
Impian Menjadi Oma yang Tetap Aktif Menulis
Saya sedang berandai-andai, bagaimana jika saya menulis di sini sampai saya menjadi nenek-nenek? Sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun kemudian setelah hari ini. Sapaan di kolom komentar saya, yang biasanya saya disapa Mbak atau Bu, akhirnya berubah menjadi Oma Novia, atau mungkin Eyang Novia. Aduh, saya jadi terharu membayangkannya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tapi, apakah mungkin usia saya akan mencapai hari itu? Entahlah. Jika saat itu saya masih ada dan tetap menulis di aiotrade, apa masih ada pembaca yang tertarik membaca tulisan Oma Novia?
Mungkinkah seiring bertambahnya usia dan semakin memutihnya rambut saya, saya jadi baperan pada admin-K kalau tulisan saya tidak diberi label headline? Hiks.. hiks..
Empat puluh tahun lagi, mungkin jari-jari saya sudah mulai kaku. Meski mungkin semangat menulis itu masih ada, dan kelak saya akan mengetik dengan sangat perlahan untuk menghindari terjadinya banyak typo.
Tapi kira-kira, topik apa yang cocok ditulis oleh Oma Novia? Kalau nanti di saat itu, saya masih juga menulis kajian ilmu mantanologi, bisa-bisa pembaca muda akan salah paham dan menganggap: "Ada Oma-oma gagal move on seumur hidup. Tiap hari tulisannya cuma tentang mantan."
Lalu kira-kira, apakah puisi-puisi yang kelak saya tulis akan tetap sarat dengan rasa kerinduan? Entah rindu kepada siapa lagi, tapi mungkin ada seutas kerinduan pada masa muda yang akhirnya terasa manis untuk dikenang.
Lantas bagaimana dengan gaya cerpen masa depan yang kelak saya tulis? Masihkah saya mampu mempertahankan gaya cerita yang romantis? Jangan-jangan cerpen saya akan dianggap sebagai tulisan horor oleh pembaca.
Kira-kira lagi, masihkah saya telaten menulis dan membagikan resep masakan dengan tambahan bumbu informasi yang semakin bermanfaat bagi pembaca?
Kalau begitu, apa kabar tulisan humor saya? Semoga ketika itu, yang mulia Engkong Felix masih berkenan menjadi panutan bagi saya, agar humor saya tidak dianggap garing dan tetap bisa membuat pembacanya ngakak guling-guling.
Saya sendiri jadi penasaran, seperti apa hasil tulisan humor ala oma-oma judes dan ribet seperti saya. Kalau ada mesin waktu, rasanya saya ingin meluncur ke masa depan sekarang juga. Sebab saya juga penasaran, apakah saat itu teman-teman Kompasianer yang saya kenal saat ini, masih giat menulis juga?
Apa saat itu, Ayah Tuah masih perhatian untuk mengingatkan tulisan saya yang terkadang salah ejaan? Pertanyaan yang tak kalah penting, masihkah berlangsung perang "kasih sayang" yang penuh kehangatan antara Ayah Tuah dan Engkong Felix?
Entahlah, terlalu banyak pertanyaan lucu dan mengharukan yang tak mungkin dapat segera dijawab saat ini juga.
Sebelum sampai pada masa itu, saya akan berusaha untuk tetap menulis sebaik yang saya mampu. Sebab setiap tulisan hari ini adalah jejak kecil yang kelak bisa dibaca oleh cucu-cucu saya di masa depan.
Mungkin mereka akan tertawa membaca celotehan Omanya tentang mantan, atau terharu menemukan bagian yang ternyata juga mereka rasakan. Betapa indah jika tulisan ini bisa menjadi jembatan antara masa kini dan masa depan, antara saya hari ini dan mereka yang belum lahir saat ini.
Dan jika suatu hari nanti pembaca benar-benar menemukan nama Oma Novia bertengger di kolom headline, ketahuilah.. bahwa sesungguhnya itu bukan sekadar nama. Itu adalah bukti bahwa menulis dapat menembus usia, tren, bahkan gempuran generasi baru yang mungkin sudah menganggap kita kuno.