Kabar Merger GOTO dan IPO Anak Usaha EMTK, Tantangan Teknologi 2026

admin.aiotrade 17 Nov 2025 3 menit 21x dilihat
Kabar Merger GOTO dan IPO Anak Usaha EMTK, Tantangan Teknologi 2026


Jakarta, indeks sektor Teknologi di IDX terus menunjukkan kinerja yang kuat. Hingga akhir perdagangan Jumat (14/11/2025), indeks sektoral ini mencatat penguatan tertinggi sepanjang tahun ini dengan kenaikan sebesar 157,96% secara year to date.

Penguatan ini tidak lepas dari pergerakan saham-saham besar di sektor teknologi. Salah satunya adalah saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang mengalami kenaikan sebesar 521,85% secara year to date hingga Jumat (14/11/2025). Kenaikan ini menjadi indikasi bahwa sektor teknologi masih menjadi incaran investor.

AioTrade Autopilot
πŸ”₯ SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, beberapa saham lain dalam kelompok sektor teknologi juga mendapat sentimen positif. Misalnya, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang naik 150% pada tahun ini hingga Jumat (14/11/2025) ke posisi Rp 1.230. Dengan kenaikan ini, kapitalisasi pasar EMTK mencapai Rp 75,51 triliun.

Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga saham EMTK adalah rencana IPO entitas usahanya, Superbank, yang semakin santer. Rencana ini menjadi salah satu isu yang memengaruhi pergerakan saham EMTK.

Di sisi lain, rencana merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab juga menjadi sentimen bagi saham GOTO. Dalam sepekan terakhir, saham GOTO menguat 6,56%. Namun, hingga saat ini belum ada skema pasti yang diumumkan oleh kedua pihak.

Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa ia belum bisa memberikan komentar lebih lanjut mengenai isu merger tersebut karena skema masih kompleks dan belum jelas. Ia menyarankan investor untuk menurunkan ekspektasi terlebih dahulu.

Sementara itu, Fath menilai kinerja EMTK akan didukung oleh kinerja anak-anak usahanya. Contohnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 5,04 triliun per September 2025. Laba bersih SCMA tumbuh 16,14% secara tahunan menjadi Rp 591,57 miliar.

β€œAnak-anak usaha EMTK mengalami kenaikan kinerja dari bottom line dan operating cash flow yang positif. Jika tren ini konsisten hingga tahun depan, prospek positif bisa berlanjut,” ujar Fath.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa rencana IPO Superbank dan merger GOTO-Grab bisa menjadi katalis tambahan untuk mendorong kembali kinerja indeks sektor Teknologi di 2026. Ia menilai, jika dua aksi korporasi strategis ini bisa berjalan, akan mendapat respon positif dari investor.

Namun, sampai saat ini, skema merger antara GOTO dan Grab masih dalam tahap negosiasi. Nafan mencermati bahwa aksi korporasi ini belum sampai ke tahap lebih lanjut.

Meski begitu, Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham EMTK dengan target harga Rp 1.430. Ia juga merekomendasikan add untuk saham GOTO dengan target harga Rp 74.

Secara umum, Nafan menilai saham-saham di sektor teknologi masih prospektif hingga tahun depan. Hal ini karena adanya sentimen positif dari penurunan suku bunga acuan.

Sebagai informasi, emiten teknologi merupakan sektor yang sedang berkembang. Artinya, perusahaan-perusahaan di sektor ini masih dalam tahap ekspansi, yang membutuhkan modal besar. Salah satu sumber modal adalah kredit perbankan. Oleh karena itu, jika suku bunga naik, beban bunga yang harus ditanggung oleh perusahaan teknologi akan meningkat.

EMTK Chart
by TradingView

Nafan menjelaskan bahwa potensi konsumsi domestik yang tinggi di layanan e-commerce dan penurunan efek biaya akibat penurunan suku bunga acuan akan mendorong prospek emiten teknologi.

Hingga akhir tahun ini, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI Rate sebanyak lima kali. Terakhir, BI menetapkan BI Rate menjadi 4,75% pada Oktober 2025.

Fath menimpali bahwa ketika kondisi global mendukung, valuasi perusahaan akan mengalami kenaikan. Apalagi dengan tren penurunan suku bunga, emiten teknologi dengan cash flow positif, terutama operational cash flow, akan menjadi fokus investor.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan