Pemerintah Jepang Akan Naikkan Pajak Keberangkatan Mulai Tahun 2026
Pemerintah Jepang telah mengumumkan rencana untuk menaikkan pajak keberangkatan dari 1.000 yen (sekitar Rp107.800) menjadi 3.000 yen (sekitar Rp323.400) per orang, yang akan mulai berlaku pada tahun fiskal 2026. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap peningkatan jumlah wisatawan asing yang menyebabkan masalah keramaian dan kepadatan di destinasi wisata utama seperti Kyoto, Gunung Fuji, dan Nara.
Kenaikan pajak ini akan diberlakukan bagi semua pelancong, termasuk warga Jepang yang bepergian ke luar negeri. Pajak tersebut akan dikenakan langsung pada harga tiket pesawat dan kapal laut. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan sebagian pendapatan dari pajak ini untuk menurunkan biaya pembuatan paspor bagi warga negara Jepang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kenaikan Pajak Keberangkatan untuk Warga Asing dan Warga Jepang

Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa kenaikan pajak keberangkatan menjadi 3.000 yen per orang akan mulai berlaku pada tahun fiskal 2026. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengatasi masalah overtourism yang semakin parah di berbagai destinasi wisata utama. Dengan adanya kenaikan pajak, pemerintah berharap dapat mengurangi jumlah wisatawan yang berlebihan dan mengelola keramaian di tempat-tempat wisata secara lebih efektif.
Pajak baru ini akan dikenakan kepada semua pelancong, baik warga asing maupun warga Jepang, saat membeli tiket pesawat atau kapal laut untuk keberangkatan ke luar negeri. Hal ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam mengurangi tekanan pada infrastruktur dan fasilitas pariwisata yang ada.
Penggunaan Dana Pajak untuk Atasi Masalah Keramaian

Pemerintah Jepang menjelaskan bahwa dana dari kenaikan pajak keberangkatan akan digunakan untuk mengatasi masalah keramaian, kepadatan lalu lintas, serta perilaku tidak tertib di tempat wisata. Selain itu, dana tersebut juga akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata.
"Kami perlu menjadikan pariwisata sebagai industri yang berkelanjutan," ujar Ryuji Koizumi, ketua panel pariwisata Partai Demokrat Liberal, seperti dilansir oleh Nikkei Asia.
Dampak Kenaikan Pajak Bagi Warga Jepang

Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa kenaikan pajak keberangkatan juga akan berdampak pada warga Jepang. Untuk meringankan beban, pemerintah mempertimbangkan untuk menurunkan biaya pembuatan paspor bagi warga negara Jepang menggunakan sebagian pendapatan dari pajak ini.
"Kami mempertimbangkan untuk mengurangi biaya pembuatan paspor agar warga Jepang tidak merasa terbebani," kata sumber pemerintah, seperti dilansir oleh Japan Today News.
Penutup
Dengan penerapan kenaikan pajak keberangkatan, pemerintah Jepang berharap bisa menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan keberlanjutan lingkungan serta fasilitas publik. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kualitas pengalaman wisatawan sambil tetap menjaga kelestarian budaya dan alam yang menjadi ciri khas negara tersebut.