Jepang Siapkan Taksi Terbang Komersial Mulai 2027

Jepang Siapkan Taksi Terbang Komersial Mulai 2027

Jepang Siapkan Langkah Strategis untuk Taksi Terbang Komersial

Pemerintah Jepang telah mengambil langkah strategis dengan menyiapkan regulasi yang memungkinkan penggunaan taksi terbang komersial. Dengan rencana ini, teknologi transportasi udara akan segera siap beroperasi paling lambat pada 2027 atau 2028. Kendaraan bertenaga listrik yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal (eVTOL) diharapkan menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan mobilitas warga di kawasan padat penduduk.

Rute Wisata Tepi Laut sebagai Langkah Awal

Sebagai bagian dari rencana operasional bertahap, pemerintah Jepang akan fokus pada penerbangan wisata di kawasan tepi laut Tokyo dan Osaka. Wilayah perairan dipilih untuk meminimalisasi risiko keselamatan dan gangguan suara bising di tengah kota. Selain itu, hal ini juga memberi waktu bagi masyarakat untuk terbiasa dengan moda transportasi baru ini.

Setelah layanan wisata dinilai lancar, rute akan diperluas menjadi penerbangan antartitik yang menghubungkan bandara internasional utama dengan pusat kota terdekat. Misalnya, perjalanan darat dari pusat Tokyo menuju Bandara Narita yang biasanya memakan waktu lebih dari satu jam, diperkirakan hanya butuh 15 menit menggunakan taksi terbang.

Selain di kota besar, taksi terbang juga akan menjangkau wilayah sulit seperti pulau terpencil dan pegunungan. Selain itu, mereka akan membantu evakuasi darurat dan pengiriman barang saat terjadi bencana. Untuk menjaga keamanan lalu lintas udara, otoritas terkait sedang merancang jalur udara khusus atau AAM Corridors agar taksi terbang tidak bersinggungan dengan pesawat komersial maupun drone.

Uji Kelayakan Ketat untuk Keselamatan Penumpang

Setiap taksi terbang harus melewati serangkaian tes kelayakan ketat dari otoritas penerbangan sipil sebelum diproduksi massal. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata (MLIT) saat ini sedang mengaudit desain, mesin listrik, dan perangkat lunak navigasi dari berbagai pengembang eVTOL guna memastikan sistemnya aman dan minim kegagalan.

Karena regulasi internasional untuk taksi terbang belum seragam, Jepang menetapkan standar keselamatannya sendiri. Syarat utamanya antara lain perlindungan baterai dari panas berlebih (overheating) serta kewajiban menyediakan pelampung (life jackets) untuk rute di atas air.

Uji kelayakan ini juga mengukur tingkat kebisingan; taksi terbang wajib beroperasi lebih senyap dibandingkan helikopter konvensional. Di darat, infrastruktur vertiport tengah dibangun sebagai fasilitas lepas landas, pengisian daya cepat, hingga gerbang masuk penumpang yang dilengkapi teknologi pengenal wajah. Selain itu, pilot taksi terbang wajib mengantongi lisensi khusus dan terlatih menangani kondisi darurat.

Kolaborasi dengan Sektor Swasta untuk Masa Depan Mobilitas

Proyek taksi terbang ini mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Sejak 2018, pemerintah bersama sektor swasta telah membentuk tim khusus untuk merampungkan kerangka teknis dan hukum.

Di Tokyo, pemerintah setempat menggandeng dua konsorsium besar. Kelompok pertama dipimpin oleh Japan Airlines (JAL) yang berfokus pada operasional penerbangan, sementara kelompok kedua digawangi Nomura Real Estate Development untuk pembangunan infrastruktur vertiport. Maskapai ANA Holdings juga telah menjalin kemitraan dengan Joby Aviation dari Amerika Serikat untuk mempercepat ketersediaan armada.

Harga tiket taksi terbang diproyeksikan akan semakin terjangkau seiring dengan produksi massal dan kemajuan teknologi baterai. Memasuki dekade 2030, biayanya diperkirakan bisa ditekan hingga separuh dari tarif taksi konvensional saat ini. Selain memangkas waktu tempuh, taksi terbang bertenaga listrik ini selaras dengan target Jepang untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050. Saat ini, raksasa industri seperti Mitsubishi Estate dan Toyota Motor juga turut memperkuat ekosistem proyek ini menjelang peluncuran komersialnya pada 2027 atau 2028.