
aiotrade, JAKARTA — PT Jamkrida Jakarta (Perseroda) memprediksi bahwa bisnis penjaminan pada tahun 2025 memiliki peluang yang menjanjikan. Hal ini didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi sebelum dimulainya tahun anggaran baru. Direktur Utama Jamkrida Jakarta, Agus Supriadi, menjelaskan bahwa perseroan telah menyiapkan lima langkah utama untuk menjaga stabilitas nilai imbal jasa penjaminan (IJP) di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Langkah pertama adalah diversifikasi produk penjaminan menuju sektor-sektor produktif, bukan hanya berfokus pada penjaminan konsumtif. “Selanjutnya, Jamkrida Jakarta fokus pada produk penjaminan dengan tenor jangka pendek, yaitu di bawah satu tahun, terutama penjaminan Surety Bond, Bank Garansi, dan Custom Bond,” ujar Agus kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Agus melanjutkan, Jamkrida Jakarta juga memperketat proses analisis dan mitigasi risiko agar underwriting dapat dilakukan secara lebih objektif dan hati-hati. Perseroan juga meningkatkan sinergi dengan perusahaan swasta, instansi pemerintah, BUMN, serta BUMD. Digitalisasi layanan terus ditingkatkan untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas akses penjaminan.
Hingga September 2025, terjadi peningkatan rate penjaminan untuk sejumlah mitra strategis BUMD milik Pemprov DKI Jakarta, seiring pertumbuhan signifikan volume produksi penjaminan dari mitra existing. “Di sisi lain, perseroan juga menerima penambahan beberapa mitra baru, yang turut berkontribusi dalam memperluas portofolio penjaminan dan memperkuat jejaring bisnis perusahaan,” tambahnya.
Segmen UMKM masih menjadi penopang utama portofolio penjaminan. Nilai imbal jasa penjaminan yang berasal dari UMKM mencapai 86 persen dari total IJP perusahaan.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa nilai IJP pada Agustus 2025 mengalami kontraksi sebesar 11,91% year on year menjadi Rp5,12 triliun. Padahal, pada Agustus 2024, nilai tersebut masih tumbuh 12,66% year on year menjadi Rp5,82 triliun. Pada bulan yang sama, nilai klaim penjaminan turun 20,33% menjadi Rp4,68 triliun. Sementara itu, total aset industri penjaminan mencapai Rp48,83 triliun, tumbuh 1,94%.
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai kontraksi 11,91% pada nilai IJP berkaitan dengan melemahnya penyaluran kredit perbankan. “Akibatnya, bisnis penjaminan juga terpengaruh cukup dalam atau bisa juga persaingan industri makin dalam, termasuk dengan bisnis asuransi, sehingga misal terjadi perang tarif, menyebabkan perolehan total IJP bisa menurun,” katanya kepada Bisnis.
Toto menilai program prioritas pemerintah dapat menjadi peluang bagi perusahaan penjaminan untuk mengejar target IJP tahun 2025. “Contohnya adalah pembangunan infrastruktur, proyek MBG, proyek green energy, ini adalah potensi besar yang masih bisa dikejar untuk realisasi target IJP 2025,” ujarnya.
Strategi yang Diterapkan oleh Jamkrida Jakarta
Berikut adalah lima strategi utama yang diterapkan oleh Jamkrida Jakarta untuk menjaga stabilitas IJP:
- Diversifikasi Produk Penjaminan: Fokus pada sektor-sektor produktif, bukan hanya berbasis konsumtif.
- Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada segmen yang kurang stabil dan memperluas pangsa pasar.
-
Dengan memperluas portofolio, perusahaan dapat menghadapi fluktuasi pasar dengan lebih baik.
-
Fokus pada Produk dengan Tenor Pendek: Seperti Surety Bond, Bank Garansi, dan Custom Bond.
- Produk-produk ini umumnya memiliki risiko yang lebih rendah dan bisa memberikan aliran pendapatan yang lebih cepat.
-
Mempercepat proses pencairan dana juga membantu meningkatkan kepuasan pelanggan.
-
Peningkatan Proses Analisis dan Mitigasi Risiko:
- Perseroan memastikan bahwa setiap penjaminan dilakukan dengan analisis yang mendalam dan objektif.
-
Ini membantu mengurangi kemungkinan kerugian akibat risiko yang tidak terduga.
-
Peningkatan Sinergi dengan Berbagai Stakeholder:
- Kolaborasi dengan perusahaan swasta, instansi pemerintah, BUMN, dan BUMD meningkatkan kapasitas dan jangkauan bisnis.
-
Sinergi ini juga membuka peluang baru untuk kerja sama dan inovasi.
-
Digitalisasi Layanan:
- Digitalisasi membantu meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas akses layanan.
- Dengan adanya sistem digital, pelanggan dapat mengakses layanan penjaminan secara lebih mudah dan cepat.
Potensi Pertumbuhan di Tahun 2025
Menurut Toto Pranoto, ada beberapa sektor yang bisa menjadi peluang besar untuk pertumbuhan IJP di tahun 2025. Beberapa di antaranya adalah:
- Infrastruktur: Proyek-proyek infrastruktur nasional akan membutuhkan banyak penjaminan.
-
Dengan pembangunan infrastruktur, peluang untuk menyediakan layanan penjaminan sangat besar.
-
Proyek MBG (Masyarakat Berpenghasilan Rendah):
- Proyek ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang juga memerlukan dukungan finansial.
-
Penjaminan bisa menjadi salah satu bentuk dukungan finansial yang diberikan.
-
Green Energy:
- Pengembangan energi terbarukan seperti energi surya dan angin menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan.
- Perusahaan penjaminan bisa bermitra dengan perusahaan energi hijau untuk memberikan layanan penjaminan.
Dengan strategi yang tepat dan peluang yang tersedia, Jamkrida Jakarta memiliki potensi besar untuk mencapai target IJP tahun 2025.