Penunjukan Untung Budiharto sebagai Direktur Utama Antam
Pada Senin, 15 Desember 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. atau Antam resmi mengangkat Untung Budiharto sebagai Direktur Utama perusahaan. Keputusan ini menandai perubahan penting dalam kepemimpinan Antam, yang sebelumnya dipimpin oleh Achmad Ardianto.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur Pengembangan Usaha Antam, I Dewa Wirantaya, menyampaikan bahwa keputusan RUPSLB tersebut mencerminkan komitmen perseroan terhadap tata kelola perusahaan yang baik dan patuh terhadap regulasi terbaru. Dalam keterangannya, ia menyebutkan bahwa dengan dukungan pemegang saham, Antam memiliki landasan yang lebih solid untuk memastikan kesinambungan strategi dan kinerja perusahaan.
Selain menunjuk Untung Budiharto, RUPSLB juga memberhentikan Rauf Purana sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen Antam sejak 28 Oktober 2025. Dewan Komisaris dan Direksi Antam menyampaikan apresiasi kepada Rauf Purana dan Achmad Ardianto atas dedikasinya selama menjabat.
Profil Untung Budiharto
Dalam situs Transjakarta, Untung Budiharto tercatat sebagai Komisaris Utama PT Transportasi Jakarta sejak 8 Juni 2025. Lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 26 April 1965, Untung adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia lulus dari Akademi Militer Magelang pada 1988 dan kemudian bergabung dengan satuan infanteri Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Pada 1997–1998, Untung yang saat itu masih berpangkat kapten terdaftar sebagai salah satu dari sebelas anggota Tim Mawar Kopassus. Tim ini terlibat dalam penangkapan aktivis prodemokrasi yang dianggap tak sejalan dengan kepentingan Orde Baru.
Pada 2016–2017, karier Untung dan sejumlah eks anggota Tim Mawar melejit. Mereka dipromosikan menjadi jabatan Brigadir Jenderal. Untung Budiharto menjadi Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat pada 2017–2019. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVIII/Kasuari pada 2019–2020, kemudian menjadi Panglima Kodam Jakarta Raya pada 2022. Setahun setelahnya, ia juga menjabat sebagai Komisaris PT TransJakarta sejak 2023 hingga saat ini.
Peran Tim Mawar dalam Menculik Aktivis 1998
Tim Mawar dibentuk oleh Mayor Inf. Bambang Kristiono pada Juli 1997. Anggotanya terdiri atas 11 orang, termasuk Kapten Inf. Untung Budiarto. Target tim ini adalah memburu dan menangkapi aktivis yang dianggap radikal. Sebanyak 22 aktivis diculik, di mana sembilan orang kembali dalam keadaan hidup, sedangkan 13 lainnya hilang hingga saat ini.
Kasus penculikan tersebut telah diadili oleh Mahkamah Militer. Bambang Kristiono dihukum 22 bulan penjara dan dipecat dari TNI. Pengadilan juga memvonis Multhazar, Nugroho, Julius Stefanus, dan Untung Budi masing-masing 20 bulan penjara dan dipecat dari TNI. Chairawan Kadarsyah Nusyirwan, Komandan Grup 4 Sandi Yudha Kopassus, juga dicopot dari jabatannya karena dianggap bertanggung jawab.
Eks Anggota Tim Mawar Dapat Promosi
Pada 2016, empat eks anggota Tim Mawar yang pernah divonis bersalah—tiga di antaranya bahkan dipecat dari TNI—diangkat menjadi jenderal setelah menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen). Empat orang tersebut adalah Kolonel Inf Fauzambi Syahrul Multazhar, Kolonel Inf Drs Nugroho Sulistyo Budi, Kolonel Inf Yulius Selvanus, dan Kolonel Inf Dadang Hendrayudha.
Karier Untung tetap moncer setelah tidak jadi dipecat dari TNI. Kini pria berpangkat Mayor Jenderal itu diangkat menjadi Pangdam Jaya. Sementara itu, Brigjen TNI Dadang Hendrayudha dan Brigjen TNI Yulius Selvanus menjadi pejabat eselon 1 di lingkungan Kementerian Pertahanan.
Bambang Kristiono diangkat menjadi Direktur Utama PT Tribuana Antar Nusa, anak perusahaan dari Nusantara Energy Group milik Prabowo Subianto. Ia juga aktif sebagai operator politik Prabowo.