Festival ini tidak hanya berbicara soal buku, tetapi juga menghubungkan literasi dengan penerbitan, desain, hingga seni pertunjukan,” ujarnya. Arie menekankan bahwa Jakarta Literaria ingin menjadi ruang pertemuan yang inklusif dan kolaboratif bagi para pelaku kreatif.

Ruang Kolaborasi untuk Pelaku Kreatif

Arie menjelaskan bahwa Jakarta Literaria bertujuan untuk mendorong literasi sebagai subsektor ekonomi kreatif melalui penguatan ekosistem penerbitan, komunitas literasi, serta industri pendukungnya. Festival ini juga bertujuan memperkuat peran pemerintah dalam fasilitasi, pendampingan, dan kolaborasi lintas komunitas, sekaligus menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis identitas kultural kota.

Selain itu, festival ini juga menempatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai aset strategis ekonomi kreatif. Melalui edukasi dan advokasi HAKI, Jakarta Literaria menempatkan Intellectual Property sebagai aset strategis ekonomi kreatif, serta menghadirkan pendekatan baru untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai “City of Literature” yang diakui UNESCO.

Fokus pada Penguatan Praktik Literasi

Arie menekankan bahwa Jakarta Literaria tidak berfokus pada target penjualan buku, melainkan pada penguatan praktik literasi di masyarakat. Literasi dipahami tidak hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai proses berpikir, berdiskusi, berkarya, dan berpartisipasi aktif dalam ruang publik.

Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai format acara disiapkan agar literasi hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga kota. Mulai dari diskusi, lokakarya, pertunjukan, hingga kolaborasi lintas disiplin, program dirancang agar literasi dapat diakses dan diterima oleh masyarakat secara luas.

Tingkat Literasi Jakarta yang Tinggi

Ketua IKAPI Jakarta, Hikmat Kurnia, menyebut tingkat literasi Jakarta relatif tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Menurut data penelitian yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Arsip bersama Universitas Indonesia, tingkat literasi Jakarta memang paling tinggi dibanding daerah lain di Indonesia.

Namun, ia menilai upaya penguatan literasi harus terus dilakukan. Meski tingkat literasi Jakarta tinggi, tetap perlu digairahkan agar terus meningkat. Literasi bertujuan untuk memperbaiki kualitas diri, dan sangat penting dalam menghadapi perubahan zaman dan arus informasi digital.

Sastra Betawi dan Inklusivitas dalam Literasi

King Beni Satryo dari komunitas Jumpin Puisi mengatakan bahwa ia merasa senang bisa ikut dilibatkan dalam Jakarta Literaria 2025. Ia berharap kegiatan literasi di Jakarta semakin inklusif dan memberi ruang bagi keberagaman sastra lokal.

“Harapannya adalah agar lebih inklusif karena asumsinya Jakarta itu adalah melting pot–tempat orang bertemu dari mana-mana–tapi yang gak kalah penting adalah ada juga sastra Betawi,” katanya. King Beni berharap sastra Betawi mendapatkan ruang yang lebih luas dalam kegiatan literasi di Jakarta.

Antusiasme Pengunjung

Berdasarkan pantauan, pengunjung sibuk melihat koleksi-koleksi buku yang diperjualbelikan. Terdapat koleksi buku mulai dari novel hingga ilmu sosial dan politik. Berbagai diskusi juga digelar dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya, seperti Reda Gaudiamo dan Sha Ine Febriyanti.

Salah satu pengunjung, Cykin, mengaku tertarik dengan gelaran tersebut, terutama karena adanya bazar buku dengan beragam penawaran menarik. Meski demikian, ia berharap kegiatan literasi semacam ini dapat digelar lebih sering dan disertai promosi yang lebih masif agar menjangkau masyarakat luas.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan