Jelajah Jejak Sejarah Cirebon: Dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi 2025

admin.aiotrade 24 Okt 2025 4 menit 17x dilihat
Jelajah Jejak Sejarah Cirebon: Dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi 2025
Jelajah Jejak Sejarah Cirebon: Dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi 2025

Perjalanan Famtrip 2025: Menjelajahi Budaya dan Sejarah Cirebon

Pagi hari yang cerah menjadi awal perjalanan rombongan Railways Unveiling Culture Familiarization Trip 2025. Saat matahari mulai naik di ufuk timur, rombongan yang terdiri dari agen perjalanan wisata berangkat menuju destinasi baru. Perjalanan dimulai dari Bandung, dengan tujuan utama ke Cirebon, kota yang kaya akan sejarah dan budaya.

Udara pagi di Cirebon terasa segar dan lembut, dengan aroma asin laut yang terbawa angin dari arah utara. Bus yang membawa rombongan melintasi jalan-jalan yang masih sepi, sambil melewati pemandangan alam yang indah. Tujuan pertama mereka adalah Keraton Kasepuhan Cirebon, sebuah pusat sejarah yang memiliki nilai budaya tinggi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Begitu memasuki area keraton, bangunan tua yang megah menarik perhatian. Dinding bata merah yang terlihat kokoh, dihiasi ukiran kayu jati dan ornamen porselen Tiongkok yang masih utuh. Rombongan disambut oleh Ratu Alexandra Wuryaningrat, Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan (BPKK) Cirebon. Ia menjelaskan sejarah panjang keraton yang berdiri sejak abad ke-15, peninggalan Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.

Para peserta diajak berkeliling untuk melihat pendopo agung, museum pusaka, serta halaman belakang yang menyimpan kereta kencana Singa Barong. Singa Barong merupakan simbol kebesaran Cirebon yang unik, dengan ukiran-ukiran yang menggambarkan bentuk-bentuk hewan seperti sayap burung, kepala naga, dan belalai gajah yang memegang senjata Trisula.

Dari Keraton Kasepuhan, rombongan melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Gua Sunyaragi. Kompleks batu kapur ini terletak di pinggiran kota dan memiliki bentuk yang menyerupai istana batu. Lorong-lorong sempit dan ruangan yang saling terhubung menciptakan suasana yang misterius. Nama Sunyaragi berasal dari kata "sunyi" dan "ragi", yang berarti "tempat menyepi untuk memperkuat raga dan jiwa". Dulu, para bangsawan Keraton Cirebon datang ke tempat ini untuk bertapa dan mencari ketenangan batin.

Rombongan berjalan melewati Goa Pengawal, Goa Simanyang, dan Mande Beling. Setiap ruangan memiliki kisah sendiri, termasuk ruang untuk istirahat prajurit dan pos pengintai. Peserta juga diberi kesempatan untuk menyentuh dinding batu karang yang lembap dan bertekstur kasar. Material batu karang ini diambil dari wilayah Gunung Kidul.

Destinasi ketiga pada hari itu adalah Batu Lawang, yang terletak di Kecamatan Cirebon Selatan. Perjalanan melalui jalan menanjak menghabiskan hampir satu jam. Sesampainya di sana, gerimis mulai turun, membuat langit mendung dan tebing-tebing batu yang biasanya menjadi magnet bagi pendaki, hari itu tampak remang-remang. Rombongan tidak bisa naik ke atas batu sesuai rencana.

Batu Lawang dinamakan demikian karena formasi batu besar yang menyerupai "lawang" atau pintu besar terbuka. Dengan dua tebing yang seakan mengapit celah yang bisa dilewati, tempat ini menjadi daya tarik tersendiri. Hujan membuat tangga batu agak licin, dan kabut tipis mulai merayap dari pepohonan. Beberapa peserta memilih duduk di gazebo sambil menatap tebing besar yang setengah tertutup kabut, sambil berbincang ringan dan mengabadikan momen lewat kamera ponsel.

Malamnya, rombongan menuju hotel untuk acara farewell dinner dan sesi B2B Business Match. Agen travel berdiskusi, berbagi kartu nama, dan mencari peluang kolaborasi. Acara ini menjadi momen penting untuk membangun hubungan bisnis antar agen perjalanan.

Menjelajahi Batik Trusmi

Keesokan harinya, Kamis 23 Oktober 2025, rombongan melanjutkan perjalanan ke Batik Trusmi, pusat industri batik terbesar di Cirebon. Lokasinya sekitar lima kilometer dari pusat kota. Saat tiba, aroma malam dan kain baru tercium di udara. Para pengrajin tampak tekun bekerja, dengan beberapa di antaranya sudah puluhan tahun melestarikan motif khas seperti mega mendung, pola awan bergelombang biru yang menjadi ikon batik Cirebon.

Para peserta diajak mencoba membuat batik sendiri, mencelupkan kain ke pewarna alami, dan melihat proses panjang dari selembar kain putih hingga menjadi karya penuh warna. Proses ini memberikan wawasan tentang betapa rumit dan kreatifnya seni batik.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, menjelaskan bahwa kegiatan famtrip ini merupakan upaya untuk menyiapkan destinasi dan memasarkannya. "Ini tentunya mendorong para pengelola destinasi untuk melengkapi amenitinya dan kedua adalah pemasarannya, ini salah satu upaya dalam kita memasarkan destinasi yang ada," ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar wisata menggunakan kereta api ke berbagai daerah di Jawa Barat dapat menjadi daya tarik dan meningkatkan kunjungan wisata. "Jadi kereta api nanti ada dua fungsi, sebagai akses, satu yang kedua sebagai daya tarik. Jadi paling tidak, mereka akan tertarik juga dengan sejarah kereta api di Jawa Barat," katanya.

Diharapkan, menjelang akhir tahun sudah ada paket wisata yang disiapkan para agen travel untuk mengunjungi destinasi ke berbagai tempat di Jabar. "Jadi dengan dukungan Asita, kemudian kolaborasi dengan agen travel lain, sehingga terjadi hubungan B2B. Bukan business to consumer," katanya.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan