
SURABAYA, aiotrade.app
Pengusulan Dua Ulama Sebagai Pahlawan Nasional
Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) kembali mengajukan dua tokoh ulama sebagai calon pahlawan nasional tahun ini. Kedua tokoh tersebut adalah KH Abbas Abdul Jamil yang dikenal dengan nama Kiai Abbas Buntet asal Cirebon, Jawa Barat, dan KH Yusuf Hasyim atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Ud dari Jombang, Jawa Timur.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ketua JKSN, KH Asep Saifudin Chalim, menyatakan bahwa kedua nama tersebut dinilai memiliki kredibilitas tinggi berdasarkan data dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP). Menurutnya, keduanya memenuhi syarat untuk menerima gelar pahlawan nasional karena perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
"Berlandaskan kajian dan sumber-sumber primer, nama Kiai Abbas Buntet dan Pak Ud memiliki kredibilitas untuk diberi gelar Pahlawan Nasional," ujar KH Asep usai Halaqoh Ulama di Surabaya, Minggu (26/10/2025) malam.
Ia menekankan bahwa Presiden Prabowo Subianto, yang saat ini memimpin Indonesia, merupakan pemimpin yang menghargai jasa-jasa para pahlawan. Oleh karena itu, ia berharap agar kedua nama tersebut bisa masuk dalam daftar penerima gelar pahlawan nasional.
"Paling tidak, 2 nama tersebut bisa masuk karena ukuran jasanya sudah jelas," tambahnya.
Peran Penting Kiai Abbas Buntet dan Pak Ud
Menurut KH Asep, Pak Ud merupakan putra bungsu pendiri Nahdatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari. Ia dikenal sebagai tokoh kemerdekaan di Jombang, serta terlibat dalam gerakan penumpasan G30S PKI. Selain itu, ia juga menjadi tokoh pesantren yang menjaga nilai-nilai Pancasila.
Sementara itu, Kiai Abbas Buntet memiliki peran penting dalam perang kemerdekaan di Surabaya. Ia dikenal sebagai tokoh ulama yang menentukan hari, tanggal, dan waktu serangan 10 November.
Dari empat nama calon pahlawan nasional yang diusulkan tahun ini, Kiai Abbas Buntet dan Pak Ud mendapat dukungan dari lebih dari 70 sumber primer.
"Untuk Kiai Abbas Buntet ada 76 sumber primer dan Pak Ud 74 sumber primer. Ini sudah cukup untuk ukuran kredibel," ujar KH Asep.
Proses Pengusulan Pahlawan Nasional
Kementerian Sosial mengusulkan 40 nama untuk diberikan gelar pahlawan nasional kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) yang dipimpin Fadli Zon.
Ke-40 nama tersebut telah melewati proses panjang dan dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai calon pahlawan nasional.
Selain Kiai Abbas Buntet, ada juga tokoh buruh Marsinah dan Demmatande dari Sulawesi Barat yang diusulkan sebagai calon pahlawan nasional.
Terdapat pula 16 nama usulan tunda dari tahun 2024 serta 20 nama yang diajukan kembali karena memenuhi syarat. Dari 20 nama tersebut, ada mantan Presiden Soeharto, mantan Presiden KH Abdurahman Wahid, serta pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.