
Penampilan Menjanjikan di Korea Masters 2025
Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, tunggal putri Indonesia, mengevaluasi penampilannya setelah berhasil mencapai semifinal Korea Masters 2025. Dalam debutnya di ajang bulu tangkis bertaraf BWF World Tour Super 300, Dhinda menunjukkan perjuangan hebat dan memberikan penampilan yang mengesankan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dhinda menghadapi unggulan pertama Chiu Pin-Chian asal Taiwan dalam laga yang berlangsung di Wonkwang University Cultural and Sports Center, Iksan, Korea Selatan, pada Sabtu (8/11/2025). Meskipun hampir meraih kemenangan, dia akhirnya kalah dengan skor 21-19, 19-21, 8-21.
“Di game pertama saya bermain all out aja dan asal masuk dulu,” kata Kadek Dhinda menjelaskan strategi yang digunakan. “Lawan juga banyak mati sendiri terus nafsu untuk buru-buru matiin.”
Menurut Dhinda, kemenangan di gim pertama diraih karena ia mampu menahan lawan dengan skor tipis 21-19. Namun, peluang untuk merebut tiket final sempat terbuka ketika Dhinda berhasil mengejar poin krusial pada gim kedua, yaitu 18-19 dan kemudian 19-20. Sayangnya, kesempatan tersebut terlepas.
“Di game kedua poinnya kejar-kejaran dan mepet terus di poin-poin akhir. Lawan kasih bola di belakang kiri saya dan bola lob nya itu menyerang dan dalam-dalam banget,” ujarnya. “Jadi banyak pengembalian saya yang melebar dan lawan dapat poin dengan mudah.”
Pada gim ketiga, Dhinda sudah kehabisan bensin dan itulah alasan dia kalah telak dengan skor 1 digit. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik yang tidak optimal. “Game ketiga saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun ada kendala di kaki saya yang terkena kapalan dan memang udah cape juga, nafas juga sudah tidak beraturan.”
Dhinda juga menyebutkan bahwa dari babak pertama, dia selalu bermain selama tiga gim di setiap pertandingan. Durasi 70 menit di semifinal menjadi yang terpendek dalam turnamen ini.
Meski gagal melaju ke final di turnamen perdananya pada level Super 300, Dhinda sangat senang dapat mengambil banyak pelajaran berharga. Minggu depan, dia akan kembali beraksi pada Kumamoto Masters 2025 yang juga akan jadi debutnya di ajang Super 500.
“Senang bisa dikasih kesempatan buat melangkah ke babak semifinal,” katanya. “Evaluasi dari Korea Masters 2025, musuhnya kuat-kuat dan gak gampang mati jadi saya mau kuatin lagi dari fisiknya, variasi pukulan dan power.”
“Karena kalau hanya mengandalkan fisik aja akan susah kalau ada di level ini,” tambahnya. “Akan bermain di Kumamoto Masters saya bakal main all out karena ini pertama kalinya saya bermain di super 500.”
Tak lupa pemain asal Bali itu juga menghaturkan terima kasih kepada para penggemar yang selama ini mendukungnya baik secara langsung di venue maupun secara daring.
“Untuk masyarakat Indonesia terima kasih udah banyak kasih support, masukan dan semangatnya buat saya.”
“Semoga saya bisa menjadi lebih kuat lagi kedepannya,” kata Dhinda memungkasi.