Jemparingan Nasional di Kulon Progo, Panahan Mataram Jadi Daya Tarik Budaya

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Jemparingan Nasional di Kulon Progo, Panahan Mataram Jadi Daya Tarik Budaya

Sejarah dan Filosofi Jemparingan

Jemparingan adalah olahraga tradisional yang berasal dari budaya Mataram, khususnya di lingkungan Keraton Yogyakarta. Dalam acara ini, para peserta duduk bersila di tanah sambil memegang busur yang disebut gandewa. Mereka melepaskan anak panah (jemparing) menuju sasaran berupa bandul yang berjarak sekitar 30 meter. Peserta mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan beskap, jarit, sandal selop, dan blangkon di kepala.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Jemparingan tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga memiliki filosofi hidup dan laku spiritual. Bagi masyarakat Jawa, jemparingan adalah cara untuk merasakan hidup dengan tenang dan penuh kesadaran. Dalam permainan ini, para peserta belajar tentang kehidupan melalui simbol-simbol seperti busur sebagai ayah yang kokoh tapi lentur, tali busur sebagai ibu yang mendorong, dan anak panah sebagai anak yang punya arah sendiri.

Rekor Baru dalam Jemparingan Nasional

Pada Minggu (27/10/2025), ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memadati Alun-Alun Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Geladen Ageng Jemparingan Nasional. Acara ini merupakan ajang pelestarian budaya panahan tradisional yang sekaligus menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-74 Kulon Progo.

Sebanyak 1.474 peserta tercatat mengikuti ajang ini, menjadikannya rekor baru Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori peserta jemparingan terbanyak. Tahun ini juga menorehkan catatan baru lewat sistem pendaftaran digital pertama untuk peserta jemparingan.

"Kami mengharapkan semua peserta dapat mengikuti acara ini," ujar Sutarman, Penjabat Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo.

Partisipasi dari Berbagai Wilayah

Geladen tahun ini diikuti oleh kontingen dari berbagai wilayah Nusantara, menunjukkan luasnya penyebaran jemparingan. Awalnya, jemparingan hanya berasal dari Yogyakarta, meliputi empat kabupaten dan satu kota. Kini, olahraga ini telah berkembang luas di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Solo, hingga luar Jawa.

Peserta dari Bali, I Dewa Made Kasama Biputra, menyampaikan bahwa jemparingan bukan hanya soal teknik, tetapi juga tentang rasa dan keseimbangan. "Dari jemparingan kami belajar tentang kehidupan," katanya.

Pengalaman dan Semangat Kebersamaan

Pertandingan berlangsung dalam 15 kali rambahan atau putaran. Setiap peserta melepas empat anak panah dalam setiap putaran. Para peserta melepaskan anak panah ke bandul yang menggantung sebagai sasaran. Suasana penuh kegembiraan terasa di antara peserta ketika sasaran terpanah, meski tanpa sorak kemenangan yang hingar-bingarhanya senyum tenang dan rasa syukur.

Ina Yaturohmah dari Tasikmalaya menilai ajang ini memperkuat semangat kebersamaan. "Kami datang dari Jawa Barat, latihan setiap minggu. Selain melestarikan budaya, ini juga jadi ajang silaturahmi dan wisata budaya yang menarik," katanya.

Peran dalam Wisata Kulon Progo

Bagi Dinas Pariwisata, kegiatan ini bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga strategi promosi wisata. Ribuan peserta dan penonton dari luar daerah memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM setempat. Dampak selanjutnya harapannya tumbuh hingga ke desa wisata-desa wisata yang ada di Kulon Progo.

"Di berbagai desa wisata nanti akan ada komunitas jemparingan. Wisatawan bisa mencoba jemparingan bahkan menjadi atlet," ujar Sutarman.

Perwakilan MURI, Sri Widayati, menyebut rekor kali ini tergolong spektakuler. Sebelumnya rekor jemparingan terbanyak hanya 371 peserta pada 2013. Sekarang mencapai 1.474 peserta. Hasil ini tercatat sebagai rekor dunia MURI ke-12.476.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan