
Inisiatif TFFF: Solusi untuk Perlindungan Hutan dan Keberlanjutan Ekonomi
Inisiatif pendanaan Tropical Forest Forever Facility (TFFF) resmi diluncurkan dalam konferensi iklim tingkat tinggi COP30 di Belem, Brasil. Inisiatif ini bertujuan mengumpulkan dana sebesar US$ 125 miliar atau setara dengan Rp 2.088 triliun untuk pendanaan perlindungan hutan hujan dunia. Dengan pendanaan yang besar ini, diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat yang tinggal di daerah hutan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai inisiatif Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva ini menjadi model yang bisa diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Menurutnya, TFFF berpotensi mengurangi emisi karbon secara signifikan, sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat adat yang menjadi penjaga hutan.
“Kondisi tersebut hanya akan tercapai jika masyarakat adat terlibat secara bermakna, bukan sekadar keputusan elit pemerintah dan mitra nasional,” ujar Bhima dalam pernyataannya.
Pendanaan TFFF menggunakan skema result-based payments bagi negara-negara hutan tropis yang berhasil menurunkan deforestasi. Sebanyak 20% dari dana tersebut dialokasikan khusus untuk masyarakat adat dan komunitas lokal, sehingga mereka bisa merasakan manfaat langsung dari inisiatif ini.
Dukungan Global untuk Inisiatif TFFF
Sebanyak 53 negara mendukung inisiatif TFFF dalam COP30, dengan memberikan komitmen dana sebesar US$ 5,5 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa isu perlindungan hutan telah menjadi prioritas global dalam upaya menghadapi perubahan iklim.
Di sisi lain, pemimpin dunia juga menyampaikan perhatian terhadap melemahnya konsensus iklim selama Leaders Summit COP30. Sementara itu, Indonesia menegaskan komitmennya dalam aksi iklim di COP30, yang menunjukkan keseriusan negara dalam menjaga lingkungan.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (JustCOP) melihat inisiatif TFFF selaras dengan kondisi Indonesia. Pasalnya, masih banyak masyarakat adat yang kehilangan hutan, ruang hidup, sumber pangan, serta identitas budaya akibat industri perusak lingkungan.
Direktur Eksekutif Yayasan MADANI Berkelanjutan Nadia Hadad, yang tergabung dalam JustCOP bersama Bhima, meminta pemerintah memastikan bahwa pendanaan iklim yang diadvokasi secara global benar-benar sampai kepada komunitas penjaga hutan dan ekosistem.
“Bukan hanya melalui proyek besar yang rawan greenwashing,” tambahnya.
Perubahan Fundamental untuk Kelompok Rentan
Country Director Greenpeace untuk Indonesia, Leonard Simanjuntak, menekankan pentingnya perubahan fundamental dalam kebijakan pemerintah agar masyarakat adat dan kelompok rentan merasakan manfaat dari pendanaan iklim yang adil.
Salah satu perubahan yang dimaksud adalah tidak lagi meloloskan industri ekstraktif dan melanggengkan deforestasi secara terencana. Ia menilai, dua kalimat kunci Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di COP30 harus menjadi pegangan utama. “Ini bukan sekadar tentang suhu. Ini tentang kelangsungan hidup manusia, hutan, dan masa depan,” ujar Guterres dalam pidatonya di Belem, Brasil, Kamis (6/11).
Sejalan dengan hal itu, Bhima melihat praktik kolonialisme alam dan industri ekstraktif perusak hutan masih mendapat pendanaan lebih besar dibandingkan pendanaan iklim. Ia menegaskan, jika praktik tersebut terus dilanggengkan, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan melewatkan kesempatan emas untuk tumbuh secara berkelanjutan.