
Peran Letjen Purn A.M. Putranto dalam Pembangunan Jembatan Gantung
Setelah melepaskan jabatannya sebagai kepala staf presiden, Letjen Purn A.M. Putranto tidak kehilangan semangat untuk berkontribusi pada masyarakat. Ia kini menjabat sebagai ketua dewan pembina Vertical Rescue Indonesia (VRI), sebuah organisasi yang memiliki visi besar yaitu membangun 1000 jembatan gantung di seluruh Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Jembatan gantung yang ke-221 telah diresmikan oleh Letjen Putranto dan rekan-rekannya di Kota Malang. Saya sendiri hadir dalam acara peresmian tersebut. Pertanyaannya adalah, mengapa Kota Malang membutuhkan jembatan gantung?
Di pinggiran Kota Malang terdapat sungai Bangau yang curam. Anak-anak SMP di sisi timur harus melakukan perjalanan sejauh empat kilometer untuk mencapai sekolahnya yang berada di sisi barat sungai. Lokasi ini sangat indah dengan tumbuhan bambu yang rindang seperti petung, apus, dan bambu ori. Jembatan gantung dibangun di antara rumpun bambu tersebut.
Sejarah dan Tujuan VRI
Vertical Rescue Indonesia (VRI) awalnya merupakan paguyuban panjat tebing. Komandannya adalah Tedi Ixdiana, seorang pemuda dari Bandung yang lulusan Unpad. Nama "Ixdiana" terdengar unik, namun Tedi sendiri tidak tahu alasan mengapa orang Sunda menggunakan nama tersebut.
Ide membangun jembatan gantung berasal dari kegiatan panjat tebing di pegunungan Cartenz, Puncak Jaya, Papua. Di ketinggian 4.000 meter, ada jurang yang dalam dan sering terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, VRI membangun jembatan gantung di tempat tersebut.
Tedi adalah pemanjat tebing sejati sejak kecil. Ia menguasai berbagai teknik panjat tebing, termasuk teknik pembuatan jembatan gantung. Proses pembangunan jembatan tidak menggunakan alat berat, tangga, atau scaffolding. Bahkan, tidak ada semen yang digunakan.
Teknik Pembangunan Jembatan Gantung
Pada proyek jembatan gantung di Malang, kekuatan bentangnya berasal dari batu dan baja sling. Diperlukan delapan batu yang masing-masing beratnya satu ton. Empat batu ditanam di sisi kanan sungai, dan empat lainnya di sisi kiri. Batu-batu tersebut diambil dari sungai itu sendiri, dan tidak menggunakan alat berat untuk menaikkannya. Teknik panjat tebing digunakan untuk proses penempatannya.
Batu-batu tersebut dilubangi untuk mengikat baja sling. Tali baja sling kemudian terikat kuat di batu di kedua sisi sungai. Tali tersebut dikencangkan dengan alat pengencang yang biasa digunakan oleh pemanjat tebing. Setiap jembatan memerlukan delapan tali baja sling, empat di bawah jembatan dan dua di atasnya.
Pendanaan dan Partisipasi Masyarakat
Dari 221 jembatan yang telah dibangun dalam waktu 10 tahun, tidak satu pun yang menggunakan anggaran negara. Semuanya didanai secara swadaya. Jembatan di Malang misalnya, sepenuhnya didanai oleh Pengurus Pusat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Karena itu, Letjen Putranto dan Tedi didampingi oleh Wilianto Tanta dan Teguh Kinarto dari PSMTI pusat. Wili adalah ketua umumnya, sedangkan Teguh adalah ketua dewan penasihat.
Masih ada satu jembatan lagi di Malang yang sepenuhnya menggunakan dana Teguh Kinarto, yang merupakan penduduk asli Malang.
VRI memiliki 30.000 anggota yang juga bertindak sebagai relawan. Relawan inilah yang sepenuhnya melakukan pekerjaan pembangunan jembatan, dibantu oleh masyarakat setempat.
Visi dan Kontribusi Letjen Putranto
Saya sangat ingin memberikan gelar insinyur kepada Tedi, meskipun ia hanya lulusan S1 Ilmu Sosial Politik Unpad. Letjen Putranto, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pegadaian, tetap bertekad untuk mengawal target pembangunan 1.000 jembatan gantung.
Putranto rutin menghubungi Kodim-Kodim untuk meminta bantuan agar desa-desa yang membutuhkan jembatan gantung segera diberitahu. Jembatan di Malang ini berkat informasi dari Kodim Malang.
Selain jembatan gantung, Putranto juga menjadi ketua pembina Ikatan Pemulung Indonesia. Meski sudah meninggalkan Istana, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Penampilan dan Kepribadian Letjen Putranto
Putranto tampak masih gesit. Saat acara peresmian, ia mengenakan seragam VRI, seperti siap terjun ke wilayah bencana. Saya tidak menyangka bahwa sosok ini adalah Jenderal Putranto.
Ia juga sangat ramah dan menyapa seluruh penduduk desa dekat jembatan. Terlihat akrab dengan rakyat. Hal ini menjelaskan mengapa ia bisa memenangkan Capres Prabowo di Jawa Tengah, yang dianggap sulit.
Meskipun hanya setahun di Istana, jabatan KSP harus dilepas oleh Putranto. Namun, seorang pengabdi tidak akan pernah kehilangan lapangan pengabdian.