
Peran Mesir dalam Konflik dengan Israel dan Pengembangan Sinai
Mayor Jenderal Samir Farag, seorang pakar militer Mesir, memberikan wawasan penting mengenai perang Arab-Israel yang terjadi pada tahun 1967. Dalam wawancaranya, ia menyebutkan bahwa Mesir adalah satu-satunya negara yang berhasil merebut kembali seluruh wilayahnya yang diduduki secara utuh, berbeda dengan Dataran Tinggi Golan Suriah dan Tepi Barat yang dianeksasi oleh Israel.
Pada masa perang tersebut, Mesir menjadi salah satu negara yang memerangi Israel dalam apa yang dikenal sebagai "Perang Enam Hari". Mesir merayakan hari pembebasan Sinai sebagai momen penting dalam sejarahnya. Tanggal 25 April dirayakan sebagai Hari Pembebasan Sinai, yang menandai akhir penarikan pasukan Israel dari Semenanjung Sinai setelah Perjanjian Camp David pada tahun 1982.
Jenderal Samir Farag menekankan bahwa Mesir berhasil merebut kembali tanahnya tanpa kehilangan sejengkal pun. Ia juga menjelaskan bahwa makna perayaan ini terletak pada kerja keras yang dilakukan oleh tentara, rakyat, dan polisi di bawah kepemimpinan tiga presiden: Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat, dan Hosni Mubarak.
Keberhasilan Mesir dalam Mengamankan Wilayah
Menurut Jenderal Farag, Mesir saat ini menjadi satu-satunya negara yang wilayahnya tidak direbut, berkat keberadaan tentara yang kuat yang melindunginya. Ia menjelaskan bahwa Sinai secara historis merupakan "gerbang terbuka" tempat semua serangan terhadap Mesir dilakukan, mulai dari zaman Hyksos dan Ottoman hingga perang tahun 1956 dan 1967, serta perang melawan teror yang berlangsung selama sekitar 6 tahun.
Visi Presiden Abdel Fattah al-Sisi sejak menjabat didasarkan pada pengamanan jalur ini melalui dua jalur paralel: pemberantasan terorisme dan rekonstruksi serta pembangunan komprehensif. Ia juga menempatkan "orang-orang" di Sinai untuk memperkuat kehadiran Mesir.
Pembangunan di Sinai
Sinai dianggap sebagai wilayah strategis yang vital bagi Mesir karena letak geografisnya sebagai gerbang timur dan kekayaan sumber daya alamnya. Selama dekade terakhir, Mesir telah fokus pada proyek pembangunan Sinai yang komprehensif. Proyek ini mencakup pembersihan wilayah dari terorisme, serta pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti terowongan, jalan raya, pelabuhan, serta proyek pertanian dan pendidikan.
Pakar militer Mesir memuji pesatnya pembangunan yang telah disaksikan Sinai dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu contohnya adalah pembangunan jaringan terowongan raksasa yang menghubungkan sisi timur dan barat kanal. Jumlah total terowongan telah mencapai 6, memungkinkan perjalanan hanya dalam beberapa menit setelah sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.
Jenderal Samir Farag juga menyebut upaya untuk mengubah El Arish menjadi salah satu pelabuhan kontainer terbesar di Mediterania. Selain itu, pembangunan bandara baru dan jalur kereta api yang menghubungkan Taba ke El Arish dan wilayah Mesir lainnya sedang berlangsung.
Proyek Pemukiman dan Infrastruktur
Negara bagian tersebut telah berhasil mengolah setengah juta hektar lahan, serta mendirikan tiga universitas baru di Port Said Timur, Ismailia, dan Sinai Selatan. Di samping itu, terdapat proyek pemukiman masyarakat Sinai dengan membangun komunitas perumahan yang sesuai dengan gaya hidup mereka.
Jenderal Samir Farag menekankan bahwa negara berupaya menyelesaikan pembangunan dan pengembangan tanpa melibatkan peperangan, sambil mempertahankan angkatan bersenjata yang kuat untuk melindungi negara. Ia mengutip pernyataan Presiden Sisi: Tidak seorang pun dapat mengambil apa yang menjadi milik yang kuat dan kita memiliki angkatan bersenjata yang kuat yang melindungi negara, dimulai dari Sinai.