Jejak Kali Kuping: Nadi Ekonomi Pecinan Semarang yang Terlupakan

admin.aiotrade 19 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Jejak Kali Kuping: Nadi Ekonomi Pecinan Semarang yang Terlupakan
Jejak Kali Kuping: Nadi Ekonomi Pecinan Semarang yang Terlupakan

Sejarah Kali Kuping, Kawasan yang Penuh Perubahan

Kali Kuping, salah satu kawasan di Pecinan Semarang, memiliki sejarah yang panjang dan sering kali luput dari perhatian publik. Meskipun selama ini hanya dikenal sebagai bekas area pergudangan, kawasan ini memiliki peran penting dalam denyut ekonomi Semarang tempo dulu.

Peneliti Ein Institute, Yvonne Sibuea, menjelaskan bahwa Kali Kuping pernah menjadi pusat aktivitas perdagangan yang sangat dinamis. Ia menyampaikan penjelasannya dalam paparan sejarah yang dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), pemerhati sejarah, warga Pecinan, komunitas Tionghoa, hingga praktisi tata kota di Rumah Po Han Kota Lama Semarang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Yvonne, pada masa lalu, jalur air menjadi urat nadi utama dalam kehidupan ekonomi Semarang. Sungai atau kali menjadi jalan utama bagi para pedagang untuk berdagang. Salah satunya adalah Kali Semarang yang dahulu dapat dilalui kapal.

“Dulu orang berdagang itu lewat kali, bukan lewat jalan. Mau punya gudang, mau belanja, semua dari kali,” ujarnya.

Banyak pedagang sayur, pengangkut barang besar, hingga pemilik usaha memanfaatkan jalur air tersebut. Gudang-gudang dibangun menghadap ke kali agar memudahkan bongkar muat.

Namun, perubahan mulai terjadi seiring masuknya modernitas dan berkembangnya jalan raya. Transportasi darat mulai mengambil alih peran sungai. Gudang-gudang berpindah mengikuti akses truk, sementara kali perlahan ditinggalkan.

“Karena enggak dipakai lagi, kali dianggap cuma selokan. Dari situ mulai jorok dan dicuekin. Padahal dulu itu pusat kehidupan,” katanya.

Sisi Gelap Kali Kuping

Dalam catatan sejarah, Kali Kuping juga dikenal memiliki sisi “gelap”. Sebagai pusat perdagangan, kawasan ini menjadi tempat berkumpul berbagai lapisan masyarakat, baik pelaku usaha legal maupun ilegal. Aktivitas seperti konsumsi alkohol, perjudian, penggunaan opium, hingga prostitusi pernah marak terjadi di kawasan tersebut, terutama pada rentang waktu 1870-an hingga 1950-an.

Gesekan antarpelaku usaha, pencurian, perampokan, hingga perusakan kerap terjadi. “Namanya pusat dagang, orang datang dari mana-mana. Yang legal dan ilegal ketemu di situ, akhirnya sering terjadi konflik,” jelasnya.

Meski begitu, Yvonne menekankan bahwa Kali Kuping tidak melulu identik dengan sisi kelam. Di balik itu, kawasan tersebut juga menjadi ruang tumbuhnya aktivitas sosial dan budaya masyarakat Tionghoa. Pada masa lalu, warga kerap berkumpul untuk belajar musik tradisional Tiongkok, kaligrafi, hingga seni pertunjukan. Saat perayaan tertentu, mereka tak hanya berparade dengan busana khas, tetapi juga menampilkan pertunjukan opera Tionghoa yang sarat musik dan drama.

Perubahan Kali Kuping di Masa Kini

Memasuki masa kini, wajah Kali Kuping telah banyak berubah. Kawasan tersebut kini didominasi rumah tinggal, gudang penyimpanan, hingga penginapan dan hotel. Interaksi sosial warga tidak seintens dulu.

“Sekarang sudah jauh lebih tenang. Kalau dulu ramai, sekarang cenderung sepi. Bisa dibilang ini fase terangnya,” kata Yvonne.

Ia menilai, perubahan Kali Kuping mencerminkan pergeseran budaya dan tata kota Semarang dari kota berbasis sungai menjadi kota berbasis darat. Sejarah “terang dan gelap” kawasan ini menjadi catatan penting dalam memahami perjalanan Pecinan Semarang dari masa ke masa.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan