Jepang Selidiki Peluang Investasi di Indonesia, Iklim Usaha 2026 Lebih Menguntungkan

Potensi Investasi Jepang di Indonesia Terus Berkembang

Pemerintah dan berbagai lembaga bisnis Jepang terus memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, JETRO Jakarta (Japan External Trade Organization) telah menjajaki potensi investasi di Indonesia bersama sejumlah perusahaan Jepang dan Indonesia. Ada 4 perusahaan Jepang yang terlibat dalam proses ini, serta 31 perusahaan dari Indonesia yang akan melakukan business matching atau pertemuan bisnis untuk menjajaki peluang kerja sama dan menghasilkan kesepakatan bisnis baru.

Presiden Direktur JETRO Jakarta, Shinji Hirai, menyatakan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan utama investasi bagi perusahaan Jepang. Bahkan, menurutnya, Indonesia dinilai memiliki prospek yang lebih baik pada tahun 2026 dibandingkan 2025.

“Indonesia adalah negara yang sangat dikenal oleh dunia usaha Jepang. Dalam beberapa penelitian terbaru, Indonesia masuk ke dalam top 3 negara yang ingin diinvestasikan oleh Jepang,” ujar Hirai saat berbicara di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Hirai juga menyebutkan bahwa pada Agustus hingga September tahun lalu, sekitar 70 persen perusahaan Jepang menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia. Bahkan, hampir 46 persen perusahaan Jepang berencana mengembangkan bisnisnya di Indonesia pada periode 2026–2027. Sekitar 40 persen responden menilai kondisi bisnis pada 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025.

“Indonesia sudah sangat dikenal oleh dunia usaha Jepang. Potensi pasarnya besar dan ke depan kami melihat iklim bisnisnya semakin kondusif,” kata Hirai.

JETRO tidak hanya membantu perusahaan Jepang saat awal masuk ke Indonesia, tetapi juga memberikan dukungan pascainvestasi. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa para pelaku usaha Indonesia yang terlibat dalam business matching kali ini berasal dari sektor furnitur, home living, home decoration, kosmetik, body care, dan wellness.

Menurut Fajarini, Jepang merupakan mitra dagang strategis Indonesia dengan hubungan perdagangan yang relatif stabil, khususnya di sektor otomotif dan mesin. Namun, peluang kerja sama masih terbuka luas di sektor-sektor lain yang saat ini mulai diminati pasar Jepang.

“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti hari ini saja, tetapi berkelanjutan dan jangka panjang. Bukan tidak mungkin ke depan Indonesia dan Jepang bisa bersama-sama menjadi pemasok untuk pasar global,” ujarnya.

Fajarini menambahkan bahwa business matching juga menjadi sarana penting untuk menyamakan standar kualitas produk, agar produk Indonesia yang masuk ke Jepang mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan pasar.

Beberapa perusahaan Jepang, seperti PT Paltac Trading Indonesia atau Paltac, memang berorientasi ekspor ke Jepang, sementara PT Nitori Trading Indonesia atau Nitori lebih fokus mencari produk lokal Indonesia berkualitas untuk dipasarkan melalui jaringan ritelnya.

Fajarini berharap kedepannya ada potensi besar dalam investasi Jepang di Indonesia. Dia optimis, potensi itu dapat digarap bersama dalam upaya mengembangkan ekonomi di Indonesia, dan negara Jepang.

“Kita melihat masih banyak potensi di sektor lainnya. Seperti sekarang ini kita melihat ada sektor furniture, home living, wellness, kemudian body care, beauty sector yang ini merupakan potensi yang bisa kita kembangkan juga seperti sektor tadi untuk menjadi lebih besar secara bersama-sama,” tegas dia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan