
Festival Pinisi: Dari Budaya ke Aset Ekonomi
Di tepi pantai yang bersih, suara riuh tambur dan tarian laut mengiringi layar-layar Pinisi yang berlabuh. Namun bagi Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel sekaligus Ketua Umum (Caretaker) KADIN Bulukumba, Festival Pinisi bukan hanya sekadar pesta budaya. Ia melihatnya sebagai denyut ekonomi baru yang mampu menggerakkan perut dan dompet masyarakat Bulukumba.
“Budaya Pinisi adalah identitas dan kebanggaan kita. Tapi lebih dari itu, ia juga bisa menjadi kekuatan ekonomi baru. KADIN siap mengawal agar festival ini melahirkan peluang kerja, peluang usaha, dan membuka akses pasar bagi UMKM Bulukumba,” ujar Syafruddin, Rabu 23 Oktober 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dari Simbol ke Aset Ekonomi
Festival Pinisi selama ini dikenal sebagai perayaan tradisi pelaut Bugis-Makassar yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Namun Syafruddin menilai, makna itu perlu naik kelas dari sekadar simbol budaya menjadi aset ekonomi.
Ia menjelaskan, festival ini idealnya diarahkan menjadi ajang promosi ekonomi dan investasi daerah dengan menampilkan potensi unggulan Bulukumba: mulai dari pariwisata, produk perikanan kelautan, hingga pertanian, perkebunan, dan industri kreatif UMKM.
“Kita memiliki sumber daya besar di sektor maritim dan pariwisata. Festival ini seharusnya menjadi etalase yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan investor, wisatawan, dan mitra strategis dari luar daerah,” jelasnya.
KADIN dan UMKM: Sinergi Arah Baru
KADIN Bulukumba kini tengah mendorong agar dunia usaha tidak hanya hadir sebagai penonton. Melalui pameran dagang, promosi UMKM, hingga forum bisnis, mereka ingin setiap momentum festival membawa dampak ekonomi langsung.
“Kami ingin memastikan setiap kegiatan yang dilakukan memiliki dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Semakin banyak orang datang, semakin besar perputaran uang di Bulukumba,” tegas Syafruddin.
Baginya, Festival Pinisi bukan sekadar acara tahunan, tapi peluang untuk menata ulang strategi ekonomi lokal. “Kita harus memanfaatkan atensi nasional dan internasional terhadap Pinisi untuk mengangkat kelas pelaku usaha kecil kita,” tambahnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Di akhir pernyataannya, Syafruddin menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas budaya, hingga generasi muda.
“KADIN siap bermitra dengan Pemkab Bulukumba dan seluruh pemangku kepentingan. Kita punya tanggung jawab bersama untuk menjadikan Pinisi bukan hanya simbol kebanggaan, tapi juga sumber kesejahteraan,” tutupnya.