
Sejarah Jembatan Merah dan Perannya dalam Pertempuran Surabaya
Jembatan Merah, yang terletak di Kota Surabaya, Jawa Timur, tidak hanya menjadi salah satu ikon kota tetapi juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam Pertempuran Surabaya tahun 1945, jembatan ini menjadi saksi bisu dari perjuangan para arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Peristiwa penting terjadi setelah tewasnya pimpinan tentara Sekutu, Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby, setelah menguasai gedung Internationale Crediet En Verening Rotterdam atau dikenal dengan nama Internatio. Perang yang meletus pada 10 November 1945 membuat Jembatan Merah menjadi salah satu titik kunci dari perlawanan rakyat untuk mengusir kekuasaan Sekutu.
Asal Usul dan Sejarah Jembatan Merah
Jembatan Merah kini telah menjadi landmark bersejarah di Surabaya. Lokasi jembatan ini berada di Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun. Jembatan ini membentang di atas Kali Mas dan dulu dikenal dengan nama Roode Brug, yang dalam bahasa Belanda berarti Jembatan Merah.
Warga Surabaya sudah lama akrab dengan jembatan yang selalu dicat dengan warna merah. Pembangunan Jembatan Merah dilakukan pada era Gubernur Jenderal Daendels dan diresmikan pada 11 November 1743. Pembangunan jembatan ini dilakukan atas dasar kesepakatan antara Pakubuwono II dari Mataram dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Dalam kesepakatan tersebut, daerah pantai utara termasuk Surabaya menjadi wilayah kekuasaan VOC, yang berarti berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Fungsi awal Jembatan Merah adalah sebagai penghubung antara wilayah timur sungai Kali Mas, yaitu kawasan Pecinan dan Arab, dengan wilayah barat sungai yang menjadi pusat aktivitas orang Eropa.
Surabaya pada masa itu merupakan salah satu kota dagang terpenting yang dikuasai oleh Belanda. Oleh karena itu, Jembatan Merah dianggap sebagai lokasi penting yang menghubungkan wilayah di seberang Kali Mas dengan Gedung Karesidenan Surabaya.
Perombakan Jembatan Merah
Pada tahun 1890, pemerintah Belanda melakukan perombakan besar-besaran terhadap bentuk fisik Jembatan Merah. Saat itu, pagar pembatas jembatan yang membatasi badan jembatan dengan sungai diganti. Penggunaan bahan kayu pada pagar pembatas jembatan diganti dengan besi.
Saat ini kondisi Jembatan Merah yang berada di sisi utara Surabaya hampir sama persis dengan jembatan lainnya, hanya saja warna merah yang menjadi ciri khas pada bagian pagar pembatas sungai masih dipertahankan. Warna merah ini menjadi identitas unik yang membedakan Jembatan Merah dari jembatan-jembatan lainnya di kota Surabaya.
Jembatan Merah tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan keteguhan rakyat Surabaya. Dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan, jembatan ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota Surabaya.