
Catatan perjalanan Hanna Rambe yang mengikuti Kartika Affandi, putri pelukis terkenal Affandi, dalam mencari objek lukisan. Dari Teluk Jakarta hingga Papua.
Pada suatu hari, Kartika meminta saya untuk membawa pakaian. Katanya, dia ingin melukis laut dan nelayan di tempat terpencil di Teluk Jakarta. Seorang temannya bersedia menyewakan rumah dan kapal bermotor selama beberapa hari.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kami berjanji bertemu di dermaga Bahtera Jaya jam 14.00. Selain pemilik kapal dan kami, ada juga beberapa peneliti pariwisata dari Daerah Khusus Ibukota. Namun, kami terlambat 15 menit karena larut belanja dan cuci mata di Jalan Sabang. Kartika marah-marah, mengatakan mereka sampai hati meninggalkan kami. Segala persiapan seperti kanvas, cat minyak, pakaian, dan makanan nyaris dilemparkan ke laut.
Saat itu, pertengahan tahun 1974, Kartika sedang dilanda badai batin. Dia sedang mengajukan perceraian dari suaminya, seorang pelukis yang dianggap menyakitinya, tapi pengadilan agama belum mengabulkan permohonannya.
Ketika tahu tidak ada wanita dalam rombongan, kami sedikit gembira. Artinya, teman Kartika tidak ikut. Kami langsung ke kantornya di Pasar Ikan, tetapi ternyata dia sudah pergi. Pegawainya tidak tahu ke mana.
Kartika lemas masuk mobil. Kami tidak tahu kemana. Saya enggan kembali ke rumah, malu. Dan Kartika malas kembali ke hotel yang telah dibayar. Sopir kami turunkan di depan stasiun Gambir. Dia harus pulang ke Yogya. Saat Kartika memegang kemudi, kekesalannya terlihat dari cara membawa mobil. Saya mengurut dada.
Kami duduk-duduk di halaman Taman Ismail Marzuki, bingung menggunakan waktu. Lalu muncul ide untuk mengunjungi pelukis Sriyani di rumahnya yang luas di Kemang, Kebayoran. Untungnya, nyonya rumah ada. Kami pun berbincang-bincang tentang perempuan.
Sriyani dan Kartika berdebat seru tentang untung ruginya memiliki suami. Sriyani tampak bahagia dalam keluarganya, sehingga pendapatnya penuh kasih sayang pada suami. Sebaliknya, Kartika yang baru disakiti hatinya, berkobar-kobar dendamnya. Saya yang belum pernah menikah, berusaha tidak memihak. Perdebatan itu menarik, banyak bahan tertawaan.
Studio Sriyani
Akhirnya Sriyani berhasil membuat Kartika tertawa lagi. Dan membujuknya supaya menginap saja. Kami berbincang sampai hampir subuh. Suami Sriyani agaknya “tahu diri”, sedikit pun tak mencampuri urusan kami bertiga.
Esok pagi setelah sarapan, tiba-tiba Kartika mendapat ilham. Kami tak jadi berkemas. Sebaliknya, membongkar bungkusan. Kartika asyik dengan cat minyaknya. Rupanya ruang duduk Sriyani yang rimbun, dengan pintu dan jendela berbentuk huruf U tanpa daunnya, sangat menarik hati seorang wanita. Selama dia bekerja, saya dan Sriyani berbincang atau membaca.
Ketika garis besar telah selesai, lukisan itu sedikit pun tak mirip dengan keadaan bendanya. Kata orang, gaya semacam itu namanya gaya ekspresionistis. Saya sendiri awam soal lukisan. Tapi perpaduan warnanya di kanvas, secara keseluruhan memang harmonis, dan menggelora.
Petangnya kami meninggalkan Sriyani yang baik dan berbahagia. Di jalan, bingung lagi hendak ke mana. Kartika hanya punya waktu meninggalkan anak-anaknya seminggu. Dalam seminggu itu dia ingin membuat lukisan paling sedikit 6, untuk pameran di Surabaya bulan berikutnya. Yang selesai baru sebuah, lalu kami beri nama “Studio Sriyani”.
Kami ke rumah kawannya si empunya kapal. Bukan kepalang terkejutnya nyonya ini waktu kami datangi petang itu. Dikiranya justru kami telah selesai melukis. Dia segera mengurus agar kami berangkat ke pasanggrahannya esok pagi. Malam itu kami menginap di Wisma Seni di Taman Ismail Marzuki, setelah mengalami kerusakan mesin di jalan.
Seperti tikus tersiram
Pagi-pagi esoknya mobil dititipkan di suatu tempat, kami ke dermaga naik taxi. Perjalanan nyaman, angin sejuk, sinar matahari cukup indah. Kami keliling pulau dan beberapa pulau tetangga sepanjang hari, untuk meneliti tempat yang akan dilukis besok. Oleh ketangkasannya, dia bisa menyelesaikan lima lukisan (garis besar). Yakni gambar perkampungan nelayan, perahu dari pantai, perahu dari laut dengan pulau sebagai latar belakang, sekumpulan ikan, dan sebuah lagi aku lupa.
Kami hanya tinggal dua malam, tapi pulang dengan hati puas. Pagi itu agak mendung, namun karena tak punya waktu lagi, kami berangkat juga. Apa lacur, di tengah laut waktu ombak besar dan hembusan angin dahsyat, mesin perahu mati.
Kami sebetulnya ingin menolong pengemudi, sayang tak tahu apa-apa. Kami mencoba menimba air di lantai (perahu tak beratap), tapi dua-duanya pusing kalau menunduk. Hati dag dig dug. Bahkan Kartika mulai mengenang keluarganya di Yogya. Saya merasa kurang enak. Satu-satunya pertolongan yang dapat kami lakukan hanyalah memegangi kemudi supaya perahu tetap membelah ombak, tak hanyut. Tubuh kami menggigil. Semua pakaian sampai yang di dalam sudah basah kuyup. Gigi gemeletuk menahan dingin.
Setelah terombang-ombing lima puluh menit, mesin hidup kembali. Sekalipun perut keroncongan, kami harus berlagak tidak dengar.
Kami memang tak dapat makan, karena derasnya percikan ombak dan hujan. Ketika mendarat di dermaga Bahtera Jaya di Sampur, semua orang memandang keheranan. Dari mana gerangan ini dua wanita, seperti tikus tersiram air layaknya? Untung mereka tidak merubungi kami.
Waktu melihat kanvas ditumpuk-tumpuk terbungkus plastik, mereka berkata satu sama lain: “Oh, barangkali ini dua orang pelukis". Kartika mencubit lenganku seraya tersenyum lucu. Kami mandi dan berdandan rapi di kamar mandi Bahtera Jaya, sekalipun rambut tetap seperti tikus tersiram air. Yang penting kami puas, karena telah menyelesaikan cukup lukisan untuk pamerannya di Surabaya.
Ada izin melukis?
Dalam pameran seni lukis Indonesia di Taman Ismail Marzuki, akhir 1974 aku bertemu lagi dengan Kartika. Lukisannya “Studio Sriyani” turut dipamerkan.
Seperti biasa kami mengobrol dengan asyiknya. Oleh karena perbedaan kegiatan, aku tidak bisa sering-sering mengikuti dia mengembara untuk melukis. Meskipun bagiku bepergian dengan Kartika sangat menyenangkan.
Kartika ingin punya tempat tersendiri dalam dunia seni lukis Indonesia, tanpa disangkut pautkan dengan ayahnya yang terkenal (pelukis Affandi) atau siapa pun yang menjadi suaminya. Terlepas dari pada penilaian tentang mutunya, dia giat sekali melukis. Dan lukisannya banyak disukai orang, seraya harganya pun lumayan. Di samping berkarya dan mencari nafkah, untuk anak-anaknya, dia ingin menggunakan sisa waktunya untuk perjuangan perbaikan hak-hak wanita. Tujuan ini lahir dari pengalamannya berkeluarga yang kurang serasi.
Dia menceritakan pengalamannya melukis di Tanah Toraja menjelang akhir tahun yang lalu. Waktu yang disediakannya hanya sehari untuk melukis, dua hari untuk perjalanan pulang pergi dari Ujung Pandang (sekarang Makassar, ed) ke Rantepao.
Kartika sangat tertarik kepada wanita-wanita gunung yang berkulit kuning bersih. Pagi-pagi mereka turun untuk menjual tuak di pasar. Dandannya juga agak aneh. Meskipun harus membawa barang-barang, kain sarungnya tidak diikat dipinggang melainkan ujungnya dia pegangi. Dia yang tidak biasa dengan pemandangan semacam ini, “ngeri” takut pegangannya terlepas….
Kaum wanita di sana membawa barang dalam tas yang bertali panjang, disangkutkan di kening atau ubun-ubun. Pagi itu dia mulai melukis pasar dengan segala kesibukannya. Sebuah tanah lapang yang luas hendak dijadikan latar belakang. Dia tak tahu lapangan itu tempat alat negara berlatih menembak.
Tiba-tiba datang polisi menanyakan surat jalan atau surat izin melukis. Kartika belum pernah mendengar adanya surat izin melukis. Dalam perdebatan selanjutnya, dia terpaksa “disimpan” dalam sel demi pengamanan dirinya, karena tak punya surat-surat melukis itu. Sebelumnya dia telah dibawa putar-putar ke sepuluh kantor mengurus “perkara” yang tak ketahuan ujung pangkalnya.
Kartika menangis menahan marah dan perasaan tersinggung. Di negeri sendiri orang harus masuk sel karena hendak melukis tempat yang dianggap indah. Amboi.
Sel tak punya kamar mandi atau wc. Dia harus pergi ke sungai untuk memenuhi panggilan alam. Pengawal mengikuti dia ke mana-mana, bahkan ke tepi sungai sehingga rikuhlah baginya untuk membuka celana panjangnya (baju kerjanya).
Keesokan harinya mereka harus ke Ujung Pandang, karena persoalan Kartika hanya bisa diselesaikan di sana. Gagallah rencana melukis Rantepao yang indah, dengan segala keistimewaannya. Tiket untuk terus ke Irian Jaya mengharuskan mereka berada di Ujung-pandang pada pagi hari berikutnya.
Sedianya akan naik bus umum (cocok untuk kaum wisatawan gaya hippie) ke sana. Tapi sudah ketinggalan bis. Terpaksa kawanku ini menyewa mobil Rp20.000. Di jalan perut lapar dan haus. Mereka berhenti makan. Bagi Kartika sebagai orang Timur terasa kurang pantas makan seorang diri sementara pengawalnya duduk termenung. Semua ditraktir olehnya.
Belum kapok
Tiba di Ujung Pandang jam 23.00. Tadinya dia harus menginap lagi di sel polisi sampai besok pagi. Atas desakannya, akhirnya mereka pergi ke rumah kepala Reskrim Ujung Pandang. Esok pagi subuh dia akan terus ke Irian.
Untunglah Kepala Reskrim yang didatangi seorang yang bijaksana. Tanpa banyak cingcong, sehabis membaca proses verbal dia langsung berkata: “Bebas!”
Secara kebetulan istrinya ingat pernah membaca tulisan tentang Kartika di sebuah majalah hiburan di ibukota. Begitu mengetahui wanita berstatus tahanan di hadapan mereka adalah pelukis Kartika Affandi, nyonya itu jadi sangat ramah. Bahkan ketika bekas “tahanan” minta diri, ditawarkan supaya mengulangi kunjungannya melukis, dan agar mengadakan pameran tunggal di Ujung Pandang.
“Aduuuh nyonya itu simpati sekali. Oleh keramahannya, saya lupa semua penderitaan dalam sel. Suatu hari saya pasti kembali ke Rantepao yang indah, untuk melukis. Saya tidak kapok", katanya tertawa keras.
Mengapa saya bodoh
Di Irian dia tinggal beberapa hari di Wamena (Lembah Baliem). Antara lain dia telah melukis penjual tomat di sana, dengan pura-pura membeli tomatnya semua seharga Rp200.
Esok paginya dia ke pasar. Banyak dijumpainya pria gagah, berdandan mengenakan hiasan bulu cendrawasih dan bulu kuskus, dan tubuh coreng moreng menuruti mode setempat. Mereka menemani atau menunggui istri masing-masing yang sibuk di pasar.
Pelukis wanita dari Yogya itu pun membujuk 4 pria (hampir tak berpakaian) untuk dilukis. Mereka setuju, dengan janji bayaran Rp1200 untuk duduk 2 jam. Entah apakah mereka itu sebenarnya mengerti apa yang diinginkan oleh si pelukis. Pendeknya berlima mereka berjalan beriringan dari pasar menuju ke penginapan Kartika. Polisi yang melihat iringan aneh ini menegur. Setelah jelas duduk perkaranya, pak polisi masih memberi peringatan: “Asal hati-hati saja ya, Bu, maklum pria melihat wanita!"
Sampai di rumah, mereka duduk di tanah. Kartika menyiapkan kanvas dan catnya. Wajah model-modelnya penuh tanda tanya memperhatikan perbuatannya. Untuk mempererat persahabatan dan menjalankan pekerjaan lukis-melukis, dia ingin memperlihatkan hasil lukisan tukang tomat kemarin.
Dia pun masuk, mengambil lukisan yang kemarin. Begitu mereka melihat lukisan penjual tomat, mereka langsung berteriak histeris seraya melarikan diri secepatnya.
Gagallah niat melukis empat pria Irian yang gagah dengan pakaiannya yang bersemarak. Kartika mengutuk diri sendiri. “Mengapa saya begitu bodoh? Sebetulnya sudah saja tak usah memperlihatkan lukisan pada mereka. Mungkin mereka kira saya ini dukun yang mau membuat patung musuh-musuhnya di atas kain putih, untuk nantinya digunakan maksud jahat. Entahlah".
Oleh-oleh dari Irian Jaya hanya penjual tomat itulah, dan beberapa lukisan lainnya yang dibuat sebelum kejadian tadi.
Dikira istri tukang sulap
Di Yogya dia pernah dikira istri tukang sulap di pasar ternak. Kartika dan beberapa kawan (semua pria) sedang mencari obyek yang akan dilukis. Tunjuk sana, tunjuk sini, ukur ini dan itu, menarik perhatian orang sepasar.
Lalu mereka ke mobil dan mengangkut peralatan yang diperlukan. Dia sendiri menjunjung kanvas yang telah diberi bingkai (sementara) di atas kepalanya. Kawan-kawan membantu dengan peralatan lainnya yang cukup repot.
Terdengar beberapa pedagang saling berbisik (tapi keras):
“Oh, ini mungkin rombongan tukang sulap mau main!"
Dan waktu melihat dia sendiri sibuk mengangkat benda yang kurang dikenal oleh penghuni pasar ternak, cepat mereka berkesimpulan:
“Lah, ini mesti istrinya tukang sulap. Mungkin bisa sulap juga”.
Setelah barang-barang selesai ditata, Kartika mulai sibuk dengan jari-jari dan cat minyaknya. Mereka mengerumuninya. Tak berapa lama keluar ucapan:
“Oh, ini bukan tukang sulap. Ini namanya pelukis, tapi perempuan!” dan mereka pun kembali ke tempat duduk semula untuk menunggui jualan masing-masing. Kartika ingin tertawa, tapi berpikir bijaksana untuk menahan diri.